Alasan PDIP Dorong Pemilu Proporsional Tertutup: Agar Caleg Tak Saling 'Bunuh'

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah. Foto: DPR RI
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah. Foto: DPR RI

Ketua DPP PDIP Said Abdullah mengatakan, partainya masih mendorong Pemilu 2024 menggunakan sistem proporsional tertutup. Selama ini, Pemilu menggunakan sistem proporsional terbuka.

Said menilai, Pemilu proporsional tertutup lebih sesuai dengan kultur Indonesia dan bisa menghentikan caleg satu partai saling jegal.

"Kami ingin pemilu itu [hanya] mencoblos gambar [partai]. Karena itulah sesuai dengan kultur kita. Tapi kita dipaksa liberal betul melebihi Amerika. Satu partai pun calonnya saling bunuh. Jangankan dengan partai lain. Di nomor urut kami saja saya dengan Pak Rudi satu dapil, saya [ibarat] saling bunuh. Kan, salah kaprah keputusan itu," kata Said di Gedung DPR Senayan, Senin (21/11).

Dalam proporsional terbuka, Pileg dilakukan dengan proporsional terbuka atau suara terbanyak perseorangan. Sementara dalam proporsional tertutup, masyarakat hanya perlu memilih partai.

Artinya, parpol berwenang penuh menentukan kader yang ingin ditempatkan di lembaga perwakilan melalui proses pendidikan dan rekrutmen politik secara demokratis sebagai amanat UU Parpol.

kumparan post embed

Bisa Tekan Praktik Politik Uang

Said mengatakan, sistem proporsional tertutup akan membuat biaya Pemilu lebih murah dan mengurangi praktik politik uang.

"Kalau pemilunya nyoblos tanda gambar, cost-nya tidak mahal, murah meriah, dan anggota yang terpilih punya bobot. Karena apa? Dia pasti pengurus partai. Orang yang sudah dikader, yang sudah dapat penugasan, bukan ujug-ujug pedagang jadi politisi," ujarnya.

"Kalau nyoblos tanda gambar, ya, sudah, kampanye partai. Enggak perlu duit. Wong kampanye partai, kok. Tapi ketika, 'Eh, rakyat tolong pilih Said', ya, bagi sembako lah, bagi ini lah, itu, kan, enggak bisa dihindari," tambah dia.

Menurut Said, setiap caleg sudah pasti akan mengikuti arahan partai. Meski yang dipilih individu, sudah pasti sikapnya mewakili partai.

"Kepentingan organisasi apa kalau kita masuk organisasi? Kita bersepakat di organisasi apa? Kita bersepakat oke keputusannya A, semua harus A. Kan, lucu masuk organisasi tapi maunya sendiri. Ya, kita jangan masuk organisasi, dong [kalau begitu]," ujar Said.

Sebelumnya, usulan pemilu proporsional tertutup telah beberapa kali disampaikan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Ide ini didukung oleh Menko Polhukam Mahfud MD.