Analisis Drone Emprit soal #TurunkanJokowi Jelang Demo Mahasiswa 11 April
·waktu baca 4 menit

Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) bakal menggelar aksi unjuk rasa pada Senin (11/4) mendatang. Demo tersebut rencananya akan dihadiri oleh ribuan mahasiswa dan berpusat di sekitar Istana Merdeka Jakarta.
Jelang hari H aksi mahasiswa itu, tagar #TURUNKANJOKOWI dan #GOODBYEJOKOWI muncul di Twitter.
Founder sistem analisis data Drone Emprit, Ismail Fahmi menyoroti hal ini. Dalam thread-nya yang diunggah pada Sabtu (9/4) di Twitter, Ismail mengatakan dua tagar tersebut hadir seakan-akan itu adalah tuntutan mahasiswa. Ia menduga tagar tersebut berasal dari “penunggang demo mahasiswa”.
BEM SI sebelumnya telah menyatakan beberapa tuntutan yang akan dibahas dalam demo, yakni tolak penundaan Pemilu, kaji ulang UU IKN, usut mafia minyak goreng, selesaikan konflik agraria, serta menuntaskan janji-janji kampanye. Tak satu pun tuntutan itu berbunyi soal meminta Jokowi turun dari jabatannya.
Berdasarkan analisis Ismail dengan Drone Emprit selama 7 hari terakhir, terdapat sekitar 24,7 ribu percakapan di Twitter yang menggunakan keyword #TurunkanJokowi dan #GoodbyeJokowi.
Tren itu naik mulai 4 April dengan tagar #TurunkanJokowi hingga mencapai puncaknya pada 7 April dengan tagar #GoodbyeJokowi. Bahkan, tercatat ada 12 ribu mention dengan tagar #GoodbyeJokowi.
Salah satu cuitan yang paling banyak di-retweet datang dari akun @PecanduKretek. Cuitan itu juga mendulang 12,8 ribu likes.
“Sekali merdeka tetap merdeka #GoodbyeJokowi,” tulis @PecanduKretek pada 6 April lalu.
Ismail mengungkapkan, selain akun tersebut ada beberapa top influencers yang gencar memviralkan topik #TurunkanJokowi. Hasil Social Network Analysis (SNA) menunjukkan, mereka adalah @cybsquad_, @Android_AK_47, @abu_waras, dan @akunkelima212.
Dari hasil pantauan kumparan, mayoritas akun tersebut mempunyai lebih dari 8 ribu followers, bahkan ada yang nyaris 100 ribu. Hanya akun @PecanduKretek saja yang punya 300-an followers. Semua akun tersebut rajin mengunggah cuitan yang bernada ‘menjatuhkan’ Jokowi serta me-retweet cuitan serupa lainnya.
“Percakapan topik ini tampak jelas dibangun oleh hanya satu klaster. Sentimen negatif (merah) terhadap Jokowi diperlihatkan melalui ekspresi tagar yang digunakan,” tulis Ismail.
Ia mengatakan, cuitan yang mengandung gambar atau video biasanya mendapat engagement yang lebih tinggi dibandingkan yang dibuat dengan teks saja.
Pada cuitan yang menggunakan dua tagar itu, para influencer kerap menyisipkan gambar dengan narasi Turunkan Jokowi, Reformasi Jilid II, Bergerak Sampai Rezim Tumbang, dan lain-lain.
Cuitan disertai gambar yang paling banyak dibagikan adalah milik akun @Android_AK_47 dengan 1.700 retweet. Gambar tersebut bahkan mengatasnamakan BEM SI, padahal itu terbukti hoaks. Meski telah dihapus, Drone Emprit masih bisa mengambil datanya.
“Hal yg paling indah yang Gw harapkan dibulan Ramadhan ini adalah rezim ini tumbang, qobbul ra robb… #GoodbyeJokowi,” tulis akun itu.
Ismail Fahmi juga menganalisis emosi yang dibawa oleh tiap cuitan #TurunkanJokowi atau #GoodbyeJokowi. Hasilnya, emosi “fear” atau “ketakutan” adalah yang paling sering muncul. Para influencer melalui cuitannya kerap memasukkan kata “ngeri” serta menghasut netizen agar setuju untuk menurunkan Jokowi.
Di samping itu, akun-akun tersebut juga sering membuat cuitan random yang ditambahkan tagar #GoodbyeJokowi atau #TurunkanJokowi. Meski tak relevan, cuitan semacam itu bertujuan agar masuk trending.
Bisa Membahayakan Mahasiswa
Menurut Ismail, kemunculan dua tagar tersebut bisa membahayakan mahasiswa yang nanti demo. Sebab, jika tagar terus dibiarkan, maka nantinya pihak aparat akan menduga narasi #TurunkanJokowi datang dari mahasiswa.
“Kemudian dari pihak-pihak yang lain juga akan menuding mahasiswa pingin menurunkan Jokowi. Artinya, banyak orang-orang (yang) pingin menurunkan (Jokowi) jadi ikutan demo, kan. Padahal narasi mahasiswa kan berbeda,” kata Ismail Fahmi kepada kumparan, Sabtu (9/4).
Menurutnya, tuntutan #TurunkanJokowi bersifat inkonstitusional. Oleh karena itu, kemunculan tagar tersebut bisa membuat polisi punya alasan untuk menghentikan aksi dengan kekerasan.
“Itu (analisis) saya buat biar tahu ini (tagar) bukan dari mahasiswa. Mahasiswa tuntutannya jelas. Ini dari pihak yang lain,” imbuh Ismail.
Fenomena serupa pernah terjadi saat demo mahasiswa tolak RUU KUHP tahun 2019 silam.
Saat itu, tagar #TurunkanJokowi juga viral, sementara mahasiswa membuat tagar #ReformasiDikorupsi. Mahasiswa pun dituding berniat menurunkan Jokowi oleh banyak pihak.
“Tudingan itu stop ketika saya bikin SNA (Social Network Analysis) juga waktu itu. Saya liatin clear bahwa enggak, tuh, mahasiswa pengin—itu adalah kelompok oposisi,” kata Ismail.
Oleh sebab itu, dia menyarankan mahasiswa segera menggunakan tagar sendiri yang berisi inti tuntutan mereka, semisal #TolakTundaPemilu atau #TuntaskanJanji. Sebab, kata dia, mereka yang ingin menunggangi demo dengan narasi menurunkan Jokowi biasanya enggan mengangkat topik tuntutan itu.
