6 ABK WNI Kapal MV Sky Fortune 7 Bulan Telantar di Filipina dan Tidak Digaji

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
KBRI Manila melakukan audiensi dengan perwakilan Pelaut Indonesia. Foto: Kemlu RI
zoom-in-whitePerbesar
KBRI Manila melakukan audiensi dengan perwakilan Pelaut Indonesia. Foto: Kemlu RI

Kasus penelantaran terhadap anak buah kapal ABK WNI kembali terjadi. Kali ini dilaporkan ada enam ABK WNI di kapal MV Sky Fortune telantar di Filipina.

Tidak hanya itu, para ABK WNI itu dilaporkan belum menerima gaji sampai tujuh bulan.

Kasus ini terungkap berkat pengakuan salah satu anak dari ABK WNI itu di media sosial Twitter pada Rabu (3/8). Tulisan dari akun @maimeichil mendapat perhatian masyarakat.

kumparan sudah mendapat izin dari pemilik akun itu untuk menulis laporan itu. Ia meminta bantuan agar ayahnya dan rekannya yang masih tertahan di MV Sky Fortune bisa segera dipulangkan.

X post embed

Dalam penuturannya, maimeichil mengatakan, ayahnya bersama lima kru WNI sudah tertahan selama 7 bulan di kapal MV Sky Fortune yang kondisinya sudah tidak layak. Mereka juga belum menerima gaji.

"Sampai saat ini, papa saya bersama teman-temannya yang lain telah 7 bulan berada di atas kapal tersebut dengan kondisi kapal yang sudah tidak layak, kekurangan air bersih, makan seadanya, dan belum mendapatkan gaji satu bulan pun," tulis @maimeichil.

Sebenarnya, para ABK WNI di kapal itu bersama para keluarga telah melapor kepada KBRI Manila untuk meminta bantuan dan pengurusan pemulangan.

"Namun sampai sekarang belum mendapat tindakan, serta kami telah melapor ke ITF (Internasional Transport Workers Federation) untuk membantu mendapatkan gaji," tulis @maimeichil.

ABK KRI Kakap-811 bersiap memasangkan tali penambat dari atas dek di Pulau Miangas, Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara, (21/1/2022). Foto: Adwit B Pramono/Antara

Mei menjelaskan, ayahnya dan rekannya bergabung menjadi ABK kapal Sky Fortune pada 5 januari 2022.

Namun pada 19 Januari, kapal tersebut menabrak terumbu karang yang mengakibatkan kebocoran pada kapal. Akibatnya, beberapa muatan beras yang ada di kapal itu terendam.

"Setelah kejadian tersebut pihak perusahaan menyalahkan seluruh kru Indonesia karena kaptennya merupakan orang Indonesia. Awalnya perusahaan menjanjikan pemulangan dan pembayaran gaji setelah selesai bongkar muatan kargo beras yang tidak rusak namun sampai sekarang mereka masih di kapal," jelas dia.

Mei menuturkan, di atas kapal itu ada 17 orang. Mereka berasal dari lintas negara yakni Indonesia, Filipina, Burma dan China.

"Semua kru dari negara lain mendapatkan gaji kecuali kru Indonesia," kata dia.

kumparan post embed

Mei menambahkan, pada Maret lalu, pihak keluarga sudah melakukan zoom meeting bersama KBRI Manila. Hasilnya, tim dari KBRI Manila mengunjungi kapal Sky Fortune yang berada di Tabaco, Filipina.

"Kondisi di kapal tersebut sudah sangat menyedihkan dan mengkhawatirkan karena mereka tidak mendapatkan air bersih untuk mandi sehingga beberapa kru mengalami penyakit kulit dan tidak mendapatkan penanganan dari pihak medis," kata dia.

"Mereka juga makan dengan seadanya dan menunggu hujan turun untuk dapat mandi dan mencuci baju serta membuat WC darurat," lanjut dia.

Hingga saat ini, kapal Sky Fortune masih ditahan oleh otoritas Filipina. Sedangkan para ABK tidak diperbolehkan meninggalkan kapal. Selain itu, KBRI Manila belum memberikan kabar terbaru terkait nasib para ABK WNI ini.

KBRI Manila melakukan audiensi dengan perwakilan Pelaut Indonesia. Foto: Kemlu RI

Keterangan KBRI Manila

Sementara KBRI Manila mengatakan, pada 24 Maret mereka sudah melakukan audiensi dengan perwakilan Pelaut Indonesia di kapal MV Sky Fortune.

Kapal ini milik perusahaan Kapal Hong Kong berbendera Panama dan sedang berlabuh di perairan Tabaco, Filipina.

KBRI Manila mengatakan, turut hadir perwakilan keluarga WNI di Indonesia serta rekan media.

"Pada kesempatan tersebut, KBRI Manila mendengarkan permasalahan yang dihadapi ABK Indonesia selama bekerja di kapal tersebut, serta menjawab berbagai pertanyaan media, di antaranya mengenai pendampingan, dan upaya pelindungan yang telah diberikan oleh KBRI Manila kepada para pelaut Indonesia tersebut," kata KBRI Manila.

KBRI Manila menambahkan, upaya pelindungan terhadap PMI ABK tersebut dilanjutkan dengan kunjungan tatap muka pada 30 Maret 2021.

Selain menyalurkan bantuan logistik bagi PMI ABK, KBRI Manila turut menemui agen dan otoritas setempat termasuk Philippine Coast Guard dan Biro Imirasi untuk membahas penanganan permasalahan serta upaya pemenuhan hak PMI ABK.

Meski begitu, hingga saat ini belum ada kejelasan terhadap penanganan masalah ini. Sebab KBRI Manila belum memberikan kabar terbaru.