Asa Kurir Makanan di Wuhan di Tengah Krisis Virus Corona

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana jalalanan di Wuhan, Hubei, China. Foto: AFP/Hector RETAMAL
zoom-in-whitePerbesar
Suasana jalalanan di Wuhan, Hubei, China. Foto: AFP/Hector RETAMAL

Virus corona menyebabkan Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, menjadi kota mati. Hanya ada segelintir pejalan kaki dan kendaraan yang melintas.

Sebagian besar penduduk Kota Wuhan memilih tinggal di rumah untuk menghindari infeksi virus corona. Namun kondisi ini tidak berlaku untuk Yang Hu.

Pria yang setiap hari bekerja sebagai kurir makanan di aplikasi layanan pemesanan makanan milik Alibaba, ELEME, itu tetap bekerja. Ia bekerja sebagai kurir pemesanan makanan di Desa Zhongjia.

Dilansir Xinhua, Senin (3/2), ia memilih bekerja untuk misi kemanusiaan. Yang Hu telah menjadi 'jembatan' bagi warga dengan dunia luar.

Salah satu jalan yang diblokir oleh polisi untuk membatasi orang yang meninggalkan Wuhan di provinsi Hubei, China. Foto: AFP/Hector RETAMAL

Yang Hu mengatakan, ia dan rekannya beberapa hari belakangan mengantar pesanan dalam porsi banyak dan besar. Pada Jumat (31/1), ia dan rekannya mendapat pesanan 500 paket makanan siap saji ke sebuah rumah sakit berjarak 4 kilometer.

Mereka harus mengganti sepeda listrik yang biasa digunakan dengan sebuah mobil van. Selain itu, untuk mengantar makanan ke rumah sakit, mereka juga harus menjalani prosedur kesehatan. Seperti memakai masker dan memeriksa suhu tubuh.

Warga menggunakan pakaian tertutup dan masker mengendarai skuter di sepanjang jalan di Wuhan, Hubei, China. Foto: AFP/HECTOR RETAMAL

Tak berhenti mengantar makanan, para kurir itu juga secara langsung membantu membagikan makanan ke seluruh staf rumah sakit. Yang Hu menyebut layanan mengantar makanan ini tak dipungut biaya alias gratis setiap harinya.

"Sejak 27 Januari, stasiun layanan ELEME kami di Wuhan mengantarkan rata-rata 1.500 paket makanan ke sejumlah rumah sakit di Wuhan secara gratis setiap hari," tutur Yang Hu sembari bekerja.

"Bagi para petugas medis yang mempertaruhkan nyawa mereka demi menyelamatkan para pasien, pesanan mereka layak diantar tanpa dipungut biaya," imbuhnya.

Petugas keamanan menggunakan masker berjaga di sekitar Pasar Makanan Laut Huanan lokasi terdeksi Virus Corona di Wuhan, Hubei, China. Foto: AFP/HECTOR RETAMAL

Sementara itu dilansir Reuters, kondisi Kota Wuhan semakin memprihatinkan sejalan dengan menyebarnya virus corona setiap harinya. Di Provinsi Hubei, jumlah penderita mencapai lebih dari 11 ribu orang dengan total kematian 350 jiwa.

Pada 12 Januari 2020, jalanan di Wuhan masih ramai dilalui kendaraan, walau virus corona mulai menyebar. Namun 14 hari kemudian, suasana berubah seketika.

Kondisi ini terjadi karena Kota Wuhan diisolasi dan pemerintah setempat mengimbau warga untuk tak berpergian dari rumah.

Aktivitas petugas medis saat mengevakuasi korban virus corona di Wuhan di Provinsi Hubei, China. Foto: STR / AFP

Jembatan Sungai Yangtze juga sepi dari kendaraan. Padahal jembatan itu menghubungkan Wuhan dengan kota-kota di sekitarnya, mengingat kota ini dikenal sebagai 'jalan raya Tiongkok' karena lokasinya yang strategis.

Selain itu, tak terlihat aktivitas kapal barang di dermaga di dekat Jembatan Sungai Yangtze. Padahal, Kota Wuhan telah lama menjadi pusat perdagangan berkat posisinya di sepanjang Sungai Yangtze.

Infografik Waspada Virus Corona. Foto: Andri Firdiansyah Arifin/kumparan

Jumlah penderita virus corona terus meningkat setiap harinya. Hingga kini, total kematian akibat virus corona sudah mencapai 362 jiwa.

Kematian pertama akibat virus corona di luar China terjadi di Filipina. Sementara jumlah penderita di seluruh dunia mencapai lebih dari 17 ribu orang.

Di Provinsi Hubei jumlah penderita virus corona mencapai lebih dari 11 ribu orang dengan total kematian 350 jiwa.

kumparan post embed