Kumparan Logo

Yang Membuat Janin Besar

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Yang Membuat Janin Besar Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Yang Membuat Janin Besar Foto: Shutter Stock

Kondisi janin sebisa mungkin harus rutin dipantau, minimal satu bulan sekali. Ya Moms, hal itu dilakukan supaya kita tahu bagaimana perkembangan bayi di dalam kandungan dari minggu ke minggu, apakah normal atau tidak.

Saat melakukan pemeriksaan, dokter akan mengecek perkembangan janin lewat USG. Biasanya dokter akan memeriksa detak jantung si kecil, organ tubuh seperti jari, mata, hidung, dan juga berat badan janin.

kumparan post embed

Berbicara soal berat badan, bayi di dalam kandungan sebaiknya memiliki berat badan normal sesuai dengan usia kandungannya--tidak boleh terlalu kecil atau bahkan terlalu besar. Janin yang terlalu besar atau makrosomia biasanya memiliki berat badan lebih dari 4000 gram.

Bila bayi di dalam kandungan mengalami kondisi tersebut, Anda harus waspada. Sebab, hal ini bisa membahayakan janin dan juga membahayakan Anda sendiri. Lantas, apa penyebab janin bisa tumbuh lebih dari ukuran normal?

Penyebab yang Membuat Janin Besar

Yang Membuat Janin Besar Foto: Shutter Stock

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Gita Pratama, SpOG, memaparkan bahwa kondisi makrosomia ini bisa disebabkan oleh kondisi ibu dan janin. Ya, seperti kondisi ibu hamil dengan obesitas, diabetes, hingga kenaikan berat badan ibu yang berlebih selama kehamilan.

Kemudian, jika ibu memiliki riwayat melahirkan dengan anak makrosomia dan kehamilan lewat waktu (postterm), serta kondisi janin seperti adanya kelainan genetik, juga bisa menjadi penyebab makrosomia.

"Pada umumnya janin besar dapat ditandai dengan adanya tinggi fundus uteri yang besar, cairan ketuban yang banyak (polihidramnion), dan perkiraan berat janin yang besar melalui pemeriksaan USG," ujar dr. Gita kepada kumparanMOM.

Pengaruh Janin yang Besar Terhadap Proses Melahirkan

Yang Membuat Janin Besar Foto: Shutterstock

Mengutip Healthline Parenthood, makrosomia dapat menyebabkan beberapa masalah selama persalinan. Seperti bahu bayi mungkin tersangkut di jalan lahir, klavikula bayi atau tulang lainnya retak, hingga persalinan membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya.

kumparan post embed

Jika janin yang dikandung besar, Anda mungkin memerlukan tindakan forsep atau vakum, bahkan bisa saja dokter akan menyarankan operasi caesar. Bayi juga harus segera dikeluarkan karena bisa tidak mendapatkan cukup oksigen.

Apabila menurut dokter ukuran bayi Anda dapat menyebabkan komplikasi selama persalinan normal atau pervaginam, Anda mungkin perlu menjadwalkan persalinan caesar, Moms. Maka dari itu kembali hubungi dokter Anda untuk meminta saran terbaik.

Komplikasi Jika Hamil Janin Besar

Yang Membuat Janin Besar Foto: Shutter Stock

Makrosomia dapat menyebabkan komplikasi pada ibu dan bayi. Ibu bisa mengalami cedera pada vagina. Saat bayi dilahirkan, ia dapat merobek vagina ibu atau perineum, yakni otot-otot antara vagina dan anus.

Anda juga bisa saja mengalami perdarahan setelah melahirkan. Karena, bayi yang besar dapat mencegah otot-otot rahim berkontraksi seperti seharusnya setelah melahirkan. Hal ini dapat menyebabkan perdarahan berlebih.

Gula darah bayi juga bisa tidak normal, bisa lebih rendah atau darah tinggi juga bisa membuat ia tumbuh besar. Si kecil juga berisiko terkena sindrom metabolik, termasuk tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kelebihan lemak di sekitar pinggang, dan kadar kolesterol abnormal. Seiring bertambahnya usia anak, sindrom metabolik dapat meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung.

Cara Cegah Janin Besar

Yang Membuat Janin Besar Foto: Shutter Stock

Makrosomia tidak dapat diprediksi, dan tidak ada cara yang pasti untuk mencegahnya. Namun ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko makrosomia.

Seperti menjaga gula darah tetap terkendali jika memang Anda menderita diabetes tipe 1, tipe 2, atau gestasional. Kadar glukosa yang terlalu tinggi dapat menyebabkan janin mendapatkan lebih banyak nutrisi daripada yang dibutuhkannya dan meningkatkan risiko makrosomia.

Anda juga bisa berkonsultasi dengan ahli gizi, tentang cara terbaik untuk mengontrol diabetes selama kehamilan, seperti makan makanan yang tinggi karbohidrat kompleks, makanan berserat tinggi, rendah kolesterol, lemak jenuh, dan juga gula halus.

Mengutip What To Expect, Anda juga harus menjaga berat badan yang ideal, baik menderita diabetes ataupun tidak. Sehingga Anda bisa berolahraga, setidaknya 30 menit dengan intensitas rendah, kemudian melakukan diet sehat.

kumparan post embed