Alasan FKPPI Pecat Tri Susanti: Mengancam Kebhinekaan

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aktivis FKPPI Tri Susi. Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Aktivis FKPPI Tri Susi. Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan

Sekretaris Pengurus Daerah (PD) XIII Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan TNI/Polri (FKPPI) Jawa Timur, Tony Hartono membenarkan Tri Susanti dipecat dari organisasinya.

Tindakan itu dilakukan lantaran Tri Susanti dianggap terlibat dalam insiden penggerudukan asrama mahasiswa Papua, di Jalan Kalasan, Surabaya pada 16 Agustus lalu. Pada saat penggerudukan itu, Susi, sapaan Tr Susanti, membawa atribut FKPPI. Menurut Tony, hal itu dianggap bertentangan dengan aturan dasar FKPPI.

“Jadi pencabutan keanggotaan dari sisi administrasinya di situ jelas menurut anggaran rumah tangga kita itu yang mengancam kebhinekaan. Enggak boleh berbenturan pada aturan rumah tangga. Aturan rumah tangga aturan kita tertinggi,” ujar Tony saat dihubungi kumparan, Jumat (23/8).

“Dengan begitu hak-haknya sebagai anggota hilang karena keputusan itu,” imbuhnya.

embed from external kumparan

Tony menyebut, kegiatan Susi terkait inisiasi pemasangan bendera dan kedatangannya di asrama mahasiswa Papua dengan membawa nama FKPPI melanggar aturan lembaga. Terlebih, hal itu berkaitan dengan isu rasial.

“Kita diskusi, kita pertimbangkan dengan fakta-fakta dan sebagainya di lapangan kalau FKPPI ini pasti NKRI. Kita menghargai keberagaman. Kita jaga baik etnis, suku, SARA. Kita merah-putih. Kok kenapa dia turun membawa hal yang akhirnya berdampak seperti ini. Secara organisasi kan sangat destruktif,” bebernya.

Sebelumnya, FKPPI menegaskan tak terlibat dalam aksi massa di depan asrama mahasiswa. Tony mengungkapkan organisasinya tak menginstruksikan untuk menginisiasi pemasangan bendera dan mendatangi asrama.

"Jelas enggak bener dong kita ini kan jelas organisasi yang punya ciri. Jelas karena kita pembinaan TNI/Polri. NKRI kita pasti toleran, kita pasti saling menghargai baik itu etnis, ras dan agama. Enggak mungkin begitu," ujarnya, Rabu (21/8).