Tips Membangun Keluarga yang Harmonis dan Bahagia
·waktu baca 3 menit

Memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia rasanya menjadi impian banyak orang. Namun, perlu dipahami bahwa hal itu tidak terjadi begitu saja, melainkan butuh usaha. Ya Moms, dibutuhkan andil dari semua anggota keluarga, yaitu orang tua dan anak untuk menciptakan hubungan yang baik dan harmonis.
Perlu dipahami juga bahwa keluarga yang harmonis dan bahagia bukan berarti tidak pernah memiliki masalah. Namun, ketika sesekali mempunyai masalah, mereka bisa menyelesaikannya dengan bijaksana.
Ya, ibu dan ayah mungkin setuju bahwa membangun keluarga bahagia bukanlah pekerjaan mudah. Namun sebagai orang tua, ibu dan ayah memiliki peran paling penting untuk mewujudkannya. Lantas, bagaimana caranya?
Apa yang Bisa Dilakukan untuk Membangun Keluarga yang Harmonis?
Hargai keberadaan masing-masing
Menurut konselor hubungan dan keluarga di New York, Rabbi Shmuley Boteach, inti dari keluarga yang harmonis adalah ketika mereka memperlakukan satu sama lain dengan baik dan menghargai keberadaannya.
“Ada kegembiraan yang menjadi ciri interaksi mereka. Saat orang tua pulang, anak-anak senang melihat mereka, dan ketika anak-anak pulang orang tua pun senang melihatnya,” ungkap Rabbi seperti dikutip dari Web MD.
Saling bertukar cerita
Perasaan bosan yang dialami orang tua atau anak sering kali menjadi bumerang dalam hubungan keluarga. Hal ini bisa menyebabkan konflik antara orang tua atau keengganan anak-anak untuk bersama ayah dan ibunya di rumah. Oleh karena itu, penting untuk memelihara hubungan keluarga dengan berkomunikasi dan saling bertukar cerita setiap harinya.
“Ketika anak-anak pulang, tanyakan pada mereka apa yang terjadi di sekolah. Ketika Anda pulang usahakan ada sesuatu yang dibawa untuk dibagikan pada keluarga misalnya saja cerita,” lanjut Rabbi.
Rutin makan malam bersama
Makan malam bersama merupakan aktivitas sederhana yang dapat meningkatkan bonding di antara anggota keluarga. Rabbi menyarankan agar keluarga menyempatkan makan malam bersama setidaknya empat kali dalam satu minggu.
“Makan malam keluarga sangat penting. Ini akan membuat anggota keluarga saling terhubung,” ujar Rabbi.
Membangun rutinitas dan menghormati
Rutinitas diciptakan agar semua anggota keluarga dapat melakukannya bersama sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan rasa tanggung jawab untuk senantiasa menghormati rutinitas yang sudah ditetapkan sebelumnya. Jadi, sebaiknya anggota keluarga tidak meninggalkan rutinitasnya untuk aktivitas lain ya, Moms.
“Keluarga yang bahagia memiliki rutinitas yang bermakna. Mereka mungkin mempunyai rutinitas unik seperti sarapan roti di pagi hari, makan pizza setiap minggu, atau menyanyikan satu lagu kesukaan bersama. Rutinitas ini cenderung mendekatkan anggota keluarga karena akan terus berulang,” kata profesor dan ketua psikologi di Syracuse University, New York, Barbara Fiese, PhD.
Hindari bertengkar di depan anak
Konflik yang menyebabkan pertengkaran antara ibu dan ayah sangat mungkin terjadi. Hal ini juga wajar dalam kehidupan rumah tangga. Namun, penting bagi ibu dan ayah untuk bersikap bijak agar pertengkaran mereka tidak melibatkan anak-anaknya sebagai penonton. Sebab, situasi konflik ini bisa mempengaruhi psikologis anak sekaligus menurunkan kualitas bonding di dalam keluarga.
“Jika anak-anak tidak sengaja melihat pertengkaran Anda, cobalah untuk minta maaf dan katakan, kami minta maaf kamu harus melihatnya. Ayah dan ibu baru saja berselisih tapi semuanya baik-baik saja sekarang,” pungkas Barbara.
