Aisha Weddings Diduga Settingan, Mirip Isu Klepon Tak Islami

Isu website Wedding Organizer (WO) Aisha Weddings yang viral diduga merupakan settingan untuk menjatuhkan komunitas Islam di Indonesia. Isu ini diduga sudah disiapkan sejak September 2020.
Seorang pegiat isu Islam dan multikulturalisme di media sosial, Baskoro Aris Sansoko, membeberkan penemuannya dalam menganalisis konten dan riwayat WO tersebut. kumparan sudah meminta izin untuk mengutip cuitan Baskoro.
"Awalnya karena merasa too bad too be true (terlalu buruk menjadi kenyataan). Mirip banget vibe-nya sama klepon haram atau telor syariah yang pejantannya maksimal mengawini 4 betina," ungkapnya saat menjelaskan motifnya mencari tahu lebih dalam soal Aisha Weddings.
Dugaan awal Baskoro, isu ini sengaja disiapkan sejak akhir tahun lalu. Berikut analisis Baskoro yang diunggah Rabu (10/2):
Dirancang Sejak September 2020
Oke, judgment:
Kalau hari ini nanti, besok, dan lusa di timeline rame pembahsan Aisha Weddings terutama terpusat di circle buzzerp, fiks Aisha Weddings ini materi yang emang disiapkan jadi bom waktu sejak September 2020 oleh buzzerp entah faksi yang mana tapi sama brengseknya.
Baskoro mengungkapkan kejanggalan yang ditemukan dari Aisha Weddings terkait dengan website dan fanpage Aisha Weddings serta foto spanduknya.
Ada 3 poin yang disorot Baskoro dari kejanggalan-kejanggalan yang dia temukan yakni presence online dan offline, siapa yang awal meramaikan hingga konten promosi.
Poin pertama soal kemunculan Aisha Weddings di ranah daring atau online. Aisha Weddings punya fanpage FB dengan unggahan pertama 31 Agustus 2020, dengan domain http://aishaweddings.com. Namun data website itu sengaja ditutup.
"Data tersembunyi di http://whois.com. Betul bahwa hal ini bisa di capai secara gratis. Tapi ketika biasanya informasi dibuat terbuka agar akuntabilitasnya jelas, pilihan untuk menutup informasi suatu informasi tentang usaha jelas memunculkan pertanyaan," tulis Baskoro.
Selain itu, Aisha Weddings juga tidak mencantumkan nomor telepon dan alamat kantornya. "Kalau nomer HP atau contact medsos saja enggak ada, ini niat usaha beneran gak sih?" tanya Baskoro.
Tiga Kota Jadi Sasaran Promosi Aisha Weddings
Poin kedua, soal promosi offline lewat spanduk yang dipasang di sejumlah titik. Hasil penelusuran Baskoro, setidaknya ada 3 lokasi yang menjadi sasaran pemasaran brosur atau spanduk offline Aisha Weddings, yaitu:
1. Jakarta
2. Kendari, Sulawesi Tenggara
3. Praya, Lombok, NTB
Soal tiga wilayah itu yang menjadi sasaran pemasangan spanduk , Baskoro menduga ada kaitannya dengan radikalisme, Menteng (Jakarta) misalnya dulu sempat ada Poros Menteng Petamburan. Kendari ramai komunitas salafi, sedangkan Lombok juga sejak lama terkenal sebagai provinsi Islami (banyak salafi dan muslim yang lebih puritan).
"Oke kejanggalannya, make sense kah suatu WO yang baru aja September dibikin mau narget 3 wilayah sekaligus di tiga kawasan Indonesia yang berbeda? Sebenarnya aku ada banget kecurigaan kenapa kawasan Menteng, Kendari, dan Lombok dipilih, yaitu asosiasi ke Islam “radikal"," tulisnya.
Pesan Spanduk di Lombok Pakai Paypal
Keanehan lainnya adalah terkait pembayaran pembuatan cetak banner di wilayah Lombok menggunakan Paypal dan bukan rekening bank biasa. Hal itu sudah Baskoro konfirmasi langsung kepada pihak yang memberi jasa cetak banner kepada WO.
"Nama akun Paypalnya pakai nama samaran bukan nama Arab ala kunyah orang-orang salafi yang biasa pakai Abu siapa dan Ummu apa. Tapi pakai nama orang Barat sepeti John Smith, tapi bukan John Smith tentunya," ucap Baskoro.
Foto-foto yang digunakan dalam website Aisha Weddings juga merupakan foto yang digunakan tanpa izin.
"Sempet ada di Twitter itu fotografer marah ketika tahu foto-fotonya dicomot Aisha Weddings," imbuh Baskoro.
Siapa yang Mulai: Unggahan di Facebook
Berdasarkan penelusuran Baskoro, netizen mulai ramai membahas Aisha Weddings dari twit @SwetaKartika pada Selasa (9/2) malam. Tetapi Baskoro menemukan ada akun di Facebook yang mengunggah pertama kali soal Aisha Weddings pada Selasa siang sekitar pukul 11.38 WIB .
"Kebanyakan orang tahu dari tweetnya @SwetaKartika sekitar jam 9-10 kemarin malem padahal aku nemu pihak yang upload ke FB sekitar set 12 kemarin siang," tulisnya.
Tapi waktu itu kontroversi Aisha Weddings masih sepi, Baskoro menduga saat itu kemungkinan masih tahap perguliran.
"Feelingku kali ini emang pakai strategi menggocek KOL (Key Opinion Leader) atau influencer karena dulu sudah babak belur karena masalah klepon haram yang sirkulasi informasi berawal dari sirkel itu itu aja kan? Cuma namanya DNA ya tetep aja kerasa," kata Baskoro
Mirip Isu Klepon Tidak Islami
Dunia maya pernah dihebohkan dengan kemunculan foto kue klepon bertuliskan 'Tidak Islami' tahun lalu. Konten itu menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat.
Drone Emprit, sistem besutan Ismail Fahmi untuk memonitor serta menganalisis media sosial dan platform online yang berbasis teknologi big data, pernah menganalisa fenomena viral foto klepon haram tersebut pada pertengahan Juli 2020 lalu.
Ismail Fahmi menyimpulkan, isu klepon tidak Islami itu sebenarnya membenturkan isu agama.
Dilihat dari hasil analisa, keyword yang sering dituliskan dalam mencari tahu soal klepon adalah 'kadrun'. Sebagian warganet percaya pembuat konten tersebut adalah kelompok muslim tertentu.
Sedangkan mereka yang curiga, kebanyakan mencari klarifikasi atau menuding kelompok lawannya yang membuat dan menggoreng sendiri.
Sejumlah pihak kala itu mendorong agar isu kue klepon tidak Islami yang memicu polemik di masyarakat itu diusut polisi. Namun, isu itu kemudian tenggelam seiring waktu. Dan isu serupa kembali terulang lewat Aisha Weddings.
==
