Kumparan Logo

Sedang Bersepeda di Dekat Rumah, Anak Ini Tertabrak Motor hingga Kejang

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak ditabrak. Foto: Jan H Andersen/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak ditabrak. Foto: Jan H Andersen/Shutterstock

Kecelakaan yang dialami anak terkadang tidak langsung menunjukkan gejala serius. Kondisi ini juga dialami Sky (7 tahun), anak pertama dari seorang ibu bernama Caroline Pramantie.

Sky mengalami kecelakaan setelah ditabrak sepeda motor saat menyeberang di dekat taman kawasan rumahnya. Saat kejadian, Sky ditemani pengasuh yang mengira anak tersebut hanya terjatuh karena tidak mengetahui adanya kendaraan yang menabraknya.

Sesampainya di rumah, sang ibu hanya melihat luka ringan di tangan Sky. Saat ditanya apakah merasa pusing atau kepalanya terbentur, Sky juga menjawab tidak.

instagram embed

Orang tua Sky bahkan sempat mengecek rekaman CCTV untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya. Namun, mereka tidak menemukan rekaman yang dapat membantu memperjelas kecelakaan tersebut.

Sekitar 30 menit kemudian, kondisi Sky tiba-tiba memburuk. Pandangannya terlihat kosong dan ia mengalami kejang pada satu sisi tubuh. Bibirnya juga tampak miring ke kiri, mulut berbusa, hingga akhirnya kehilangan kesadaran. Sky kemudian segera dilarikan ke IGD.

Didiagnosis Gegar Otak dan Dirawat di PICU

Ilustrasi ibu menemani anak sakit. Foto: Shutterstock

Sesampainya di rumah sakit, dokter menemukan benjolan besar di bagian kanan kepala Sky. Ia kemudian didiagnosis mengalami concussion atau gegar otak dan menjalani perawatan selama sekitar satu minggu di Pediatric Intensive Care Unit (PICU).

“Selama di RS nggak diterapi gimana-gimana, cuma pengobatannya dikasih antibiotik sama obat anti kejang,” ucap sang ibu kepada kumparanMOM beberapa waktu lalu.

Dokter juga melakukan pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG) untuk merekam aktivitas listrik atau gelombang otaknya, mengingat Sky sempat mengalami kejang pada satu sisi tubuh.

instagram embed

Kini kondisi Sky berangsur membaik. Namun, ia masih belum diperbolehkan kembali bersekolah.

Anak Tampak Baik-baik Saja Setelah Benturan, Apakah Aman?

Menanggapi kasus tersebut, Dokter Spesialis Anak, dr. Aisya Fikritama, Sp.A, menjelaskan bahwa anak tetap perlu dipantau setelah mengalami benturan kepala meski awalnya tampak baik-baik saja.

Orang tua dapat memeriksa bagian kepala yang terbentur, termasuk apakah terdapat jejas atau memar, benjolan atau pembengkakan, luka, maupun perdarahan. Namun, orang tua perlu segera membawa anak ke IGD apabila muncul tanda-tanda bahaya, yakni:

Anak ingin muntah. Foto: Shutterstock

- Penurunan kesadaran

- Kejang

- Muntah berulang

- Sakit kepala yang semakin berat

- Mengantuk berlebihan

- Bingung atau perubahan perilaku

- Gangguan penglihatan/keseimbangan

- Keluar darah/cairan dari hidung maupun telinga

“Terlebih bila benturan terjadi akibat kecelakaan lalu lintas atau mekanisme benturan cukup keras. Anak yang terlihat baik-baik saja sesaat setelah kecelakaan belum tentu berarti tidak mengalami cedera kepala serius. Beberapa gejala dapat muncul beberapa waktu kemudian,” ucap dr. Aisya saat dihubungi kumparanMOM, Selasa (11/8).

Ilustrasi anak sakit kepala. Foto: Shutterstock

Kenali Tanda Gegar Otak pada Anak

Menurut dr. Aisya, tanda gegar otak dapat berupa sakit kepala, pusing, mual atau muntah, gangguan keseimbangan, hingga penglihatan kabur.

Anak juga bisa menjadi lebih sensitif terhadap cahaya atau suara, tampak bingung atau melamun, sulit berkonsentrasi, memberikan respons lebih lambat, mengalami perubahan perilaku, hingga perubahan pola tidur.

Ilustrasi Balita Menangis Foto: AJP/Shutterstock

Sementara pada bayi dan balita, tanda-tandanya dapat lebih samar. Misalnya, anak menjadi lebih rewel, tidak mau makan atau minum, tidak tertarik bermain, atau tampak berbeda dari biasanya.

“Jadi, setelah benturan kepala, orang tua jangan hanya melihat ada atau tidaknya luka di luar. Pantau juga kesadaran, perilaku, dan kondisi neurologis anak. Bila muncul tanda bahaya, segera ke IGD,” pungkas dr. Aisya.

kumparan post embed