Asyik Menjemput Rupiah Berjualan Barang Antik

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pedagang barang antik di Jalan Stasiun Depok Baru (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pedagang barang antik di Jalan Stasiun Depok Baru (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)

Jumat sore itu, Ijul (60) duduk di lantai bersandarkan tembok kios miliknya yang tak lebih seluas 16 meter. Mata Ijul terpaku pada layar gadget-nya, tampak asyik menunggu pembeli, yang barangkali, mau singgah membeli barang-barang antik.

Kios Ijul sudah buka sedari pukul 10.00 WIB. Kepada kumparan, Ijul bersedia berkeluh kesah.

"Hari ini baru laku satu cincin perak harganya Rp 200 ribu, kalau puasa ya beginilah, sepi pembeli dan pengunjung," keluhnya, saat ditemui di kiosnya, di Jalan Stasiun Depok Baru, Jumat (25/4).

Pedagang barang antik di Jalan Stasiun Depok Baru (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pedagang barang antik di Jalan Stasiun Depok Baru (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)

Berbicara soal cincin, Ijul mengingat pernah mendapatkan rejeki lebih. Bapak satu orang putri ini, meraup belasan juta rupiah dari hasil penjualan jam dan cincin antik.

"Kalau rezeki mah dulu itu saya pernah dapat, entah berapa kali dari pelanggan, beli cincin dan jam tangan emas yang antik seharga Rp 15 jutaan,"cerita dia, sesekali merapikan barang antiknya.

Untuk kategori barang antik, Rp 15 juta memang bukan hal yang fantastis. Diungkapkan Ijul, masih banyak barang-barang antik lainnya yang harganya jauh lebih tinggi.

Pedagang barang antik di Jalan Stasiun Depok Baru (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pedagang barang antik di Jalan Stasiun Depok Baru (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)

"Kalau yang pesan itu kolektor besar, pernah pesan harga barang Rp 70 juta, jam tangan antik, saya saja yang enggak bisa dapatin dari kolega dan pemasok barang saya. Tapi barang-barang mahal begitu kita enggak jual di sini. Itu saya simpan di rumah dan yang di sini ini harganya di bawah Rp 1 juta saja, takut hilang juga kan rugi entar," canda Ijul.

Di kios kecil miliknya, Ijul menjajakan pernak-pernik dengan ragam ornamen. Patung kayu, piring keramik, miniatur rumah adat, keris, lampion, hingga jam dinding, dipamerkan di meja dan etalase.

Pria asal Depok ini menjadi satu dari dua pria yang masih bertahan menjadi penjual barang antik di sepanjang kawasan Jalan Stasiun Depok Baru. Dulu, ia bersama 4 pedagang lainnya, kompak berjualan di lokasi itu.

Pedagang barang antik di Jalan Stasiun Depok Baru (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pedagang barang antik di Jalan Stasiun Depok Baru (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)

"Dulu, awal saya di sini kami berlima, sekarang jadi bertiga, ada yang tumbang dan ada yang bertahan. Ada juga yang beralih berjualan dan berusaha di di bidang lain," imbuh dia.

Ijul pun perlahan menceritakan perjuangan merintis usahanya hingga bertahan di era modern saat ini. Padahal, saat itu, Ijul hanya ingin memuaskan rasa penasaran dan isengnya.

Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk fokus menjadi penjual barang antik, untuk menopang ekonomi keluarganya selama 15 tahun terakhir.

"Dulu tertariknya diajak teman saja, ngawanin teman. Tapi lama-lama jadi ikut jualan dan bisnis barang antik ini. Kalau di sini 3 tahun, kalau ikut sejak usaha itu di rumah dulu sekitar 15 tahunan. Awalnya, pedagang yang jualan dulu ambil ke saya. Jadi awalnya saya enggak jualan di sini dan buka usaha, tapi lebih ke penyedia kepada pedagangnya," terang Ijul.

Pedagang barang antik di Jalan Stasiun Depok Baru (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pedagang barang antik di Jalan Stasiun Depok Baru (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)

Ijul menceritakan, profesi sebagai penjual barang antik, merupakan profesi yang penghasilan dan pasarnya tidak bisa dipastikan. Itu semua, kata dia, tergantung pada hoki. Dan menurutnya pula, profit yang didapat dari profesi ini memang bersifat musiman; kadang untung, kadang sepi dan tak dapat apa-apa dalam sehari.

"Kadang bisa kita dapat sejuta (Rp 1 juta) dalam sehari tapi sering juga enggak dapat apa-apa. Bisa -bisa uang bensin dari rumah enggak kembali," ujarnya.

Persaingan usaha yang cukup ketat, dan masyarakat yang sebagian memilih untuk belanja via online, memang menjadi tantangan tersendiri. Namun Ijul yakin, usaha jualan barang antik seperti ini, tidak akan punah dari pelanggan setianya.

Pedagang barang antik di Jalan Stasiun Depok Baru (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pedagang barang antik di Jalan Stasiun Depok Baru (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)

"Barang antik ini yang belanja itu bukan semua orang, tapi orang yang hobi mengoleksi, jadi saya yakin mereka tidak akan hilang dari pasar. Kemudian kalau barang antik dibuat online, ada keragu-raguan karena barang antik selain mahal, lebih puas dan deal kalau fisiknya dilihat sendiri," paparnya.

Hingga saat ini, Ipul bertutur, usaha kecil-kecilan miliknya ini, masih mampu menghidupi perekonomian dan kebutuhan keluarga.

"Istri saya hanya ibu rumah tangga, keluarga, anak saya cuma satu, sekarang sedang sekolah. Kalau rezeki enggak ke mana, kalau kita berusaha terus," tuturnya.