Kumparan Logo

Tanda Anak Overstimulasi saat Liburan dan Cara Menghadapinya

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi keluarga mengisi liburan di rumah. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keluarga mengisi liburan di rumah. Foto: Shutter Stock

Liburan sekolah dan momen akhir tahun sering dinanti sebagai waktu berkualitas bersama keluarga. Namun bagi sebagian anak, masa liburan justru terasa melelahkan. Jadwal yang berubah, rumah yang lebih ramai, suara musik, lampu dekorasi, hingga aktivitas yang bertumpuk bisa membuat anak kewalahan.

Dikutip dari lama Parents, kondisi ini dikenal sebagai overstimulasi atau sensory overload. Ya, Moms, overstimulasi terjadi ketika anak menerima terlalu banyak rangsangan sekaligus sehingga sistem sarafnya kesulitan memproses semua input tersebut. Situasi ini sering muncul saat liburan karena anak terpapar lingkungan yang berbeda dari rutinitas hariannya.

Tanda-Tanda Anak Overstimulasi

Ilustrasi bayi menangis atau rewel. Foto: Shutter Stock

Tanda-tanda ini bisa bervariasi menurut usia dan temperamen anak, tapi umumnya termasuk:

  • Rewel atau menangis tanpa sebab yang jelas.

  • Mudah marah atau tantrum.

  • Menutup telinga atau menghindari keramaian.

  • Sulit fokus atau terlihat menarik diri.

  • Menjadi lebih sensitif terhadap suara dan cahaya.

Cara Mencegah Overstimulasi Saat Liburan

Beberapa cara ini bisa mencegah anak overstimulasi saat liburan:

  1. Jaga rutinitas inti seperti jam tidur dan makan.

  2. Sisipkan waktu jeda di antara aktivitas liburan.

  3. Beri tahu anak sebelumnya tentang rencana kegiatan.

  4. Tidak memaksakan anak mengikuti semua acara.

  5. Pulang lebih awal jika anak terlihat lelah.