Survei: Psikologis Anak yang Belajar dari Rumah Lebih Stabil

Sejak Maret 2020, pemerintah memutuskan bahwa kegiatan belajar tidak lagi dilakukan di sekolah, melainkan di rumah. Hal ini, dilakukan untuk mencegah penularan virus corona kepada anak selama masa pandemi. Keputusan tersebut juga sesuai dengan surat edaran yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) kala itu.
Namun, pemerintah membuat peraturan baru pada 20 November 2020, bahwa kegiatan pembelajaran tatap muka boleh dilakukan di semester genap 2020/2021 atau mulai Januari 2021. Pembelajaran tatap muka ini sebenarnya bukan diwajibkan, karena semuanya bergantung dengan keputusan pemerintah daerah.
Selain itu, orang tua juga merupakan pengambilan keputusan terpenting. Apabila sekolah anak dibuka tapi orang tua belum mengizinkan anaknya untuk belajar tatap muka, maka boleh-boleh saja si kecil belajar di rumah.
Survei Ikatan Psikolog Klinis soal Dampak Belajar dari Rumah pada Anak
Terkait hal itu, Ikatan Psikolog Klinis atau IPK membuat survei kepada 15.304 anak sekolah di 32 Provinsi di Indonesia, baik SD, SMP, SMA, dan SMK. Hal tersebut didasari kekhawatiran akan meningkatnya masalah psikologis yang dialami siswa dan terjadinya pembelajaran yang tidak maksimal akibat belajar dari rumah yang berkepanjangan.
Penelitian ini dilakukan dengan pengukuran pada aspek kesehatan mental dengan cara membandingkan kondisi psikologis tiga kelompok anak sekolah yang dibedakan berdasarkan cara belajar, yaitu belajar dari rumah (BDR), tatap muka (TM), dan campuran BDR-TM.
Sementara itu, pengukuran tingkat kondisi psikologis siswa dilakukan dengan menggunakan 3 skala, yaitu Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ) untuk mengukur masalah emosi dan perilaku, Children’s Revised Impact of Event Scale-13 (CRIES-13) untuk mengukur gejala trauma, Psychological Well-Being Scale-18 (PWB-18) untuk mengukur kesejahteraan psikologis.
Hasil Survei Kondisi Psikologis Anak
Menurut survei IPK, kondisi psikologis siswa yang mengikuti belajar dari rumah relatif lebih baik dibandingkan mereka yang mengikuti pembelajaran secara tatap muka maupun campuran belajar dari rumah dan tatap muka. Belajar dari rumah juga tidak menimbulkan stres yang lebih tinggi dibandingkan metode pembelajaran lainnya.
Lalu, berdasarkan temuan dari hasil-hasil penelitian IPK sebelumnya, kondisi psikologis siswa saat pandemi ini tidak berbeda dari kondisi sebelum pandemi. Dari hasil survei ini, IPK memberikan beberapa rekomendasi, yaitu:
Meminta kepada pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk menunda pembelajaran tatap muka dan melanjutkan pembelajaran belajar dari rumah (BDR) hingga tingkat infeksi COVID-19 kurang dari 5% sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sehingga, dampak buruk BDR terhadap kondisi psikologis siswa tidak dapat dijadikan alasan pembukaan sekolah, karena hal ini tidak terbukti.
Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu meningkatkan kapasitas dan keterampilan para guru dalam hal pengelolaan kelas dan penyampaian materi belajar yang sesuai dengan pembelajaran BDR. Guru juga perlu ditingkatkan kapasitasnya agar dapat memberikan dukungan psikososial bagi para siswa. Lalu, memberikan bantuan pada orang tua atau pendamping belajar anak selama BDR, agar lebih mudah memahami proses belajar yang sedang dijalani anak.
