Umur Berapa Anak Bisa Kelola Emosinya?

6 Agustus 2022 20:01
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi anak emosi. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak emosi. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Tak hanya kecerdasan akademik, kecerdasan emosional anak juga perlu mendapat perhatian orang tua. Ya, anak yang cerdas secara emosional kelak akan mampu menentukan sikap saat menghadapi berbagai situasi.
ADVERTISEMENT
Namun, anak-anak yang masih terlalu kecil umumnya belum paham soal konsep kecerdasan emosional. Bahkan, mereka juga belum mengerti arti perasaan yang dimiliki selama ini. Oleh sebab itu, ibu dan ayah mungkin sering menemukan anak-anak, terutama balita yang emosinya masih naik turun dan sering tantrum.
Ya Moms, tantrum merupakan salah satu bagian dari perkembangan emosi anak yang normal di usia balita. Tantrum membuat si kecil bertindak emosional yang mungkin menyulitkan ibu dan ayah untuk menenangkannya. Ini terjadi karena anak belum mampu mengelola emosinya dengan baik.
Lantas, kapan sebenarnya anak mulai bisa mengelola emosinya, ya?

Penjelasan soal Usia Anak Mulai Bisa Kelola Emosinya

Umur anak bisa kelola emosinya. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Umur anak bisa kelola emosinya. Foto: Shutterstock
Mengutip Illinois Learning, para ahli mengatakan, anak-anak sebenarnya sudah belajar mengelola emosinya sejak lahir secara alami. Selama periode ini, mereka belajar tentang regulasi emosi dari pengalaman sehari-hari, misalnya saja saat melihat perilaku dan berinteraksi dengan orang tua, saudara, dan juga pengasuhnya.
ADVERTISEMENT
Regulasi emosi merupakan kemampuan anak untuk mengidentifikasi dan mengelola perasaannya. Sama seperti aspek perkembangan lainnya, regulasi emosional anak dimulai dari hubungan si kecil dengan seseorang yang lebih sering bersamanya, baik itu orang tua atau pun pengasuhnya.
Seseorang yang penuh perhatian dan secara konsisten memenuhi kebutuhan anak menjadi awal bagi regulasi emosi yang sehat, Moms. Pada masa awal kelahiran misalnya, bayi membutuhkan ibu untuk selalu menenangkannya saat menangis. Nah, jika kebutuhan ini dipenuhi secara konsisten dan segera, ia akan mengembangkan rasa percaya dan keamanan terhadap orang-orang di sekitarnya.
Pengalaman positif tersebut digunakan anak-anak untuk membangun strategi dalam menenangkan dirinya sendiri. Dengan demikian, si kecil juga akan mulai belajar untuk mengelola emosinya secara alami, Moms.
Ilustrasi anak bahagia. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak bahagia. Foto: Shutter Stock
Dikutip dari Mom Junction, pada usia 21-36 bulan, anak-anak sudah mampu mengelola emosinya dengan lebih baik dan dapat mempertahankan regulasi saat mereka mulai membedakan keterampilan dan strategi mana yang perlu diterapkan dalam situasi berbeda. Contohnya, beberapa anak mungkin sudah mulai paham bagaimana harus bersikap saat kesal karena waktu bermainnya habis.
ADVERTISEMENT
Yang perlu diingat adalah, anak-anak merasakan berbagai emosi dan akan mengekspresikannya mungkin tanpa berpikir dulu. Emosi tersebut mencakup semua hal termasuk kegembiraan, frustasi, hingga ketakutan. Dalam tiga tahun pertama kehidupan, anak-anak sedang membangun fondasi untuk memperkuat keterampilan mengelola emosinya.
Jadi, ibu dan ayah tidak perlu cemas bila emosi si kecil masih naik turun dengan ekstrem di usia balita. Semua itu adalah normal sebagai bagian dari tumbuh kembang anak.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020