539 Dokter Gugur Selama Pandemi COVID-19, 114 di Antaranya Meninggal Juli

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah tenaga medis Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah Kepala Puskesmas Banjarsari Dokter Usman, yang meninggal akibat COVID-19 di Jalan Raya Tegar Beriman, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (26/10). Foto: Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah tenaga medis Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah Kepala Puskesmas Banjarsari Dokter Usman, yang meninggal akibat COVID-19 di Jalan Raya Tegar Beriman, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (26/10). Foto: Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO

Ganasnya pandemi COVID-19 yang telah berlangsung hampir 1,5 tahun di Indonesia tak hanya berdampak ke masyarakat umum. Tenaga kesehatan, termasuk dokter, sudah banyak yang gugur sebagai garda terdepan penanganan pasien corona.

Ketua Pelaksana Harian Mitigasi PB IDI Dr. Mahesa Paranadipa mengungkap, sebanyak 539 dokter telah meninggal hingga 16 Juli 2021. Ia pun khawatir sektor kesehatan semakin dekat dengan potensi kolaps, mengingat sebanyak 114 dokter di antaranya wafat pada Juli, naik lebih dari 100% angka kematian dokter pada Juni.

“Tim mitigasi dari data-data dokter memang kami mengkhawatirkan kita masuk ke potensi functional collaps, kalau melihat kematian dokter per Juli ini angkanya melebihi 100% dari Juni lalu, sebanyak 114 sejawat dokter,” kata Mahesa dalam jumpa pers virtual yang disaksikan kumparan, Minggu (18/7).

“Ini data-data yang dilaporkan, jadi belum [termasuk] data-data yang belum dilaporkan. Sehingga angka kematian dokter di angka 539 sejawat yang wafat,” imbuh dia.

kumparan post embed

Lebih rinci, Mahesa mengatakan, angka kematian dokter paling banyak terjadi di Jawa Timur sebanyak 110 orang. Provinsi ini diketahui sebagai salah satu wilayah yang menyumbang kenaikan kasus tertinggi di RI.

Setelah Jatim, dokter yang meninggal dunia tercatat paling banyak terjadi di DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sumatera Utara. Sementara berdasarkan jenis kelamin, dokter yang wafat paling banyak laki-laki yakni 84% dan perempuan 16%.

“[Untuk spesialiasi dokter yang wafat] masih paling banyak dokter umum, diikuti spesialis kandungan, penyakit dalam, dokter bedah, dan anestesi. Memang pneumonologi tidak sebanyak yang lain tapi tetap menempati 7 besar,” terang dia.

“Selain itu, saat ini dilaporkan nakes lain per 18 Juli dari PPNI sebanyak 7392 terkonfirmasi [COVID-19], suspek 309, dan yang gugur 445 perawat. Kemudian dari apoteker ada 42 orang, dan bidan 223, dan tenaga laboratorium 25 orang,” lanjutnya.

Nyala lilin mengiringi kepulangan nakes wisma atlet pertama yang tewas akibat COVID-19. Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Mahesa menerangkan kondisi para dokter saat ini terus dipantau oleh IDI. Sebab mereka adalah tulang punggung dari penanganan corona.

Saat ini, ia mengakui apabila banyak nakes yang tak berujung fatal karena sudah divaksinasi. Tetapi ia menekankan, lonjakan kasus corona yang terus menerus bisa menyebabkan kelelahan akut dan berujung membuat nakes tumbang, termasuk dokter.

“Jadi kami sudah berikan pedoman, cuma memang meski sudah divaksinasi suntikan kedua, lonjakan pasien yang cukup tinggi menyebabkan overwork yang kami khawatirkan tentu akan menimbulkan burn out,” papar dia.

“[Ini] yang menyebabkan imun nakes menurun walaupun memang di Kudus dan beberapa tempat memang membuktikan efektivitas vaksin karena tidak terlalu banyak [yang gugur]. Namun dengan lonjakan terus menerus, tentu imun nakes turun atau mengalami permasalahan,” tambahnya.

Acara penghormatan terakhir pada tenaga kesehatan yang wafat Liza Putri Noviana di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, 24/6/2021. Foto: M RISYAL HIDAYAT/ANTARA FOTO

Oleh sebab itu, Mahesa pun meminta masyarakat untuk bekerja sama di hulu atau menjaga diri agar jangan sampai tertular. Ia meminta warga untuk lebih disiplin prokes dan patuh terhadap kebijakan PPKM Darurat

“Kami mohon komponen bangsa kerja sama dan bisa menopang nakes karena kita tidak tahu lonjakan sampai kapan kalau melihat ketidakdisiplinan masyarakat. Jadi mohon masyarakat jadikan pandemi ini pertarungan bersama,” tandas dia.