Asep Rahmat Fajar, Pejuang Muda Pemantau Peradilan Indonesia

kumparanNEWSverified-green

clock

Asep Rahmat dalam sebuah acara. (Foto: Dok. Kantor Staf Presiden)
zoom-in-whitePerbesar
Asep Rahmat dalam sebuah acara. (Foto: Dok. Kantor Staf Presiden)

Asep Rahmat Fajar, staf ahli kepresidenan meninggal dunia pagi ini, Rabu (4/1), Selama hidupnya, Asep dikenal sebagai sosok yang banyak berkontribusi untuk perkembangan dunia hukum di Indonesia.

Asep dikabarkan meninggal karena penyakit stroke. Sebelum meninggal, Ia sempat dirawat di rumah sakit selama 3 hari.

Pria kelahiran Sukabumi pada 14 Desember 1977 ini adalah salah satu lulusan terbaik dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI).

Ia aktif menulis di berbagai media sejak masa kuliah. Fokus risetnya adalah seputar isu pembaharuan peradilan, politik hukum,  sosio legal dan rule of law.

Bersama-sama kawan seperjuangannya, Ia mendirikan Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI) pada tahun 2000. Asep dipercaya menjadi Ketua Harian pertama di MaPPI sejak tahun 2000 hingga 2006.

Kariernya pun terhitung gemilang. Ia menjadi tenaga ahli di KY sejak 2005 hingga 2009. Asep kemudian berhenti dua tahun di tahun 2009-2010 karena Ia melanjutkan studi S2-nya untuk mendapatkan gelar Master of Art di Institute for Sociology of Law Onati Spain.

Asep Rahmat Fajar mantan Jubir KY. (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Asep Rahmat Fajar mantan Jubir KY. (Foto: Istimewa)

Saat kembali ke Indonesia tahun 2010, ia ditunjuk sebagai juru bicara Komisi Yudisial (KY) hingga tahun 2013. Ia mengundurkan diri dari jabatannya pada bulan November 2013 karena alasan akan menempuh pendidikan doktoral politic of law dari perspektif socio legal di Belanda.

Kantor Komisi Yudisial RI. (Foto: Facebook @komisiyudisialri)
zoom-in-whitePerbesar
Kantor Komisi Yudisial RI. (Foto: Facebook @komisiyudisialri)

Sepulangnya dari Belanda, Ia diminta Kepala Staf Presiden Teten Masduki untuk membantu sebagai staf ahli presiden.

Asep meninggal pagi tadi karena penyakit stroke yang dideritanya secara tiba-tiba. Ia meninggalkan seorang istri serta 2 orang anak yang masih sekolah. Semasa hidupnya, Asep dikenal sebagai sosok yang gigih dan mempunyai visi yang kuat untuk membenahi system peradilan Indonesia.

Selamat Jalan, Bung Asep!