Anies: Testing Jakarta 12 Kali Lipat Standar WHO, Sepekan Capai 120 Ribu Orang

Gubernur DKI Anies Baswedan memastikan Pemprov DKI melakukan penanganan corona dari sisi testing dan tracing secara serius. Saat ini, kemampuan testing Jakarta mencapai 12 kali lipat dari standar WHO untuk Jakarta.
"Januari pekan pertama sampai pekan keempat, jumlah orang tes setiap pekan itu di atas 120 ribu. Sementara menurut WHO, 10 ribu testing per minggu ini minimum di Jakarta. Karena penduduk Jakarta 10 juta, sementara harus seribu penduduk per satu juta," kata Anies dalam webinar bersama JMSI, Senin (8/2).
Dia mengatakan, 120 ribu testing yang dicatat di DKI setiap pekannya di bulan Januari merupakan jumlah orang yang dites, bukan spesimen. Jadi jika ada satu orang melakukan testing lebih dari satu kali tetap dihitung satu.
"Ini jumlah orang, bukan jumlah spesimen. Jadi orangnya bukan spesimennya. Kadang kita campurkan. Yang dihitung WHO jumlah orang dites. Jadi kalau saya dites berkali-kali ya orangnya sama. Orangnya bukan jumlah tesnya," jelasnya.
Sementara itu, dari total jumlah spesimen yang dites di Jakarta, 15% merupakan testing lanjutan.
"Nah di Jakarta 85% adalah tes pertama, 15% tes kedua, ketiga. Kita lakukan 12 kali lipat dari standar minimum. Supaya kita bisa temukan kasus dengan cepat," tuturnya.
Sementara itu, untuk tracing di Jakarta, saat ini ada 1.500 tenaga tracer di puskesmas. Dari 301 puskesmas, setiap unit terdapat 5 petugas.
"Di Indonesia saat ini ada 5 ribu tracer dan 1.500 ada di Jakarta. Kami lakukan rekrutmen tracer lagi. Kita lakukan rekrutmen dan dibantu BNPB untuk pembiayaan gaji mereka, tapi inisiatif di daerah. Sekarang ada 301 puskesmas, tiap 1 puskes ada 5 tenaga tracer," terangnya.
"Sehingga di Jakarta angka tracing kita 1 8. Dari 1 kasus ketemu, dicari 8 orang yang berinteraksi rata-ratanya," tutupnya.
