14 Siswi SMP di Lamongan yang Dicukur Pitak Terima Pendampingan Psikolog
·waktu baca 2 menit

Sebanyak 14 siswi SMP Negeri 1 Sukodadi, Lamongan, yang kepala bagian depannya dicukur pitak oleh guru karena tak pakai ciput atau dalaman hijab, hari ini menerima pendampingan psikolog. Pendampingan psikolog dilakukan bersama dengan para wali murid.
"Sudah ada pendampingan dari psikolog di sekolah tadi. Sudah kita koordinasikan dengan wali murid, sudah selesai," kata Kepala Sekolah SMPN 1 Sukodadi, Harto, saat dihubungi kumparan, Kamis (31/8).
Pendampingan dilakukan oleh psikolog dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Lamongan (DPPPA). Menurut Harto, para wali murid juga sudah menerima dan sepakat untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan.
"Psikolog dari DP3A, wali murid juga menyadari, sudah clear," ucapnya.
Harto menyebut anak-anak menerima pendampingan dari psikolog agar mereka bisa menceritakan masalah dan uneg-unegnya. Mereka sempat mengalami trauma, namun saat ini sudah kembali beraktivitas seperti biasa.
"(Trauma) sebentar, setelah kejadian masuk terus tidak ada yang bolos. Bahkan Senin kemarin sudah jadi petugas upacara," ucap Harto.
Dicukur karena tak pakai ciput
Guru berinisial EN yang sedang mengajar mendapati 14 siswi tak memakai ciput. Dia lalu menghukum dengan mencukur dengan mesin cukur yang telah disiapkan.
14 siswi itu dicukur pitak pada bagian depan kepalanya, Rabu (23/8). Sebagian dari foto-foto mereka—dengan kepala tercukur pitak—beredar.
Padahal, tidak ada kewajiban siswi mesti pakai ciput.
Atas perlakuan guru tersebut, sejumlah wali murid pun protes. Akhirnya pihak sekolah mengumpulkan wali murid serta para guru termasuk EN pada Kamis (24/8).
Pihak sekolah beserta EN dan 10 wali murid yang datang itu pun melakukan mediasi. Dalam pertemuan itu, EN mengaku salah.
Pihak sekolah melaporkan EN ke Dinas Pendidikan Lamongan, dan ia pun diberi sanksi tidak boleh mengajar di SMP Negeri 1 Sukodadi dalam kurun waktu tertentu—tidak dijelaskan hingga kapan.
