20 Anak Muda Indonesia Jalani Pembinaan 9 Bulan Jelang WSC Shanghai 2026

Sebanyak 20 anak muda Indonesia akan berlaga dalam WorldSkills Competition (WSC) Shanghai 2026 dengan didampingi 16 expert. Sebelum mengikuti kompetisi keterampilan tingkat dunia itu, para lulusan SMK yang akan jadi kompetitor WSC ini harus menjalani pembinaan selama 6 hingga 9 bulan.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, mengatakan para peserta sebelumnya merupakan siswa SMK yang mengikuti Lomba Kompetensi Siswa (LKS) dalam beberapa tahun penyelenggaraan.
“Jadi mereka ini adalah dulunya siswa SMK, kemudian mereka ikut Lomba Kompetensi Siswa (LKS) ya, dari beberapa tahun,” kata Tatang saat ditemui wartawan dalam agenda pelepasan kontingen Indonesia untuk WSC Shanghai 2026 di Gedung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta Pusat, Selasa (15/9).
Menurut Tatang, sebagian pemenang LKS tersebut kini telah bekerja di industri terbaik, sedangkan sebagian lainnya melanjutkan pendidikan di politeknik. Para peserta yang terpilih pun harus berusia maksimal 21 tahun.
Setelah terpilih dari pemenang tingkat nasional, mereka menjalani pelatihan di sejumlah mitra Kemendikdasmen dengan durasi pembinaan yang bervariasi, mulai dari 6 hingga 9 bulan.
Tatang menuturkan, pembinaan dilakukan bersama sejumlah balai besar vokasi dan mitra industri, termasuk perusahaan multinasional yang memiliki pengalaman, serta jaringan di berbagai negara.
“Ada di balai besar vokasi, seperti balai elektronik otomotif di Malang. Ada juga dengan industri Festo dan misalnya industri-industri makanan dan lainnya. Yang jelas adalah industri-industri terpilih yang mereka juga multinasional punya pengalaman, jaringan, di seluruh dunia,” ungkapnya.
Dalam WSC Shanghai 2026, kontingen Indonesia akan mengikuti 17 bidang kompetisi. Beberapa di antaranya, yakni cooking, web technology, dan mekatronika. Namun, kata Tatang, Indonesia belum mengikuti seluruh bidang yang dipertandingkan karena mempertimpangan kesiapan kompetensi.
“Cuma memang tidak semua bidang kompetisi kita ikuti, karena ada beberapa yang kita memang kalaupun ikut agak berat. Misalnya, welding underwater gitu ya, bagaimana mengelas di bawah air gitu,” beber Tatang.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, berharap prestasi Indonesia dalam WSC Shanghai 2026 dapat meningkat dibandingkan keikutsertaan sebelumnya di Lyon, Prancis, pada 2024 silam.
“Dan kami berharap di ajang tahun ini di Shanghai prestasi delegasi kita makin meningkat ya,” ucap Fajar.
Kendati demikian, Fajar menjelaskan keberhasilan kontingen tidak hanya diukur dari medali yang berhasil diraih. Para peserta juga diharapkan membawa pulang praktik-praktik terbaik setelah melihat talenta dari berbagai negara berkompetisi di Shanghai.
“Tentu tidak hanya dilihat dari raihan medali yang didapat, tetapi juga impact, ya. Dampak yang dibawa oleh kontingen setelah kembali ke Tanah Air. Kita berharap para talenta ini membawa praktik-praktik terbaik setelah melihat bagaimana talenta-talenta global di Shanghai berlaga,” tutur Fajar.
Menurut dia, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi dan penajaman bagi pendidikan vokasi di Indonesia. Fajar pun menilai, ajang WSC Shanghai sebagai jendela untuk melihat perkembangan teknologi dan keterampilan yang dibutuhkan pada masa depan.
“Dan itu juga tentu akan memberikan evaluasi ataupun penajaman terhadap pendidikan vokasi di Indonesia. Karena ajang di Shanghai ini dianggap sebagai jendela untuk melihat perkembangan teknologi ataupun keterampilan di masa depan,” pungkas Fajar.
