3 Pelajar di Makassar Dijual di Medsos sebagai PSK, Polisi Buru Muncikari

27 Januari 2022 16:06 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi prostitusi Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi prostitusi Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Tiga pelajar diduga menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Mereka dijajakan kepada para pria hidung belang melalui media sosial.
ADVERTISEMENT
Para korban masih mengenyam pendidikan di bangku SMP dan SMA di Kota Makassar.
Mereka terjebak dalam lingkaran prostitusi online, berawal ketika kabur dari rumahnya masing-masing. Para siswi ini kabur karena mempunyai masalah pribadi dengan orang tua hingga terdesak kebutuhan ekonomi.
"Awalnya saya kabur dari rumah, Pak. Saya takut kepada orang tua, karena menjual HP saya," kata salah seorang siswa saat diinterogasi di kantor polisi, Kamis (27/1).
Saat kabur, mereka sempat ketemu dengan seorang pria yang dipanggil Abang. Pria ini kemudian menawari para korban untuk bekerja sebagai pekerja seks komersial. Ia menjajakan ketiga siswi ini melalui aplikasi Michat.
"Muncikarinya namanya Abang. Saya kenal belum cukup seminggu. Jadi Abang ini cari pelanggan di Michat," ungkapnya.
ADVERTISEMENT
Ketiga pelajar ini dijajakan oleh Abang dengan tarif Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu sekali kencan. Dari tarif ini, Abang menerima upah sebanyak Rp 50 ribu hingga Rp150 ribu setiap pelanggan. Mereka kencan dengan pelanggan berpindah-pindah hotel.
"Kalau muncikarinya diberikan Rp 50 ribu sampai Rp150 ribu, Pak. Dan sudah hampir seminggu begini. Saya sudah beberapa kali melayani orang," bebernya.

Beli Make Up dan Tebus HP

Terpisah, Kapolsek Panakkukang Kompol Andi Ali Surya telah mendalami kasus ini. Pihaknya telah menerjunkan tim untuk mengecek kebenaran dari informasi warga tersebut.
"Anggota sudah ke lapangan dan interogasi para korban. Kita mau cek kebenarannya, apakah benar telah terjadi kasus human trafficking ini," kata Ali kepada kumparan.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan keterangan awal, para korban terjebak dalam prostitusi online ini karena terdesak kebutuhan ekonomi. Mereka ini, kabur dari rumahnya dan kehabisan uang.
"Mereka katanya butuh uang beli pakaian, beli HP dan tebus HP yang digadaikan. Dan ada juga mau membeli peralatan make up atau fashion," bebernya.
Polisi saat ini masih mendalami kasus ini. Terduga pelaku muncikari juga sementara dalam pencarian. Sedang korban tengah dimintai keterangan.