Tips Agar Anak Tidak Jadi Pelaku Maupun Korban Bullying di Sekolah
·waktu baca 4 menit

Sampai saat ini, kasus bullying di sekolah masih perlu mendapatkan perhatian khusus, baik dari pihak sekolah maupun orang tua. Ya Moms, keduanya memiliki peran penting untuk membantu anak yang menjadi korban penindasan, baik yang dilakukan secara fisik, verbal, dan psikologis. Selain itu, jika hal ini dibiarkan begitu saja, maka bisa mengganggu kesehatan mental ataupun psikis anak.
Sayangnya, kasus perundungan ini masih terjadi di beberapa institusi pendidikan, salah satunya di SMA Labschool Cibubur. Kasus itu kembali viral di media sosial Twitter setelah diungkap oleh akun twitter @Kanato235. Rupanya, kasus bullying ini sudah terjadi sejak Agustus 2021, tetapi belum diusut tuntas oleh pihak sekolah.
“Pemukulan di SMA Labschool Cibubur [A thread]. Kejadian ini sebenarnya sudah lama, sekitar Agustus 2021, tapi akan saya angkat lagi karena kasusnya belum selesai,” tulis akun tersebut pada 16 September 2022.
Berdasarkan keterangan akun tersebut, kemungkinan pihak sekolah tidak berani menindaklanjuti kasus tersebut lantaran orang tua pelaku merupakan donatur besar di sekolah. Tak hanya itu, menurut tokoh pendidikan sekaligus pendiri Labschool, Arief Rahman, kasus ini merupakan hal yang wajar akibat kenakalan remaja yang umum terjadi.
“Kepala sekolahnya pun tidak tahu harus apa. Jadi SMA Labschool Cibubur ini tidak berani menindak murid yang orang tuanya tajir, karena mereka merupakan donatur besar untuk sekolah. Kebetulan orang tua dari pelaku ini orang kaya. Bahkan, pak Arief Rahman, sebuah tokoh pendidikan dan pendiri dari Labschool mengatakan bahwa kejadian ini merupakan ‘kenakalan remaja biasa’,” ungkap akun @Kanato235.
Oleh karena itu, pihak sekolah dan orang tua penting untuk selalu menghimbau anak agar menghindari segala bentuk tindakan dan kekerasan yang dapat melukai fisik dan mental seseorang. Sebab perilaku buruk ini dapat terus berlanjut hingga usia dewasa. Lantas, apa yang bisa dilakukan oleh orang tua ataupun pihak sekolah?
Cara Didik Anak Agar Tak Jadi Pelaku Bullying
Menurut Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga dari Tiga Generasi, Ayoe Sutomo, sebenarnya perilaku bullying sudah bisa diketahui sejak masa kecil. Tanda-tanda perilaku ini bisa dilihat dari perilaku sehari-hari anak.
“Biasanya, anak punya kecenderungan untuk agresif, kurang empati terhadap orang lain, punya kesulitan dalam relasi intrapersonal, kemudian juga seperti memiliki kontrol diri yang kurang gitu, sehingga saat berhadapan dengan satu situasi tertentu berpotensi melakukan bully terhadap anak-anak yang lain,” kata Ayoe, saat dihubungi kumparanMOM, Kamis (6/10).
Cara Didik Anak Agar Tak Jadi Korban Bullying
Selain pada pelaku, beberapa perilaku korban bullying sebenarnya juga bisa diketahui. Ya Moms, sebagian besar korban bullying memiliki perilaku berbeda dengan anak-anak lainnya, baik dalam aspek fisik, kemampuan akademis dan ekonomi, serta keterampilan yang dimilikinya. Saat di sekolah, anak yang menjadi korban bullying cenderung lebih suka menyendiri karena kurang memiliki keterampilan interaksi sosial.
“(Korban bully) biasanya beda yang berlebih sekali atau kurang sekali, intinya memiliki sesuatu yang terkesan atau dilihatnya berbeda dengan anak lainnya,” tambah Ayoe.
Untuk menghindari hal tersebut, Ayoe mengungkapkan, peran orang tua sangat diperlukan dan sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Misalnya, membantu anak agar memiliki rasa empati yang tinggi, membekali kemampuan untuk menahan dan mengontrol diri, serta mempunyai kemampuan dalam berinteraksi sosial. Orang tua juga perlu menerapkan pola asuh yang disiplin, penuh kasih, dan selalu membangun komunikasi dengan anak. Dengan seperti itu, perasaan emosional si kecil akan terasa cukup, terpenuhi, aman, dan berharga.
“Jelas kalau kita sudah menemukan ada karakter-karakter tersebut dalam anak-anak kita, ada baiknya kita melakukan pengasuhan yang sifatnya tepat untuk membantu anak menjadi lebih empati. Sehingga anak merasa cukup penuh secara emosi atas relasinya dengan orang tua, anak merasa cukup aman, anak merasa tervalidasi, cukup merasa berharga,” ungkap Ayoe.
Selain itu, orang tua juga penting untuk mengajarkan anak agar dapat mengelola emosinya di berbagai situasi. Bahkan, anak juga perlu dibekali agar mempunyai keterampilan sosial yang baik dan ketegasan dalam menghadapi situasi tertentu, sehingga tidak rentan menjadi korban bullying.
Meski demikian, pihak sekolah juga perlu membantu orang tua dalam mengatasi perilaku dan situasi tersebut. Bukan hanya untuk salah satu pihak saja, melainkan juga keduanya. Sebab bagi pelaku ataupun korban, keduanya sama-sama membutuhkan support psikologi agar dapat memperbaiki perilaku yang kurang tepat.
“Sekolah perlu melakukan pendekatan baik dengan pelaku maupun korban. Kenapa harus keduanya? Karena untuk keduanya, bagi untuk pelaku maupun korban sama-sama membutuhkan support psikologi untuk kemudian memperbaiki perilaku yang kurang tepat,” jelas Ayoe.
Ya Moms, pelaku bullying juga perlu dilakukan pendekatan untuk mengetahui penyebab ia melakukan hal tersebut. Sebab penyebab anak melakukan bullying pun bisa bermacam-macam, mulai dari dendam pribadi, iri hati, perilaku korban yang tidak disukai, atau sekedar bercanda. Sehingga pada akhirnya, baik pihak sekolah maupun orang tua, dapat mengetahui hal tersebut dan diatasi dengan cara yang tepat.
Ayoe menambahkan, sangat penting bagi pihak sekolah membuat kebijakan yang tegas terhadap kasus bullying yang terjadi. Pasalnya, perundungan ini berpotensi untuk terjadi turun temurun bila tidak segera di atasi. Tak ada salahnya juga untuk membuat program-program yang melibatkan seluruh anggota sekolah untuk mendeklarasikan bebas bullying, baik di lingkungan sekolah atau pun rumah.
