707 Siswa-Guru SMKN 6 Semarang Diduga Keracunan MBG, Sudaryono Turun Tangan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala BGN Sudaryono menjenguk korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Semarang, Sabtu (1/8/2026). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BGN Sudaryono menjenguk korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Semarang, Sabtu (1/8/2026). Foto: Dok. Istimewa

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menjenguk para korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Semarang, Sabtu (1/8). Kunjungan dilakukan untuk memastikan kondisi para korban sekaligus memantau langsung penanganan yang diberikan oleh pihak rumah sakit.

Kunjungan tersebut dilakukan menyusul insiden dugaan keracunan MBG yang menimpa ratusan siswa dan guru di SMK Negeri 6 Semarang.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kota Semarang melaporkan sebanyak 707 orang diduga mengalami keracunan setelah menyantap MBG yang dibagikan di sekolah pada Jumat (31/7). Ratusan orang itu terdiri atas 693 siswa dan 14 guru.

Para korban rata-rata mengalami gejala seperti pusing, mual, dan muntah setelah mengkonsumsi makanan tersebut. Sebagian korban menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, sementara lainnya mendapat penanganan medis sesuai kondisi masing-masing.

Dalam kunjungannya, Sudaryono mendatangi sejumlah rumah sakit yang merawat korban, di antaranya RS Permata Medika, RS Bhakti Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum.

Kepala BGN Sudaryono menjenguk korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Semarang, Sabtu (1/8/2026). Foto: Dok. Istimewa

Menanggapi kejadian tersebut, Sudaryono menegaskan, tim investigasi saat ini tengah mendalami penyebab insiden tersebut. Investigasi dilakukan untuk memastikan sumber permasalahan sekaligus mencegah kejadian serupa terulang.

"Tim investigasi masih bekerja untuk mendalami kasus ini. Kami ingin memastikan penyebabnya berdasarkan hasil pemeriksaan yang komprehensif," ujar Sudaryono.

Ia menegaskan, BGN tidak akan mentoleransi adanya kelalaian dalam pelaksanaan MBG. Apabila hasil investigasi menemukan adanya pelanggaran atau kelalaian dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), BGN akan mengambil tindakan tegas.

"Kalau nanti terbukti ada kelalaian, kami akan melakukan suspend terhadap SPPG yang terkait sambil menunggu hasil evaluasi dan tindak lanjut sesuai ketentuan yang berlaku," tegasnya.

Kepala BGN Sudaryono menjenguk korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Semarang, Sabtu (1/8/2026). Foto: Dok. Istimewa

Hingga kini, penyebab pasti dugaan keracunan tersebut masih menunggu hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan.

Pemerintah bersama instansi terkait terus melakukan penanganan terhadap para korban sekaligus mengusut penyebab insiden tersebut agar MBG tetap berjalan dengan mengutamakan aspek keamanan pangan.

Ratusan Siswa-Guru di Semarang Keracunan

Siswa SMKN 6 Semarang mendapat perawatan usai diduga kecarunan menyantap MBG, Jumat (31/7/2026). Foto: Dinkes Semarang

Sebelumnya, ratusan siswa dan guru SMKN 6 Semarang diduga keracunan usai menyantap MBG. Kepala SMKN 6 Semarang, Berti Sagendra, mengatakan ada sekitar 690 siswa mengeluh pusing, mual, diare, hingga muntah.

"Kami sebar Google Form untuk seluruh siswa, yang data baru masuk itu sekitar 690-an dengan indikasi macam-macam. Ada yang pusing, mual, diare, muntah," ujar Berti kepada wartawan, Jumat.

Ia menjelaskan, ratusan siswa tersebut kemudian mendapat pertolongan dari Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, serta Puskesmas Halmahera.

"Beberapa dirujuk ke rumah sakit. Tapi enggak banyak, sekitar empat orang. Itu juga atas permintaan orang tua yang khawatir," jelas dia.

Ia sendiri belum bisa memastikan penyebab dugaan keracunan ratusan siswanya. Namun, sampel makanan telah diambil oleh DKK Semarang untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.

"Yang jelas setelah banyak anak pusing, mual, dan diare, kami langsung melakukan penanganan dan menghubungi pihak-pihak terkait," ungkap Berti.

Tim Dinas Kesehatan Kota Semarang saat mengambil sampel makanan MBG yang diduga memicu keracunan di SMKN 6 Semarang, Jumat (31/7/2026). Foto: Dinkes Semarang

Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, menambahkan pihaknya sudah melakukan penyelidikan menyusul dugaan keracunan yang terjadi.

"Sejak laporan diterima sekitar pukul 10.30 WIB, tim kesehatan memberikan pelayanan medis kepada siswa dan guru yang mengalami gejala, melakukan penelusuran epidemiologi, serta mengambil sampel makanan dan spesimen korban untuk diperiksa di laboratorium," ujar Hakam.

Berdasarkan pendataan sementara, korban keracunan mencapai 707 orang yang terdiri dari 693 siswa dan 14 guru. Dari jumlah tersebut, 698 orang mendapatkan penanganan langsung di lokasi,

"Sedangkan 9 orang dirujuk ke Puskesmas Halmahera, RSUD KRMT Wongsonegoro, RST Bhakti Wira Tamtama, dan Puskesmas Bangetayu untuk menjalani observasi lebih lanjut," sebut dia.

Tim Dinas Kesehatan Kota Semarang saat mengambil sampel makanan MBG yang diduga memicu keracunan di SMKN 6 Semarang, Jumat (31/7/2026). Foto: Dinkes Semarang

Pihaknya juga sudah memeriksa sampel makanan, sisa pangan, serta spesimen dari korban untuk diperiksa di laboratorium.

"Kami belum dapat menyimpulkan penyebab kejadian sebelum seluruh proses pemeriksaan laboratorium selesai. Karena itu, kami mengimbau masyarakat tidak berspekulasi dan menunggu hasil pemeriksaan yang sedang berjalan," kata Hakam.

Selain itu, Dinkes terus berkoordinasi dengan pihak SMK Negeri 6, penyelenggara SPPG Kota Semarang Timur (Karangturi), Yayasan Putra Maju Mapan Mandiri, serta lintas sektor terkait guna mempercepat proses penelusuran.

"Sebagai langkah kehati-hatian, distribusi makanan dari penyelenggara SPPG terkait dihentikan sementara hingga proses penyelidikan epidemiologi dan pemeriksaan laboratorium selesai dilakukan," kata Hakam.