77 Siswa SMP di NTT Dihukum Makan Kotoran Manusia, Apa Dampaknya?

77 siswa Seminari Maria Bunda Segala Bangsa di Maumere, NTT, dihukum kakak kelasnya dengan disuruh memakan kotoran manusia (feses) pada Rabu (19/2) lalu.
Mereka dihukum setelah seorang siswa kelas VII membuang kotorannya sendiri pada sebuah kantong plastik yang selanjutnya disembunyikan di sebuah lemari kosong.
Dua orang kakak kelas XII yang saat itu ditugaskan untuk menjaga kebersihan unit kelas VII menemukan kotoran tersebut. Saat ditanya ke siswa-siswa kelas VII, tidak ada yang mengaku.
Akhirnya karena marah, salah seorang kakak kelas tersebut mengambil kotoran dengan sendok makan lalu menyentuhkan kotoran tersebut pada bibir atau lidah. Perlakuannya berbeda pada masing-masing anak.
Apa itu feses?
dr. Grace Judio-Kahl selaku pendiri klinik lightHOUSE menjelaskan, feses adalah hasil metabolisme tubuh yang harus dibuang dalam bentuk padat lewat saluran cerna.
"Biasanya yang dibuang ini sebagian besar belum masuk ke dalam pembuluh darah. Bila larut air dan beredar dalam darah, akan dibuang juga dalam bentuk urine lewat ginjal," jelas Grace saat dihubungi, Selasa (25/2) malam.
Susunan feses antara lain sebagian besar air, zat berwarna kuning kecoklatan (kombinasi cairan empedu dan sel darah merah yang mati atau bilirubin), karbohidrat tak tercerna (misal serat dari sayur, buah, atau biji-bijian), sisa lauk atau protein yang tak tercerna (mengandung senyawa terkait sulfur sehingga menimbulkan bau), dan bakteri pencernaan di usus.
Apa dampaknya jika feses bersentuhan dengan kulit?
Meski begitu, Grace menyebut belum tentu bakteri yang ada di feses dapat menimbulkan penyakit. Jika orang sehat dan tak membawa parasit, bakteri jahat atau virus sebetulnya bakal baik-baik saja jika memakan feses.
Namun, tak menutup kemungkinan feses yang sudah masuk ke dalam mulut --seperti kasus di atas-- dapat menularkan penyakit.
"Bila feses masuk ke dalam mulut, maka orang akan tertular penyakit misal hepatitis A atau C, parasit misal cacing pita, kremi), dan bakteri patogen (misal E.coli, salmonella, shigella). Masalahnya, penyakit-penyakit yang menular lewat feses seringkali tanpa gejala," kata dia.
Masa inkubasi parasit maupun bakteri jahat ini bervariasi. Grace mencontohkan Salmonella yang sekitar 10-14 hari, lalu Hepatitis A sekitar 10-14 hari.
Ia mengatakan, NTT termasuk salah satu provinsi dengan kasus hepatitis tertinggi di Indonesia. Penderitanya juga lebih banyak bermukim di kampung daripada di kota.
"Di NTT, kasus hepatitis termasuk paling tinggi di Indonesia. Dan sering tidak terdeteksi. Ini tular-tularan lewat pup. Kadang orangnya tidak tahu juga," ungkapnya.
"Perlu disorotin itu. Kasus yang terdeteksi dan masuk ke data Kemenkes hanya yang sudah periksa laboratorium saja. Yang belum diperiksa banyak," imbuhnya.
Grace pun menyarankan siswa-siswa Seminari Menengah Santa Maria Bunda Segala Bangsa yang sudah sempat terkena kotoran kakak kelasnya untuk memeriksakan diri dan tes darah. Selain itu, anak-anak juga diminta banyak minum.
"Kalau sampai bibir aja ya belum nularin. Tapi kalau sudah sampai lidah ya kemungkinan ketularan ada. Tapi kalau itu faecesnya dari orang yang tidak punya penyakit ya aman-aman aja," tutupnya.
Atas kasus ini, pihak Seminari secara terbuka telah meminta maaf atas peristiwa ini di hadapan orang tua dan sekaligus memberikan sanksi yang tegas kepada kedua kakak kelas tersebut.
Korban-korban pelajar kelas VII juga akan diberikan pendampingan untuk memulihkan mental dan menghindari trauma.
Sebagai bentuk pembinaan, dua kakak kelas yang menghukum adik-adik kelasnya dengan memakan feses pun dikeluarkan dari Seminari Bunda Segala Bangsa.
"Dengan rendah hati, kami pihak Seminari Santa Maria Bunda Segala Bangsa menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak teristimewa kepada orang tua dan keluarga para siswa kelas VII atas peristiwa yang terjadi," ungkap Pimpinan Seminari Menengah Santa Maria Bunda Segala Bangsa, RD. Deodatus Du'u, dalam keterangan rilisnya.
