Antisipasi Tarif 'Nuthuk' saat Nataru, Turis di Yogya Jangan Ragu Tanya Harga
ยทwaktu baca 2 menit

Jelang libur Natal dan tahun baru (Nataru) salah satu hal yang patut diwaspadai wisatawan adalah fenomena nuthuk. Nuthuk yaitu tarif dipatok lebih tinggi dari harga wajar suatu barang atau jasa.
Hal ini pula yang kerap terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saat musim libur.
"Kalau di tempat parkir yang resmi jelas itu tidak terjadi (fenomena nuthuk). Di pedagang yang sudah menetap seperti Teras Malioboro sudah kita atur. Ada sanksi kalau melakukan itu," kata Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji ditemui di Kepatihan Pemda DIY, Jumat (16/12).
Fenomena nuthuk ini menurut Aji kerap terjadi di tempat parkir atau pedagang dadakan. Aji mengakui bahwa hal-hal seperti ini memang sulit dikendalikan.
Maka dari itu, wisatawan harus selektif memilih lokasi parkir maupun tempat makan. "Begitu berhenti mau cari tempat parkir atau mau makan beli sesuatu tanyakan dulu harganya," katanya.
Aji mengatakan, kantong-kantong parkir akan ditambah dengan memanfaatkan lahan-lahan aset Pemda DIY. Misalnya saja halaman GOR Amongrogo dan Mandala Krida.
Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo mengatakan fenomena nuthuk memamg meresahkan. Membuat citra pariwisata di Yogyakarta menurun.
"Kita sudah persiapan secara baik untuk pelaku pariwisata, baik itu sarana prasarana maupun SDM dan paket-paket wisata. Tapi dicederai hal seperti itu (nuthuk) kan nyesek ya," katanya.
Singgih mengatakan bahwa pihaknya selalu berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah lainnya untuk mencegah fenomena nuthuk. Jika Yogyakarta nyaman dan aman, maka wisatawan tidak akan kapok kembali ke Yogyakarta.
"Harus bersama-sama. Saya berharap dari kepolisian dari perhubungan (Dishub) melakukan pembinaan terhadap hal-hal yang seperi itu. Seperti parkir dan juga makanan. Kita harus sama-sama memberikan punishment karena itu menciderai apa yang selama ini kita lakukan," kata Singgih.
