kumparan
19 November 2018 9:52

Akhir Pelarian Haris Simamora sang Pembunuh

Lipsus “Selasa Berdarah di Pondok Gede”. (Foto: kumparan)
Every murderer is probably somebody’s old friend. ― Agatha Christie
ADVERTISEMENT
Muhammad Soleh memilih menutup gerbang sekolah tempatnya berjaga, SMP Nasional I, ketika melihat siluet SUV disertai deru mesin menggerung di Jalan Bojong Nangka II, Jatirahayu, Pondok Melati, Kota Bekasi, Selasa (13/11). Mobil itu melaju kencang melibas polisi tidur yang melintang.
Soleh mengira tengah melihat aksi pencuri mobil membawa kabur mobil hasil curian. Anggota satuan pengamanan itu tak ingin berseteru dengan garong, dan memilih meringkuk di belakang gerbang. Saat itu waktu menunjukkan pukul 02.30 dini hari.
Di belakang setir SUV, Haris Simamora mengemudi dengan kecepatan tinggi. Tangannya terluka dan pakaiannya bersimbah darah. Ia baru meninggalkan keluarga kerabatnya di daerah itu dalam kondisi tak bernyawa.
Malam itu, Haris mengambil alih peran malaikat pencabut nyawa dan menumpas empat orang anggota keluarga Daperum Nainggolan.
ADVERTISEMENT
Daperum, Maya Boru Ambarita sang istri, dan Sarah Marisa Putri Nainggolan serta Yehezkiel Arya Paskah Nainggolan anak mereka, tewas di tangan Haris pada malam jahanam itu.
Daperum dan Maya terkapar di ruang tengah dengan luka menganga di leher dan bekas benturan linggis di kepala. Sementara Sarah dan Arya masih yang berumur 9 dan 7 tahun, terbujur kaku di kamar mereka. Keduanya tewas kehabisan napas karena dicekik.
Keluarga Daperum Nainggolan. (Foto: Dok. Istimewa)
Kekacauan di rumah Daperum, pemilik Toko Sanjaya, dimulai dengan senyap. Seperti biasa, pintu rumah, indekos, serta warung yang dikelola Daperum mulai tutup malam itu. Sudah waktunya keluarga kecil itu beristirahat.
Saudara mereka, Haris Simamora, datang berkunjung. Ia menginap di sana malam itu karena hendak berbelanja baju natal bersama Maya. Di dapur rumah saudaranya itu, Haris bermain telepon genggam.
ADVERTISEMENT
Entah dari mana ia memulai pembantaian, tapi linggis yang berada dalam jangkauannya menumbuhkan niat untuk membunuh. Haris, menurut polisi, kalap karena merasa sebal habis dimarahi tuan rumah.
Kekejian yang ia lakukan di rumah keluarga Daperum, tampak membuat Haris kehilangan akal sehat. Entah sekalut apa pikirannya kala menembus gelap di jalan kampung selebar 3,5 meter dengan SUV yang ia ambil dari rumah Daperum itu, yang jelas Haris telah mempersiapkan rute pelarian.
Ia mengantongi uang Rp 2 juta, dan membawa serta linggis penuh darah yang ia pakai untuk menghabisi Daperum dan Maya.
Indekos di belakang rumah keluarga Daperum, korban pembunuhan Pondok Gede. (Foto: Reki Febrian/kumparan)
Seorang perempuan penghuni indekos, Sulis, dini hari itu mendengar nyala mesin mobil tak seperti biasanya. Begitu mesin menyala, mobil seperti langsung tancap gas keluar dari gerbang, tak dipanaskan lebih dulu.
ADVERTISEMENT
“Suara mobilnya pelan, sih. Dia langsung jalan. Biasanya kalau mereka (keluarga Daperum) pergi, memanaskan mesin dulu cukup lama,” kata Sulis ketika ditemui kumparan di indekosnya yang dikelola almarhum Daperum.
Namun kejanggalan itu tak terlalu mengusik Sulis. Ia enggan melongok keluar, dan memilih kembali memejamkan mata.
Mobil itu, Nissan X-Trail silver bernomor polisi B 1075 UOG, ialah yang dilihat dalam bentuk siluet oleh Soleh, satpam SMP Nasional I.
Waktu saat Sulis mendengar bunyi mobil tancap gas dari rumah Daperum, dengan waktu saat Soleh melihat siluet SUV ngebut, berdekatan. Sekitar pukul 02.30 WIB.
Laju SUV itu jadi langkah pelarian pertama Haris. Lepas dari jalanan depan rumah kerabatnya, ia memacu mobil menuju kosnya di Kampung Pasir Limus, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.
ADVERTISEMENT
Ia sengaja memilih jalur tak biasa dengan melintas di jembatan Sungai Kalimalang, Jalan Raya Tegal Danas, Cikarang, Bekasi. Di situ, ia membuang linggis yang merupakan barang bukti pembunuhan.
Video
Pukul 06.00 WIB, Haris tiba di kos kawasan Pasir Limus. Di situ, ia mandi dan berganti baju. Haris sempat mampir ke klinik yang terletak 500 meter dari kosnya untuk mengobati tangannya yang terluka.
Setelah beres, Haris melanjutkan pelarian. Mobil milik kerabatnya kembali ia pacu menuju kos seorang bekas rekan kerjanya di PT. Ustra Tampi Indonesia di Jurong, Cikarang.
Setahun lalu, Haris bertandang ke kos itu saat masih karyawan Ustra. Tapi ia kini sudah tak bekerja di perusahaan itu lagi.
ADVERTISEMENT
Sekitar pukul 10.30 WIB, Haris menemui Johan, pengelola kosan itu. Ia memesan kamar di situ, dan menitipkan uang muka sebesar Rp 400 ribu dari harga sewa kamar yang total Rp 900 ribu sebulan, sebagai tanda jadi pemesanan kamar B 208.
“Dia omong titip mobil, dan mau ambil pakaian dulu di kontrakan satunya. Terus dia bilang, malamnya akan balik lagi,” kata pemilik kos, Alif Baihaqi, kepada kumparan, Jumat (16/11).
Haris Simamora, pembunuh keluarga Daperum Nainggolan. (Foto: Fadjar Hadi/kumparan)
Haris tak sadar, kedatangannya ke indekos di Jurong justru jadi awal terendusnya dia oleh polisi. Desas-desus keberadaan pembunuh keluarga Daperum merebak di kosan itu. Bekas rekan Haris bercerita, polisi juga mencari pembunuh yang yang identik dengan Haris, sampai ke perusahaannya.
ADVERTISEMENT
Alif tergelitik untuk mencari tahu. Ia mengirimkan foto mobil yang dititipkan Haris di kosan itu ke salah seorang kerabatnya di kepolisian.
Kepingan teka-teki mulai terjawab. Informasi Alif soal mobil itu cocok dengan pencarian polisi. Alif pun datang ke Polres Bekasi dan membeberkan keberadaan Haris.
Perburuan dimulai. Seorang intel ditempatkan di kosan Alif untuk berjaga-jaga jika Haris kembali. Pada saat yang sama, polisi melacak telepon Haris melalui pesan singkat yang dikirim Alif selaku pemilik kosan kepada Haris.
“SMS (ke Haris) dibalas, lalu polisi melacak pakai nomor itu,” ujar Alif.
Gunung Guntur, lokasi yang dituju Haris Simamora, pembunuh keluarga Daperum Nainggolan. (Foto: Dok. Iqbal Gojali)
Jarak pelarian Haris sudah semakin jauh. Ia menjejak kaki Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat, kala polisi mengendus jejaknya.
Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, Haris sudah mempersiapkan perjalanan ke Garut setelah menitipkan mobil Nissan X-Trail di Jurong.
ADVERTISEMENT
Usai menaruh mobil, Haris berangkat menuju terminal untuk menumpang bus tujuan Garut. Tapi karena berjam-jam tak mendapat angkutan, ia sempat kembali ke kosan pertamanya di Pasir Limus, lalu balik lagi ke terminal dengan sepeda motor.
“Pelaku berangkat kembali ke terminal bus menggunakan motornya, dan mendapatkan bus yang akan berangkat dari Cikarang ke Garut, lalu berangkat dengan bus menuju Gunung Guntur,” tulis keterangan pers kepolisian.
Sumber lain di kepolisian menyebutkan, Haris sempat pergi ke Purwakarta untuk menjual mobil. Namun sesampainya di sana, calon pembeli tak muncul. Oleh sebab itu ia kembali ke Cikarang.
Rabu (14/11) pukul 10.00 WIB, Haris sampai di basecamp Gunung Guntur. Ia bersandal jepit, kaus oblong, celana pendek, membawa tas kecil, dan terlihat kusut.
Area menuju lokasi penangkapan Haris Simamora di kaki Gunung Guntur, Garut. (Foto: Dok. Iqbal Gojali)
Haris berbaur dengan pendaki lain asal Bandung, dan beristirahat di saung. Ia mengatakan tak segera mendaki karena masih menunggu teman dari Jakarta.
ADVERTISEMENT
Haris sempat luntang-lantung di sekitar lokasi itu. Ia turun untuk membeli makan, pulsa, dan baju.
Saat itu, polisi sudah mengendus keberadaan Haris di kaki gunung itu. Maka tim gabungan dari Resmob, Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, dan Polres Kota Bekasi menyusun siasat agar kehadiran mereka tak membuat gempar penduduk sekitar.
Seorang pedagang di tempat Haris membeli pulsa, Dewi, mereka korek keterangannya. Foto dan nomor telepon yang disodorkan ke Dewi klop dengan identitas Haris.
Pukul 21.00 WIB, polisi meminta bantuan pendaki dan warga untuk memastikan Haris berada di saung Kampung PLP Citiis, Desa Pesawahan, Tarogong, Garut. Mereka berkelindan di sekitar Haris, berjaga agar ia tak kabur.
Gubuk tempat Haris Simamora ditangkap di Garut. (Foto: Dok. Iqbal Gojali)
Polisi datang tak lama kemudian. Mereka meringkus Haris dalam sekali sergap. Tersangka pembunuh keluarga Daperum itu masih mengelak dari tuduhan, tapi polisi menemukan kunci mobil Nissan X-Trail dalam tasnya.
ADVERTISEMENT
Rabu malam itu terasa panjang bagi Haris. Nasibnya sudah berakhir ketika borgol polisi mengunci dua pergelangan tangannya. Polisi memutuskan untuk menginap di sebuah hotel sebelum membawanya ke Jakarta.
Pelarian Haris Simamora di Tiga Kota. (Foto: Basith Subastian/kumparan)
Kamis (15/11), gigi depan Haris rontok ketika memasuki Markas Polda Metro Jaya. Ia meringkuk di balik jeruji. Pelariannya berakhir.
Kini Haris harus menanggung jerat hukum atas kekejiannya. Ia dikenai Pasal 340 dan 365 KUHP tentang pembunuhan berencana dan terancam hukuman mati.
------------------------
Simak rangkaian laporan lengkapnya dalam Liputan Khusus kumparan: Selasa Berdarah di Pondok Gede