Anak dalam Video Porno di Bandung Akan Kembali Bersekolah

Tiga orang anak di bawah umur yang menjadi korban eksploitasi seksual dalam sebuah adegan video porno akan dikembalikan ke sekolah. Anak-anak tersebut sebelumnya akan mendapatakan trauma healing dari P2TP2A Jawa Barat.
Kepala Polda Jawa Barat Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengatakan, saat ini ketiga korban masih didampingi oleh unit perlindungan anak Polda Jabar. Selain itu, kepolisian pun menggandeng P2TP2A untuk membantu meminimalisir dampak dari trauma korban.
"Kami utamakan mereka trauma healing sehingga di-recovery dan bisa semangat lagi," kata Agung saat sesi jumpa pers di Markas Polda Jabar, Senin (8/1).
Sementara itu, Ketua P2TP2A Jabar Netty Heryawan mengatakan, pihaknya akan membantu ketiga korban tersebut agar kembali bersekolah. Dari ketiga korban yang masih berusia SD, dua diantaranya telah putus sekolah.
"Terakhir yang akan dilakukan, mengembalikan anak tersebut ke bangku sekolah. Karena bagaimanapun satu di antara ketiganya masih bersekolah, dua putus sekolah," kata istri Gubernur Ahmad Heryawan tersebut di Polda Jabar.

Ia pun berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Ia berpesan kepada polisi agar para pelaku dihukum dengan dijerat pasal yang maksimal.
"Ini mencabik-cabik nurani kita sebagai manusia yang mempunyai dasar negara Pancasila. Negara kita yang sedang menyiapkan pemimpin yang berkualitas, ini dinodai oleh tersangka," kata Netty.
"Mudahan-mudahan Kapolda tidak ragu melakukan proses penegakan hukum," lanjutnya.
Dari kasus tersebut, polisi menangkap 6 orang yang diduga sebagai pelaku. Dua diantaranya merupakan orang tua korban. Keenam orang tersebut bakal dijerat dengan Undang-undang Perlindungan Anak, Pornografi juga Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Berdasarkan pengakuan pelaku, mereka telah memproduksi 2 video dan satu foto yang menampilkan adegan ranjang. Video tersebut direkam di dua hotel di kawasan Kota Bandung pada bulan Mei hingga Agustus 2017. Diduga, video tersebut merupakan pesanan dari warga negara asing Kanada dan Rusia.
Video tersebut sempat bocor ke media sosial. Sehingga, pada awal tahun 2018, perbincangan mengenai video tersebut sempat viral.
