Anas Areyemaw Anas, Reporter Jago Menyamar

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Anas Areyemaw Anas (kiri) (Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA)
zoom-in-whitePerbesar
Anas Areyemaw Anas (kiri) (Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA)

Ada pemandangan menarik di Hari Kebebasan Pers Sedunia 2017 yang berlangsung di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada 1-4 Mei. Itu adalah kehadiran Anas Areyemaw Anas dalam sebuah diskusi pada Rabu (3/5).

Jurnalis asal Ghana itu tampil dengan penutup wajah. Ini terkait dengan statusnya sebagai jurnalis investigatif yang biasa melakukan penyamaran. Merahasiakan wajah secara konsisten menjadi hal penting untuk keberhasilan investigasi dan untuk keselamatannya.

Prestasinya dalam menginvestigasi membuatnya meraih penghargaan Reporter Investigasi dengan Penyamaran. Dia juga menjadi tokoh inspirasional dengan menyabet Tokoh Muda Paling Berpengaruh di Ghana pada 2016.

Baca juga:

Jokowi Minta Media Mainstream Luruskan Informasi Hoax

Jokowi Hadiri Hari Kemerdekaan Pers Dunia Bareng Ramos Horta

Anas memiliki motto name, shame, jail atau nama, malu, penjara. Pria yang lahir akhir 70-an ini terkenal karena menggunakan anonimitasnya sebagai alat investigasi. Sangat sedikit orang yang melihat wajahnya.

Anas kedua dari kanan (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
zoom-in-whitePerbesar
Anas kedua dari kanan (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Anas fokus pada isu-isu HAM, utamanya eksploitasi pada anak-anak, dan isu antikorupsi di Ghana dan sub-Sahara Afrika. Produk investigasinya dibuat dalam media cetak dan film dokumenter.

Salah satu hasil investigasinya adalah rekaman film berjudul Ghana in the Eyes of God yang secara dramatis menggambarkan penyuapan di dunia peradilan di negaranya. Rekaman ini menyebabkan puluhan hakim diperiksa oleh otoritas Ghana. Lebih dari 30 hakim dan 170 petugas peradilan terlibat dalam skandal korupsi terbesar di Ghana.

Anas sering tampil dalam acara-acara publik, seperti ceramah di TED tentang upayanya menguak kasus korupsi dan kejahatan terorganisir yang bisa ditemukan di Youtube, maupun tampil dalam diskusi pada Rabu (3/5) kemarin dalam rangka peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia di JCC Jakarta. Dalam diskusi tersebut, dia muncul dengan tirai wajah berwarna keemasan dan rompi berkapucong, seperti foto di atas. Diskusi tersebut mengangkat tema jurnalisme investigasi dalam perspektif Asia Tenggara.

Anas Aremeyaw (tengah) menerima penghargaan (Foto: Facebook Anas Aremeyaw Anas)
zoom-in-whitePerbesar
Anas Aremeyaw (tengah) menerima penghargaan (Foto: Facebook Anas Aremeyaw Anas)

Anas selalu muncul dengan wajah yang ditutupi tirai terbuat dari logam atau tali-tali sederhana. Dia sepertinya selalu mempersiapkan penyamaran dengan sebaik-baiknya.

Hanya sedikit yang tahu wajahnya, mungkin keluarga dekatnya saja.

Dalam wawancara eksklusif di BBC pada 2015, memang dia pernah membuka penutup wajahnya. Pertama dia membuka topi hitam, maka tampaklah topi kecil khas Ghana di atas kepalanya, rambut keriting palsu dan tirai wajah warna emas. Ketika itu semua dia angkat, baru muncullah wajahnya yang warna "kulitnya" cukup terang, agak berbeda dengan warna kulit aslinya.

“Anda bilang ingin melihat wajah saya, jadi saya kasih lihat wajah saya,” ujarnya saat melihat si reporter BBC terpana menyaksikan wajahnya yang tetap saja di bawah penyamaran.

Penyamaran Anas bolehlah dibilang memang sempurna.

video youtube embed