Anwar Abbas Imbau Menag Gus Yaqut Hati-hati soal Afirmasi Ahmadiyah dan Syiah

kumparanNEWSverified-green

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sekjen MUI Anwar Abbas.  Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sekjen MUI Anwar Abbas. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Waketum MUI, Anwar Abbas, menanggapi pernyataan Menag Yaqut Cholil Qoumas soal afirmasi terhadap Syiah dan Ahmadiyah. Ia meminta Menag hati-hati dalam persoalan ini.

"Sehubungan dengan rencana Menag baru untuk mengafirmasi syiah dan Ahmadiyah, saya mengimbau Menag untuk berhati-hati. Karena masalah ini masalah sensitif, bersifat teologis," kata Anwar dalam keterangan videonya kepada wartawan, Kamis (25/12).

Masalah yang akan banyak dibicarakan ini, menurut Anwar, bukan masalah furuiyah tapi masalah fundamental. Menyangkut masalah keimanan dan keyakinan, jadi harus ekstra hati-hati.

Berikut keterangan lengkap Anwar Abbas:

embed from external kumparan

Assalamualaikum Sehubung dengan rencana Menag baru untuk menganfirmasi syiah dan Ahmadiyah, saya mengimbau Menag untuk berhati-hati. Karena masalah ini masalah sensitif, bersifat teologis.

Masalah yang akan banyak dibicarakan bukan masalah furuiyah tapi masalah fundamental. Menyangkut masalah keimanan dan keyakinan.

Oleh karena itu bagi saya, saya tidak antidialog. Silakan dialog.Tapi saran saya sebelum ada dialog Sunni dan Syi'i di negeri ini, antara umat Islam dan Ahmadiyah, harus diupayakan kesatuan sikap dan pandangan dari umat Islam soal apa itu Syiah. Bagaimana ahlu ssunnah wal jamaah atau Sunni memandang Syii. Itulah yang dibawa dalam dialog Sunni dan Syii yang dibawa Menag.

Tapi seandainya kalau di antara internal atau Sunni belum selesai, untuk saya dialog itu akan kacau balau. Akan menimbulkan ketegangan, keributan yang luar biasa. Antara maksud dan fakta berbeda.

Maksud kita ingin negeri ini aman tetapi yang terjadi sebaliknya. Menag sebaiknya mengundang tokoh umat islam dan ulama kharismatik untuk satukan sikap dan pandangan, umat Islam Indonesia terhadap Syiah dan Ahmadiyah. Itulah yang akan dikeluarkan dalam dialog.

Kalau saya pribadi ditanya soal Syiah. Kita melihat secara empiris Syiah ada di negeri ii. Di Iran dominan, di Irak juga begitu. Ini fakta. Sementara kehadiran Sunni juga sudah merupakan fakta. Dan mereka sama-sama menyatakan mereka muslim.

Tapi ada perbedaan perbedaan fundamental dari kedua aliran ini. Untuk tu saya menyarankan bagi kedamaian dunia Islam. Di darah yang mayoritas Syiah saya mengimbau saudara saya kelompok Sunni tidak terlalu agresif menyebarkan paham dan ajarannya. Sebaliknya di negara Sunni mayoritasnya, saya mengimbau Syiah jangan agresif dalam menyampaikan pahamnya.

Karena kalau seandainya hal itu terjadi akan terjadi gesekan dan benturan di tengah masyarakat. Dan itu akan membuat situasi dan kondisi negeri kita menjadi tidak aman.

Saya mengimbau kepada pemerintah berlaku arif, berlaku bijaksana. Sehingga penanganan masalah perbedaan ini tidak menimbulkan bencana dan malapetaka bagi negeri kita sendiri.