Kumparan Logo

Usia Berapa Bayi Mulai Berbicara? Ini 7 Tandanya

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Usia Berapa Bayi Mulai Berbicara? Ini 7 Tandanya. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Usia Berapa Bayi Mulai Berbicara? Ini 7 Tandanya. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock

Salah satu momen paling membahagiakan bagi orang tua adalah saat bayi mulai berbicara. Bukan hanya menggemaskan, kemampuan bicara juga merupakan tonggak penting dalam perkembangan bayi. Sebab, hal itu menunjukkan bahwa ia mulai bisa mengomunikasikan apa yang dirasakan dan dibutuhkan.

Namun, tidak sedikit orang tua yang bingung atau bahkan tidak menyadari kapan tepatnya bayi mulai bisa dikatakan "berbicara".

Ternyata, Moms, tanda-tanda awal kemampuan bicara anak bisa diamati sejak usia 2 bulan.

Bayi mulai bicara sejak usia 2-3 bulan dan terus berkembang hingga usianya 6 bulan dan 1 tahun. Lalu, apa tahapan dan ciri-ciri bayi mulai berbicara?

Ciri-Ciri Bayi Mulai Berbicara

1. Mengoceh Sejak Usia 2–4 Bulan

Dikutip dari Parents, menginjak usia 2 hingga 4 bulan, bayi mulai mengeluarkan suara-suara kecil atau ocehan. Ini adalah tahap awal perkembangan bicara.

Ilustrasi bayi Foto: structuresxx/Shutterstock

Biasanya, suara yang keluar berupa bunyi sederhana seperti "puh-puh-puh", "buh-buh-buh", atau "muh-muh-muh", karena huruf P, B, dan M lebih mudah diucapkan hanya dengan menyatukan bibir.

2. Babbling atau Celoteh Lebih Panjang

Pada usia 6 bulan, ocehan bayi berkembang menjadi babbling, yaitu menggabungkan suku kata berulang seperti "papapapa", "mamamama", atau "dadadada".

Meski terdengar acak, bayi mulai menggunakan intonasi dan perubahan nada suara, seolah-olah sedang "berbicara" dengan kita. Nada suara yang

naik di akhir kalimat, misalnya, bisa menunjukkan bahwa ia sedang bertanya.

3. Belajar Pola Percakapan

Ilustrasi orang tua mengajak bayi bicara atau mengobrol. Foto: Shutter Stock

Bayi juga mulai memahami bahwa percakapan itu bersifat dua arah. Si kecil mungkin akan berhenti setelah mengatakan apa yang ada di pikirannya, kemudian menunggu jawaban. Ketika ia melakukan hal itu, artinya ia sedang belajar bahwa percakapan adalah hal bolak-balik dan bukan hanya satu orang yang mengoceh.

4. Memahami Ekspresi dan Emosi

Meskipun belum bisa berbicara jelas, bayi akan mencoba meniru ekspresi wajah dan nada suara orang dewasa. Senyum lebar saat berceloteh bisa menandakan ia sedang senang, sementara ekspresi cemberut dan suara keras bisa menjadi cara ia menunjukkan ketidaknyamanan atau protes.

5. Mengenali Nama Orang dan Benda

Pada usia 9–12 bulan, bayi mulai mengenal kata-kata sederhana dengan makna. Misalnya, saat Anda memanggil namanya dan ia menoleh, itu tandanya ia memahami kata tersebut. Ia juga mungkin sudah mulai menyebut “mama” atau “papa” dengan arti yang tepat.

Ilustrasi ibu punya anak bayi dan balita. Foto: GOLFX/Shutterstock

6. Menggunakan Isyarat Tubuh

Sebelum bisa berbicara dengan jelas, bayi akan banyak menggunakan bahasa tubuh. Ia akan menunjuk, merentangkan tangan untuk minta digendong, atau melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Ini adalah bentuk komunikasi awal yang penting.

7. Bicara Sederhana dan Memahami Perintah (12–18 Bulan)

Di usia 12 bulan, rata-rata bayi sudah mengenali sekitar 70 kata, meskipun belum memahami semuanya. Menjelang usia 18 bulan, ia mulai bisa mengikuti perintah sederhana, menunjuk gambar atau anggota tubuh saat disebutkan, serta menggunakan gerakan seperti mengangguk atau menggeleng untuk merespons pertanyaan.

Kapan Orang Tua Perlu Waspada?

Ilustrasi bayi. Foto: Shutter Stock

Perlu diingat, setiap anak berkembang dalam waktunya masing-masing. Tidak semua bayi akan berbicara pada usia yang sama. Namun, orang tua perlu waspada jika:

-Bayi tidak menunjukkan kontak mata atau tidak merespons suara.

-Tidak ada tanda-tanda mengoceh sama sekali di usia 6 bulan.

-Tidak muncul kata-kata bermakna seperti "mama" atau "papa" hingga usia 15 bulan.

-Perkembangan bicara yang sebelumnya baik tiba-tiba berhenti atau mundur.

Jika Anda merasa khawatir, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter anak atau terapis wicara untuk evaluasi lebih lanjut ya, Moms.

kumparan post embed