Arif Kirim Foto ke Pacar Sebelum Bunuh Diri, Dibalas 'Ya Allah Darah itu Sayang'

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Catatan Redaksi: Bunuh diri bukan jalan keluar persoalan kehidupan, segera cari pertolongan atau klik www.healing119.id.

Satria Monalisa, sang ibu, menunjukkan foto Arif Nofriadi Jefri. Dok: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Satria Monalisa, sang ibu, menunjukkan foto Arif Nofriadi Jefri. Dok: kumparan

Senin, 6 Oktober 2025, menjadi hari yang tidak terlupakan bagi Nova Rizal. Si penjaga sekolah malam itu mendadak memberikan kabar duka—keponakan Nova, Arif Nofriadi Jefri, ditemukan sudah tidak bernyawa.

Tergeletak di ruang OSIS sekolahnya, leher siswa berusia 15 tahun itu terlilit tali pramuka. Suasana yang awalnya hening di SMPN 2 Kota Sawahlunto, Sumatera Barat (Sumbar), malam itu mendadak menjadi buncah.

“Di dinding ada tulisan: menghapus tentangmu,” ucap Nova menceritakan detik-detik dirinya masuk ke ruang OSIS kepada kumparan, Kamis (30/10).

Arif ditemukan tergeletak dengan posisi badan menyamping di lantai, persis di dekat meja. Nova bilang, tali pramuka itu terikat ke paku beton di atas dinding.

“Tali begitu erat lilitannya di leher Arif. Ada sekitar lima lilitan,” kata dia.

Polisi menduga siswa kelas IX itu melakukan tindakan bunuh diri. Tidak ditemukan unsur kekerasan atau perundungan (bullying). Namun, keluarga merasa ada kejanggalan.

Keluarga heran karena tubuh Arif tidak tergelantung atau menyentuh lantai saat lehernya terlilit tali.

“Logikanya, jika Arif ini berdiri, paku itu paling 10 sentimeter dari atas kepalanya. Dan jika berdiri, pasti tali itu juga kendor,” kata Nova sembari heran bagaimana keponakannya bisa mengakhiri hidup dengan kondisi seperti itu.

Foto untuk Pacar

Pukul 20.38 WIB, untuk terakhir kalinya Arif mengirim pesan WhatsApp kepada seorang teman dekat perempuan satu angkatan, tetapi beda kelas. Setelah itu tidak ada kabar lagi.

Hanya selisih kurang 30 menit antara foto view once atau pesan foto sekali lihat yang dikirim Arif dengan waktu ia ditemukan di ruang OSIS.

Lalu, foto sekali lihat apakah itu sebenarnya? Itu masih menjadi misteri. Pesan dari Arif juga dibalas teman perempuannya dengan kalimat: yaallah darah itu sayang.

Ibu Syok: 1 November Arif Ulang Tahun

Ibunda Arif, Satria Monalisa (40), syok dan terpukul mendengar kabar buruk anak bungsunya itu. Ia tidak sanggup melihat kondisi anaknya di ruang OSIS.

Mata Monalisa berkaca-kaca mengenang kematian Arif. “Kalau masalah ekonomi, kami berkecukupan,” ucapnya.

Ia mengenal Arif sebagai anak yang ceria. “1 November, tidak ada lagi perayaan ulang tahun Adek,” begitu kata Monalisa sembari menunjukkan bingkai foto bertuliskan tanggal lahir anaknya.

Adek—panggilan Arif di keluarga—lahir pada 1 November 2010. Monalisa semula berniat merayakan ulang tahun anaknya itu di kafe. Namun kini, Arif sudah tiada.

Monalisa mengaku, sejak awal masuk SMP, Arif tidak pernah bermasalah. Ia juga tidak pernah dipanggil guru BK.

Namun setelah duduk di kelas VIII, sikap Arif mulai berubah, apalagi sejak ia mengenal seorang perempuan.

“Jadi akhir-akhir itu, ya si anak mencintai anak itu, cewek itu… kami tidak tahu juga, yang kami rasa anak ini cinta monyet saja. Mungkin dia terlalu mendalami,” kata Monalisa.

SMP Negeri 2 Kota Sawahlunto, Kamis (30/10/2025). Dok: kumparan

Monalisa menegaskan, dirinya tidak pernah melakukan kekerasan kepada anaknya.

“Banyak orang bilang anak sering dipukul, itu tidak benar,” ujarnya.

Ia selalu mengingatkan Arif bahwa pacaran di usia remaja hanya cinta monyet, jangan terlalu merasa memiliki.

Pernah suatu ketika, lanjut Monalisa, ia membuat kesepakatan dengan anaknya: boleh putus dengan pacar, tapi tetap boleh nongkrong bersama teman.

“Pokoknya sudah dinasihati. Sudah itu, buat kesepakatan bersama, boleh putus sama pacaran, boleh nongkrong dengan anak asrama,” jelasnya.

SMPN 2 Kota Sawahlunto memang memiliki asrama, meski hanya beberapa siswa yang tinggal di sana. kumparan mencoba mengunjungi sekolah itu pada Kamis (30/10), tetapi para guru enggan berkomentar banyak mengenai kejadian ini.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 2 Kota Sawahlunto, Diana Rosa, hanya mengatakan bahwa tidak ada tindakan bullying di sekolah.

Diana juga enggan menunjukkan lokasi ruang OSIS tempat Arif meninggal. Ia beralasan, sekolah sedang berupaya memulihkan trauma para siswa.

Guru Wali Diminta Aktif

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Sawahlunto, Sudirman, menginstruksikan seluruh kepala SMP dan MTs untuk meningkatkan pendampingan terhadap siswa.

Salah satunya dengan mendorong peran guru wali atau guru penasihat agar dapat memutus mata rantai keputusan buruk yang diambil siswa saat mengalami masalah pribadi.

Sudirman menambahkan, rapat lintas stakeholder segera digelar demi membentengi mental peserta didik di Kota Sawahlunto.

“Ini kami bentengi, kami akan rapat koordinasi mulai pemerintah atas hingga ke bawah. Camat semua akan kita undang, termasuk kepala sekolah SMP dan MTs,” kata Sudirman.

Penyelidikan Segera Disampaikan ke Keluarga

Polisi memastikan tidak ada unsur bullying dalam kasus ini. Dugaan sementara, murni bunuh diri.

Kapolsek Barangin, Ipda Gorrahman, mengatakan kepolisian dalam waktu dekat akan menyampaikan laporan hasil penyelidikan kepada keluarga.

“Kami sedang buat laporan penyelidikan, hasilnya segera kami sampaikan ke keluarga. Ini dugaan arahnya ke tekanan pribadi,” ujarnya.