Abdul Mu'ti: MBG Punya Korelasi Antara Motivasi dan Semangat Belajar

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki korelasi positif dengan motivasi belajar dan kebugaran siswa. Program tersebut juga dinilai dapat mendorong kehadiran anak di sekolah.
Abdul Mu'ti mengatakan, sejumlah penelitian yang dilakukan pihaknya menunjukkan adanya hubungan positif antara pemberian makanan bergizi gratis dengan motivasi belajar dan kebugaran anak-anak.
"Karena sudah ada banyak penelitian kami yang menunjukkan korelasi positif antara makan bergizi gratis dengan motivasi, dengan semangat belajar, dan juga dengan kebugaran anak-anak kita," kata Abdul Mu'ti di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta, Jumat (30/10).
Selain motivasi belajar, dia juga menyoroti kaitan program MBG dengan tingkat kehadiran siswa di sekolah. Menurutnya, makanan bergizi yang disediakan di sekolah dapat menjadi salah satu dorongan bagi anak-anak untuk datang ke sekolah.
"Jadi banyak anak yang berangkat ke sekolah itu karena akan makan sehat bergizi. Itu saya kira mirip dengan banyak hadir ke masjid karena ada Jumat Berkah, kira-kira begitu. Tapi ini tiap hari, tidak setiap hari Jumat," ujarnya.
Dia menambahkan, program MBG juga menjadi bagian dari upaya Kemendikdasmen menanamkan pendidikan karakter kepada siswa melalui kebiasaan sehari-hari di sekolah.
Kebiasaan makan bersama dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan kedisiplinan, kesabaran, toleransi, hingga sikap menghargai makanan yang disediakan.
"Misalnya bagaimana mereka antre, bagaimana mereka membiasakan hidup bersih, bagaimana senantiasa berdoa sebelum makan, berdoa setelah makan, berterima kasih atas makanan yang dihidangkan. Kemudian tertib, antre sebagai bagian dari penanaman nilai-nilai kesabaran, penanaman penghormatan toleransi kepada sesama, dan nilai-nilai karakter yang lainnya kami tanamkan melalui makan bergizi gratis ini," jelasnya.
Kemendikdasmen juga melakukan integrasi pendataan penerima MBG dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Integrasi tersebut dilakukan untuk memastikan siswa yang menerima program merupakan peserta didik yang tercatat secara resmi dalam sistem pendidikan.
"Kemudian kerja sama pendataan yang selama ini sudah terintegrasi dengan Dapodik, dipastikan bahwa semua yang menerima adalah murid-murid yang memang resmi terdata dalam sistem kami dan memang terus kita sempurnakan," tuturnya.
Di sisi lain, Abdul Mu'ti mengakui pelaksanaan MBG di sejumlah daerah membutuhkan penyesuaian waktu dalam kegiatan sekolah. Karena itu, komunikasi antara pihak terkait diperlukan agar pelayanan MBG tidak mengganggu proses pembelajaran.
"Karena memang ada laporan dari beberapa daerah, MBG itu paling tidak memang membutuhkan waktu dalam jumlah tertentu sehingga jam belajar di sekolah harus disesuaikan," ujarnya.
"Tapi saya kira dengan komunikasi, dengan pemahaman yang terus kita bangun bersama-sama dengan visi yang sama bahwa MBG ini adalah bagian dari kita membangun generasi Indonesia yang sehat, generasi Indonesia yang kuat, insyaallah niat kita bersama membangun generasi Indonesia ini akan dapat terwujud," sambung dia.
