Akademisi hingga Mahasiswa Bedah Pendekatan Spiritual dalam Kesejahteraan Sosial

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung gelar seminar nasional terkait layanan pendampingan spiritual dan kemanusiaan (chaplaincy) guna perkuat kesejahteraan sosial, Rabu (23/9/2026).  Foto: Dok. Kemensos
zoom-in-whitePerbesar
Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung gelar seminar nasional terkait layanan pendampingan spiritual dan kemanusiaan (chaplaincy) guna perkuat kesejahteraan sosial, Rabu (23/9/2026). Foto: Dok. Kemensos

Kementerian Sosial melalui Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung menggelar Seminar Nasional bertajuk ‘Layanan Pendampingan Spiritual, Emosional, dan Kemanusiaan (Chaplaincy) dalam Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial.’

Forum akademis ini diselenggarakan untuk mengulas penanganan isu kesejahteraan sosial tidak hanya berfokus pada pemenuhan aspek fisik dan materi semata, tetapi juga secara komprehensif termasuk pendampingan spiritualnya.

Sekitar 650 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari sivitas akademika, Kementerian Sosial, praktisi pelayanan sosial, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa mengikuti kegiatan tersebut.

Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Pemberdayaan dan Penanganan Fakir Miskin, Ishaq Zubaedi Raqib menyampaikan penguatan layanan kesejahteraan sosial membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki wawasan luas. Oleh karena itu, penting melakukan peningkatan kapasitas agar mampu memberikan pendampingan yang sesuai dengan kompleksitas permasalahan masyarakat.

“Pendamping harus mampu memahami kebutuhan penerima layanan dari berbagai sisi sehingga intervensi yang dilakukan tidak bersifat parsial,” kata Zubaedi saat membuka kegiatan di Auditorium Kampus Poltekesos Bandung, Jawa Barat, Rabu (23/9/2026).

Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung gelar seminar nasional terkait layanan pendampingan spiritual dan kemanusiaan (chaplaincy) guna perkuat kesejahteraan sosial, Rabu (23/9/2026). Foto: Dok. Kemensos

Dalam sambutannya, Direktur Poltekesos Suharma menuturkan pengembangan layanan kesejahteraan sosial perlu berjalan seiring dengan pemahaman terhadap berbagai dimensi kehidupan penerima layanan dan perlu melihat manusia secara utuh.

“Tidak hanya persoalan sosial dan fisiknya, tetapi juga kondisi emosional, spiritual, serta kebutuhan untuk mendapatkan dukungan secara manusiawi,” ujar Suharma.

Lebih lanjut, Suharma berharap hasil seminar dapat dituangkan menjadi modul, yang akan menjadi pedoman untuk para pekerja kesejahteraan sosial. “Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat dikembangkan modul yang dapat menjadi bahan pembelajaran," katanya.

Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung gelar seminar nasional terkait layanan pendampingan spiritual dan kemanusiaan (chaplaincy) guna perkuat kesejahteraan sosial, Rabu (23/9/2026). Foto: Dok. Kemensos

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki pengalaman dan kepakaran dalam penyelenggaraan layanan sosial berbasis pendampingan spiritual, emosional, dan kemanusiaan. Seperti Peneliti dan Penulis Buku Muslim Chaplaincy Indonesia RR Rhetno Arobiatul Jauzak, dan Ketua Yayasan Anugrah Bhakti Barokah Ecek Karyan.

Kemudian, narasumber lainnya yaitu Anggota Yayasan Pondok Inabah Suryalaya Sri Nurhayati, Anggota Yayasan Welas Asih Eka Sukmawati, serta Sekretaris Pelayanan Wanita Teritorial Elsi Hariyati Sarimin.

Penyampaian materi dimoderatori oleh Wakil Direktur I Bidang Akademik Poltekesos, Lina Favourita Sutiaputri. Sesi seminar berlangsung dalam format dialog interaktif, para peserta tampak antusias sepanjang kegiatan, terlihat dari beberapa peserta yang menyampaikan pandangan dan pertanyaan, sehingga tercipta diskusi yang hangat.

Lina menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam penanganan isu kesejahteraan sosial di lapangan. Ia menuturkan pelayanan sosial tidak boleh hanya berfokus pada pemenuhan aspek fisik atau materi semata.

"Chaplaincy ini adalah pendekatan spiritual dalam menangani masalah kesejahteraan sosial. Jadi, masalah kesejahteraan sosial itu tidak hanya membutuhkan pelayanan yang bersifat fisik atau materi, tetapi juga perlu secara komprehensif," kata Lina.

Lina mencontohkan dengan pendekatan spiritual yang disentuh lebih awal dapat menggugah kesadaran penerima bantuan sosial (bansos) agar tidak terus bergantung pada bantuan pemerintah. Perubahan pola pikir ini diyakini mampu membuat penyaluran bansos menjadi lebih tepat sasaran.

“Andaikan spiritualnya dulu yang disentuh, mungkin misalnya bantuan sosial, banyak orang miskin, mungkin kalau spiritualnya sudah disentuh dan memahami makna arti hidup, mungkin dia akan berpikir sendiri, tidak akan mau lama-lama menjadi penerima bantuan sosial,” jelasnya.

Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung gelar seminar nasional terkait layanan pendampingan spiritual dan kemanusiaan (chaplaincy) guna perkuat kesejahteraan sosial, Rabu (23/9/2026). Foto: Dok. Kemensos

Sementara itu, Peneliti dan Penulis Buku Muslim Chaplaincy Indonesia, RR Rhetno Arobiatul Jauzak menyebutkan bahwa pendekatan spiritual berfungsi sebagai pilar pendukung utama untuk memulihkan martabat serta resiliensi para penerima manfaat.

"Dalam pekerjaan sosial kita pun sebetulnya ada yang kita namakan spirituality in social work yang saya kira saat ini kita bisa memberikan perhatian lebih untuk materi ini, dan saya kira ini akan mendukung layanan chaplaincy di Indonesia," kata Rhetno.

Melalui seminar nasional ini, Poltekesos terus mendorong penguatan kapasitas dan wawasan sivitas akademika serta para pegiat kesejahteraan sosial dalam mengembangkan pendekatan pelayanan yang komprehensif terhadap kebutuhan penerima layanan.