Waspadai Alergi Susu Sapi pada Anak, Ini 3 Ciri yang Perlu Diperhatikan

Susu sapi dikenal sebagai sumber nutrisi penting untuk membantu tumbuh kembang anak. Sebab, punya kandungan protein yang tinggi, kalsium, dan vitamin D. Namun, tak semua anak bisa menikmati manfaat susu sapi tanpa risiko.
Bagi sebagian anak, susu sapi justru dapat memicu reaksi alergi yang mempengaruhi kesehatan mereka. Sayangnya, tidak semua orang tua menyadari akan gejala-gejalanya.
3 Tanda Anak Alergi Susu Sapi
Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi dan Imunologi, Prof. Dr. Budi Setiabudiawan, dr.Sp.A(K), M.Kes, menyebut, seorang anak yang alergi atau sensitif terhadap susu sapi, gejalanya bisa muncul di 3 organ tubuh berikut ini:
1. Kulit
Gejala pertama yaitu anak bisa mengalami ruam kemerahan, gatal-gatal, hingga biduran. Kondisi ini sering kali muncul tidak lama setelah anak mengkonsumsi susu.
2. Pencernaan
Kemudian, sistem pencernaan juga bisa terkena dampaknya. Anak dapat mengalami diare, perut kembung, atau muntah.
3. Gangguan Pernapasan
Selain itu, gejala lainnya muncul pada saluran pernapasan, seperti batuk, pilek, atau sesak napas.
“Dan bisa gejala yang lebih berat yaitu anak jadi pingsan. Dia syok anafilaktik. Itu adalah sensitif terhadap susu sapi,” ucap Prof. Budi dalam acara Press Conference The Grand Final Soyalympic Door of Future 2025 di Jakarta Selatan, Kamis (3/7).
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Jika anak menunjukkan gejala-gejala tersebut dan telah didiagnosis alergi susu sapi oleh dokter, langkah utama yang harus dilakukan adalah menghentikan konsumsi susu sapi serta semua produk olahannya.
“Cuman apa penggantinya? Pastikan ASI dulu aja. Kalau dia masih dapat ASI, ASI saja. Tetapi selama menyusui, ibunya tidak memakan atau minum yang mengandung protein susu sapi dan turunannya,” ujarnya.
Namun, jika anak tidak mendapatkan ASI, orang tua perlu beralih ke susu formula khusus. Jenis formula ini disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala alergi.
-Untuk gejala ringan hingga sedang, dapat diberikan susu formula hidrolisat ekstensif.
-Sementara untuk gejala berat, anak membutuhkan formula berbasis asam amino.
"Tetapi sebagai alternatif, kalau tidak bisa diberikan susu formula hidrolisat yang ekstensif, bisa menggunakan susu formula soya. Dengan kita mengganti susu formula yang standar, anak masih tetap dapat tumbuh kembang optimal," pungkas Prof. Budi.
