Bagaimana Corona Tersebar di Acara Jemaah Tablig Malaysia

Sebuah acara tablig akbar di Malaysia yang diadakan oleh kelompok Jemaah Tablig jadi episentrum penyebaran virus corona. Para peserta dari acara ini terdeteksi positif mengidap corona di berbagai negara. Ada sekitar 600 WNI yang ikut acara ini dan harus ditelusuri keberadaannya.
Acara tersebut digelar pada 27 Februari hingga 1 Maret lalu di Masjid Seri Petaling, Kota Kuala Lumpur, dihadiri oleh sekitar 16 ribu orang. Mengutip Reuters, sebanyak 1.500 di antaranya adalah warga asing, dari Indonesia, Brunei, Vietnam, India, Australia, Kanada, Nigeria, China, hingga Korea Selatan.
Beberapa negara asal jemaah itu tercatat punya jumlah penderita corona terbesar, seperti China dan Korsel. Tidak diketahui siapa yang membawa corona di acara itu, yang jelas ada 3 WNI peserta tablig akbar yang kini dirawat karena positif corona di Malaysia.
Dikutip The Star, dari 673 kasus corona di Malaysia, 77 di antaranya adalah jemaah tablig di acara tersebut. Pada Selasa (17/3), seorang pria Malaysia peserta tablig akbar itu meninggal dunia akibat corona. Dia berusia 34 tahun.
Di Vietnam, ada dua peserta tablig akbar yang positif virus corona. Kini mereka dirawat di ruang isolasi dan desa mereka terpaksa di-lockdown.
Dari total 56 kasus corona di Brunei, 50 di antaranya adalah jemaah di acara tersebut. Di Singapura ada lima kasus terkait dengan tablig akbar Malaysia, di Kamboja ada 13, dan di Thailand ada dua.
Penularan yang Mudah
Acara keagamaan yang melibatkan banyak orang di satu tempat adalah lokasi penularan yang mudah untuk virus corona. Hal ini bisa ditemui di gereja kota Daegu, episentrum corona di Korea Selatan.
Reuters berhasil mewawancarai beberapa peserta tablig akbar tersebut, termasuk yang saat ini positif corona. Salah satunya adalah pria Kamboja berusia 30 tahun yang saat ini berada di ruang isolasi rumah sakit.
Dia mengatakan para jemaah saling berjabat tangan, beribadah berdekatan, hingga makan bersama dalam satu piring. Mustahil untuk tahu siapa pembawa virus corona.
"Kami duduk berdekatan. Berpegangan tangan dalam acara keagamaan dilakukan orang dari berbagai negara. Ketika saya bertemu jemaah lain, saya memegang tangannya. Saya tidak tahu siapa yang telah saya tularkan," kata dia.
Sumber Reuters lainnya di Kuala Lumpur mengatakan tablig akbar itu diadakan ketika virus corona tidak ramai dibicarakan di Malaysia. Hal itu membuat jemaah tidak waspada, termasuk tidak ada anjuran untuk rajin mencuci tangan.
"Kami tidak khawatir saat itu karena ketika itu sepertinya COVID-19 bisa dikendalikan," kata Khuzaifah Kamazlan, guru ngaji berusia 34 tahun di Kuala Lumpur, yang negatif corona.
Belum semua jemaah asal Malaysia berhasil terdeteksi, dan hanya setengah dari mereka yang bersedia dites corona.
Pemerintah Indonesia, Vietnam, Filipina, masih terus menelusuri para peserta tablig akbar tersebut. Pada Selasa lalu, Masjid Seri Petaling tersebut telah ditutup untuk dibersihkan.
"Kami kecewa kami disalahkan atas wabah ini. Tidak adil. Tidak ada larangan atas pengajian kami," kata Karim, jemaah 44 tahun asal Malaysia.
"Sekarang saya khawatir karena saya positif. Tolong doakan saya," kata dia lagi.
