Bahas Tabrakan Kereta Bekasi, Komisi V Sorot Anggaran Perlintasan Sebidang Minim
·waktu baca 3 menit

Ketua Komisi V DPR Lasarus menyoroti keterbatasan anggaran pemerintah dalam upaya pembenahan perlintasan sebidang kereta api dan pembangunan double-double track (DDT).
Hal itu disampaikannya menyusul pembenahan pascakecelakaan KA dan KRL di Bekasi Timur.
Lasarus menegaskan, DPR ingin memberikan dukungan politik kepada pemerintah agar persoalan keselamatan transportasi dapat ditangani secara menyeluruh.
“Sebenarnya Pak Wamen Perhubungan (Suntana), kami DPR ini ingin memberi dukungan kepada Menteri Perhubungan (Dudy Purwagandhi). Ya, atas kondisi yang ada. Anggaran Bapak itu kalau saya tidak salah masih kurang 11 triliun Pak, hari ini. Ya, masih 11 triliun kurang,” kata Lasarus dalam Rapat Kerja Komisi V di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/5).
Menurut dia, keterbatasan anggaran membuat pembenahan sektor transportasi, termasuk sistem keselamatan, tidak dapat dilakukan secara optimal. Karena itu, DPR disebut perlu memberikan dukungan politik terhadap Kementerian Perhubungan agar persoalan transportasi yang disebut masih carut-marut ini dapat dibenahi.
“Kalau kita tidak bela Bapak di sini secara politik, bagaimana Bapak mau menyelesaikan carut-marut angkutan yang ada hari ini? Saya pernah ngomong di ruangan ini Pak, tolong ya, jangan korbankan ramp check Pak. Bus, kereta api, pesawat, kapal, saya pernah ngomong di tempat ini. Ya, dengan anggaran yang ada, utamakan ramp check karena ini menyangkut keselamatan orang,” ujar Lasarus.
“Ini Pak Wamen kan dari Polri ya, senior di Polisi tentu juga nggak usah kita ajari lah soal keamanan. Beliau jauh lebih memahami dari kita. Sebenarnya kami ingin memberi dukungan politik Pak, kepada Kementerian Perhubungan, kepada Kementerian PU, kemudian Korlantas, juga kepada Basarnas. Ya, anggaran kan dari sini Pak, berangkatnya juga dari komisi ini,” lanjutnya.
Ia kemudian menyinggung bantuan anggaran dari Presiden Prabowo Subianto sebesar Rp 4 triliun yang disebut diberikan setelah kecelakaan terjadi. Namun, menurut Lasarus, angka tersebut belum cukup untuk menyelesaikan persoalan lintasan sebidang yang jumlahnya masih sangat banyak di Indonesia.
“Kemarin Presiden seingat saya di lokasi kejadian, akhirnya memberikan Banpres 4 triliun,” kata Lasarus.
“Pertanyaan saya Pak Suntana, apakah 4 triliun itu menyelesaikan masalah hari ini untuk lintasan sebidang? Kan tidak Pak. Masih jauh. Lintasan sebidang kita masih seribu lebih Pak. Satu under pass, satu fly over saja anggarannya berapa Pak? Puluhan miliar. Jadi tidak mudah, kita masih perlu banyak biaya Pak untuk menyelesaikan persoalan carut-marut di kereta api,” lanjutnya.
Selain persoalan lintasan sebidang, Lasarus juga menyoroti pentingnya pembangunan double-double track di jalur padat seperti Bekasi Timur. Ia mempertanyakan mengapa pembangunan jalur tambahan sebelumnya tidak dilakukan secara menyeluruh.
“Belum kita bicara double-double track Pak. Ya kan? Ini masalah Bekasi Timur ini Pak. Dulu kenapa cuma double track aja sampai ujung? Ini kan double-double track ke double track. Kenapa nggak double-double track? Banyak pertanyaan ke saya,” ujar Lasarus.
“Apa kita nggak ada uang? Untuk keselamatan nggak ada istilah kita nggak ada duit. Dulu masih sepi, sekarang sudah ramai. Kalau dulu nggak terlalu penting double-double track karena masih sepi. Sekarang sudah ramai, harus double-double track. Perlu tambahan biaya,” ujarnya.
Menurut dia, kebutuhan anggaran operasional Kementerian Perhubungan yang masih kurang hingga Rp 11 triliun membuat pembangunan infrastruktur tambahan seperti double-double track semakin sulit direalisasikan tanpa dukungan anggaran lebih besar.
“Bapak untuk operasional saja masih kurang 11 triliun, bagaimana mau bikin double-double track lagi? Maka kita duduk di sini supaya ada penguatan. Kita tidak menyalahkan siapa pun,” kata Lasarus.
“Forum ini tidak untuk mencari kesalahan siapa pun Pak. Nggak ada orang yang ingin kecelakaan itu. Saya yakin, kita semua tidak menginginkan itu terjadi. Tapi kejadian ini harus kita analisa, simpul persoalannya ada di mana,” pungkasnya.
