Anies: TIM Bukan Tempat untuk Cari Untung
·waktu baca 2 menit

Taman Ismail Marzuki (TIM) telah merampungkan seluruh proses revitalisasinya dan kembali dibuka untuk umum. Artinya, TIM sudah kembali bisa menggelar berbagai pentas seni.
Ke depannya, Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan mengatakan, tidak akan mengkomersialisasikan TIM.
“Apa yang dimaksud tidak komersial? artinya adalah begini, tidak dijadikan tempat untuk mencari untung,” kata Anies kepada wartawan di kawasan TIM, Jakarta Pusat, Senin (26/9).
Revitalisasi total TIM diketahui membutuhkan anggaran sebesar Rp 1,4 triliun, yang bersumber dari PEN dengan biaya pemeliharaan setiap tahunnya sekitar Rp 90 miliar.
Meski membutuhkan anggaran yang cukup besar, Anies menegaskan tidak akan mengejar keuntungan untuk menutupi kebutuhan biaya tersebut. Untuk biaya pemeliharaan dan pengadaan pentas seni, akan disubsidi sepenuhnya oleh Pemprov DKI Jakarta.
Hingga akhir tahun ini saja, Pemprov DKI mengajukan subsidi sebesar Rp 28 miliar dalam APBD Perubahan tahun anggaran 2022 untuk penyelenggaraan aktivitas seni budaya di TIM.
“Walaupun kita investasi Rp 1,4 T, tapi kita tidak kemudian mencari pendapatan untuk menutup investasi Rp 1,4 triliun semata-mata. Jadi bukan begitu, karena ini kita mencari manfaatnya,” tutur Anies.
“Karena bagaimana pun juga kalau kita mengeluarkan anggaran untuk kegiatan seni budaya jangan harap ada pemasukan dari kegiatan seni,” lanjutnya.
Agar alokasi subsidi tetap sasaran, seluruh pagelaran budaya dan kesenian di TIM akan melewati proses kurasi yang dilakukan oleh Dewan Kesenian Jakarta.
“Dengan begitu, tempat ini terjaga marwahnya, dan yang tampil juga begitu, untuk yang tampil di TIM dia harus lolos kurasi. Tidak semata-mata karena punya yang lalu bisa sewa TIM,” pungkasnya.
