Yang Membuat Janin Cacat
ยทwaktu baca 3 menit

Setiap ibu hamil biasanya akan disarankan dokter atau bidan untuk rutin memeriksakan janin sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Ya Moms, hal ini tak lain untuk memastikan tumbuh kembang bayi di dalam kandungan berjalan optimal.
Selain itu, pemeriksaan ini juga bertujuan untuk mendeteksi apakah janin memiliki kelainan (cacat) atau tidak. Bila bayi mengalami kecacatan, kondisi ini biasanya dapat dilihat sejak trimester pertama kehamilan. Akan tetapi, bila bayi di dalam kandungan cacat dengan kategori ringan atau sedang, mungkin saja baru bisa terlihat di trimester ketiga, Moms.
Lantas, faktor apa yang bisa sebabkan janin cacat?
Penjelasan dari Dokter soal Hal yang Membuat Janin Cacat
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan sekaligus Konsultan Fetomaternal, dr. Agustinus Giri Respati SpOG-KFM menjelaskan, kecacatan memang bisa saja dialami si kecil sejak masih di dalam kandungan. Meski begitu, hingga kini tidak ada penyebab pasti apa yang membuat janin cacat.
Namun, beberapa faktor dipercaya memiliki pengaruh, seperti faktor genetik dan faktor lingkungan, seperti penggunaan obat-obatan, bahan kimia, hingga paparan infeksi yang dapat membuat bayi di dalam kandungan cacat atau memiliki kelainan.
"(Faktor genetik) sangat bisa atau secara nyata dikatakan bahwa pengaruhnya sangat besar di samping beberapa faktor lain, seperti lingkungan dan sebagainya," kata dr. Agustinus kepada kumparanMOM.
Itulah kenapa, ibu hamil harus selalu menjaga kesehatan dengan menjalani pola hidup sehat. Selain itu, ibu hamil perlu bersikap waspada dan memahami apa saja tanda-tanda bayi di dalam kandungan cacat.
Berikut ini ada beberapa hal yang mungkin saja bisa membuat janin cacat. Yuk, disimak, Moms.
Yang Membuat Janin Cacat
1. Kadar Protein Ibu Hamil Terlalu Rendah atau Tinggi
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), skrining darah ibu hamil umumnya dapat dilakukan di trimester pertama atau tiga bulan pertama kehamilan. Hasil dari skrining yang ditunjukkan di layar atau monitor biasanya hanya memeriksa kelainan dan tidak memberikan diagnosis.
Untuk itu, dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, seperti tes darah untuk mengukur dua kadar protein yang berbeda, yaitu human chorionic gonadotropin (hCG) dan pregnancy associated plasma protein (PAPP-A). Apabila hasilnya tingkat protein lebih rendah atau tinggi dari yang seharusnya, maka ini bisa menunjukkan indikasi adanya kelainan pada bayi di dalam kandungan.
2. Peningkatan Cairan di Balik Leher Bayi
Romper melansir, bila pada saat melakukan pemeriksaan USG di trimester pertama menunjukkan adanya kelebihan cairan ketuban di belakang atau balik leher bayi, itu bisa jadi ada kaitannya dengan gangguan kromosom atau kelainan jantung pada bayi.
3. Ukuran Bayi
Pemeriksaan USG yang dilakukan di trimester kedua --biasa disebut skrining anatomi, berfungsi untuk mencari kelainan pada anatomi bayi dan masalah internal apa pun yang dapat memengaruhi jantung, otak, atau organ lainnya. Hasil skrining ini nantinya akan memperlihatkan ukuran bayi untuk memprediksi kemungkinan cacat lahir.
Misalnya, mikrosefali --kondisi kepala bayi jauh lebih kecil dari yang seharusnya. Kondisi ini biasanya dapat dideteksi melalui USG sebelum bayi lahir.
