4 Menteri Jepang Beri Penghormatan Berakhirnya Perang Dunia II di Kuil Yasukuni

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anggota gerakan nasionalis "Ganbare Nippon" yang memegang bendera Jepang berbaris di dekat kuil Yasukuni saat memberikan penghormatan kepada korban tewas perang pada peringatan 75 tahun penyerahan Jepang dalam Perang Dunia Kedua di Tokyo, Jepang, Foto: Issei Kato/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Anggota gerakan nasionalis "Ganbare Nippon" yang memegang bendera Jepang berbaris di dekat kuil Yasukuni saat memberikan penghormatan kepada korban tewas perang pada peringatan 75 tahun penyerahan Jepang dalam Perang Dunia Kedua di Tokyo, Jepang, Foto: Issei Kato/REUTERS

Empat menteri kabinet Jepang memberikan penghormatannya atas berakhirnya Perang Dunia II di Kuil Yasukuni, Tokyo, Sabtu (15/8). Kunjungan ke kuil yang dianggap negara tetangga sebagai simbol militer masa lalu Tokyo itu adalah yang pertama sejak 2016.

Dilansir AFP, Perdana Menteri Shinzo Abe mengirimkan persembahan berupa uang tunai ke Kuil Yasukuni untuk memperingati 75 tahun menyerahnya Jepang di Perang Dunia II.

Yasukuni merupakan tempat untuk mengenang 2,5 juta orang yang tewas dalam perang, yang sebagian besar adalah warga negara Jepang, sejak akhir abad ke-19.

Sejumlah tokoh senior militer dan tokoh politik yang dihukum karena kejahatan peran oleh pengadilan internasional juga dihormati di sana.

Menteri Pendidikan Koichi Hagiuda, salah satu dari empat menteri yang datang ke kuil, mengatakan dia melakukannya untuk memberi penghormatan kepada mereka yang tewas dalam perang.

Pria berpakaian tentara kekaisaran Jepang berbaris di depan Kuil Yasukuni di Tokyo, Jepang. Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon

"Saya memberi penghormatan..... kepada jiwa-jiwa mulia yang mengorbankan dirinya selama perang," kata Hagiuda kepada wartawan.

Tiga menteri lainnya adalah Menteri Lingkungan Shinjiro Koizumi, Menteri Dalam Negeri Sanae Takaichi, dan Menteri Urusan Teritorial Seiichi Eto.

Abe terakhir kali mengunjungi Kuil Yasukuni pada Desember 2013 untuk memperingati tahun pertama pemerintahannya. Saat itu, kunjungannya memicu kemarahan Beijing dan Seoul, dan mendapatkan teguran diplomatik yang langka dari sekutu dekat Amerika Serikat.

Kunjungan tahun ini di tengah tensi yang masih tinggi antara Jepang dan Korea Selatan -- salah satu negara yang paling terdampak akibat kekejaman militer Jepang selama masa perang.

Kedua negara telah mengeluarkan sanksi dan ancaman perdagangan timbal balik saat berdebat soal sejumlah isu, termasuk kerja paksa dan perbudakan seks selama masa perang.

Anggota gerakan nasionalis "Ganbare Nippon" yang memegang bendera Jepang berbaris di dekat kuil Yasukuni saat memberikan penghormatan kepada korban tewas perang pada peringatan 75 tahun penyerahan Jepang dalam Perang Dunia Kedua di Tokyo, Jepang, Foto: Issei Kato/REUTERS

Kaisar Jepang Harap Kerusakan karena Perang Tak Terulang Lagi

Pada hari ini juga, Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako menghadiri upacara nasional untuk memperingati berakhirnya perang, yang skalanya dikurangi karena pandemi virus corona.

"Melihat kembali periode panjang dari perdamaian pasca perang, merefleksikan masa lalu kita dan mengingat penyesalan yang mendalam, saya sangat berharap kerusakan perang tidak akan terulang lagi," kata Naruhito.

Naruhito yang lahir jauh setelah perang dan telah berbicara pentingnya mengingat Perang Dunia II "dengan benar", tanpa meremehkan militerisme Jepang pada awal abad ke-20.

Adalah Hirohito, kakek Naruhito, yang mengumumkan kekalahan Jepang pada 15 Agustus 1945 dalam sebuah pidato melalui siaran radio yang belum pernah dilakukan sebelumnya, dan untuk yang pertama kalinya warga Jepang mendengar suara kaisar.

Dalam pidatonya, Naruhito mengajak semua orang untuk bekerja sama mengatasi pandemi corona, yang dia sebut sebagai "bencana baru".

Jepang telah mencatat 53.600 kasus dan lebih dari 1.000 kematian sejak kasus pertama terdeteksi pada Januari.

embed from external kumparan