Ayah Megawati, Sukarno, Ternyata Pernah 3 Kali Singgung Penjajahan 350 Tahun
·waktu baca 2 menit

Pertanyaan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri soal kebenaran Indonesia dijajah 350 tahun sebetulnya bukanlah barang baru. Pada tahun 1987, sejarawan keturunan Belanda-Indonesia, Gertrudes Johan Resink, telah menjawab pertanyaan itu dalam buku berjudul ‘Raja dan Kerajaan yang Merdeka di Indonesia 1850-1910’.
Dalam buku itu, Resink membantah pengetahuan umum bahwa Indonesia dijajah 350 tahun. Menurut Resink, klaim itu merupakan propaganda politik ketimbang fakta sejarah.
Apalagi masa-masa itu, Indonesia sebagai konsep negara belumlah ada. Yang ada hanyalah sekumpulan kerajaan-kerajaan di Nusantara yang memiliki kedaulatannya masing-masing.
Lantas, dari mana klaim Indonesia dijajah 350 tahun?
Berdasarkan penelusuran kumparan terhadap sejumlah sumber sejarah, klaim bahwa Indonesia dijajah 350 tahun salah satunya berasal dari Presiden ke-1 RI Sukarno. Ayah dari Megawati itu berkali-kali menyampaikan bahwa Indonesia dijajah Belanda 350 tahun di dalam sejumlah pidatonya.
Hal itu, misalnya, dapat dilihat dalam kumpulan pidato Sukarno yang ada dalam bukunya ‘Di Bawah Bendera Revolusi Jilid 2’. Buku tersebut menghimpun 20 pidato Sukarno setiap tanggal 17 Agustus sejak 1945 hingga 1966. Ditambah lagi dengan 2 pidato di luar tanggal 17 Agustus.
Berdasarkan penelusuran kumparan, 3 dari 22 pidato Sukarno yang ada dalam buku itu menyebut Indonesia dijajah 350 tahun.
Berikut ini kutipan-kutipan pidato Sukarno soal penjajahan 350 tahun.
Sekali merdeka tetap merdeka: 17 Agustus 1946 di Yogyakarta.
Begini kutipan Sukarno:
"....Tatkala pada 17 Agustus tahun yang lalu kita memproklamirkan kemerdekaan kita dengan kata-kata sederhana, belum dapat kita membayangkan benar-benar apa yang kita hadapi. Kita hanyalah mengetahui, bahwa Proklamasi kita itu adalah satu kata pekik “berhenti!” kepada penjajahan yang 350 tahun.
Kita majukan proklamasi kita itu kepada dunia sebagai hak asli kita, hak bangsa kita, hak kemanusiaan kita, hak hidup kita, dengan cara yang setajam-tajamnya. Kita majukan proklamasi kita itu, pula sebagai seruan yang sejelas-jelas serta yang selangsung-langsungnya kepada rakyat dan bangsa kita sendiri, untuk menentukan nasibnya sendiri dengan tindakan dan perbuatan sendiri..."
Berilah Isi Kepada Hidupmu: 17 Agustus 1956 di Jakarta
Begini kutipan Sukarno:
"...Seluruh angkasa gemetar dengan getaran-tekad: “merdeka, atau mati!”
Benar, selama 350 tahun Indonesia memang telah memberikan darahnya bagi hidupnya bangsa lain. Penjajah menjadi gemuk, kita menjadi kurus-kering.
Di luar dugaan mereka, rakyat yang kurus-kering ini,– rakyat yang mereka sebutkan “het zachtste volk der aarde ”,“rakyat yang paling lemah-lembut di dunia”, rakyat yang begitu lama mereka tunggangi namun toh menurut saja, rakyat yang begitu sering mereka labrak dengan pecut namun toh tidak melawan -, di luar dugaan mereka, rakyat kurus kering ini bangkit berdiri serentak sambil berkata: ”Stop! Sampai di sini, – kita merdeka, kita tidak mau dijajah lagi!...”
Genta Suara Republik Indonesia: 17 Agustus 1963 di Jakarta
Begini kutipan Sukarno:
Ada orang yang berkata: buat apa toh ambil pusing Old Established Order itu.
Wat kan you die Old Established Order schelen! mBok biar dia hidup! Leven en laten leven!! Live and let live!!
Tolol orang ini! Dia tidak tahu bahwa keselamatan dunia selalu terancam oleh Old Established Order itu. Dia tidak tahu bahwa keselamatan bangsanya sendiri selalu terancam oleh Old Established Order itu. Dia apakah juga tidak tahu, bahwa bangsanya sendiri 350 tahun terjajah, 350 tahun terkungkung dan terhina, 350 tahun tertindas dan terhisap, 350 tahun diingkel-ingkel menjadi satu bangsa lung-lit oleh Old Established Order itu?
Menurut jurnal berjudul ‘Sejarah Pemahaman 350 tahun Indonesia Dijajah Belanda’ (2017), pidato Sukarno sebetulnya bukanlah fakta sejarah, melainkan sebuah propaganda politik untuk membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme rakyat Indonesia.
Penulis jurnal tersebut, Ulil Absiroh, Isjoni, dan Bunari, bahkan menilai bahwa semangat patriotisme Sukarno itu lebih banyak lagi dikentalkan oleh Muhammad Yamin. Dalam agenda penulisan sejarah nasional, misalnya, Yamin mendambakan penulisan sejarah yang bersifat nasionalis dan anti-kolonial.
Namun uniknya, Yamin yang terlalu menekankan semangat nasionalis justru melebar dari penulisan historiografi Indonesiasentris yang sesungguhnya. Penulisan historiografi Indonesiasentris yang Yamin maksud, kata Ulil Absiroh, justru terjebak dalam historiografi Eropasentris seperti penjajahan 350 tahun.
Meski begitu, sejarawan Indonesia, R. Mohammad Ali, dalam bukunya Perjuangan Feodal (1963) justru melihatnya secara berbeda. Dia merujuk kedatangan Cornelis Houtman sebagai pelopor penjajahan Belanda. Dalam arti penjajahan secara umum, yaitu memeras untung yang sebanyak-banyaknya.
Apabila merujuk keterangan Ali, maka Indonesia memang benar dijajah sejak tahun 1596. Artinya, Indonesia dijajah kurang lebih 350 tahun. Hal inilah yang kurang lebih dipahami oleh masyarakat Indonesia secara umum.
Lantas, bagaimana menurut Anda?
