Bahlil Bela Prabowo: Anies Sok Merasa Punya Etika Tinggi, Jangan Merasa Pintar
ยทwaktu baca 2 menit

Saat debat capres ketiga, capres nomor urut 01, Anies Baswedan mempertanyakan standar etika ke capres nomor urut 02 Prabowo Subianto. Namun, jawaban Prabowo dianggap Anies kurang memuaskan.
Terkait hal itu, Politikus Partai Golkar sekaligus Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyinggung gaya komunikasi Anies. Menurutnya, Anies merasa lebih tahu soal etika.
"Ya, Anies, kan, memang begitu modelnya. Pak Anies itu apa, ya? Debat tema lain bicara lain, tapi sok merasa punya etika tinggi, tapi ternyata yang bersangkutan etikanya tahu sendiri," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (9/1).
Bahlil juga mengaku sedih dengan etika yang ditunjukkan Anies terhadap Prabowo. Dia merasa sebagai senior Anies tak memiliki standar etika yang baik.
"Jadi jangan merasa terlalu pintar juga soal etika, ya. Kita lihat jugalah modelnya begitu. Sedih juga, sih, saya sebagai juniornya dia," ungkapnya.
"Mas Anies itu, kan, senior saya tapi melihat standar etikanya seperti itu," pungkasnya.
Dalam debat yang berlangsung pada Minggu (7/1) malam, Anies mengatakan presiden harus memiliki standar etika yang tinggi. Menurutnya, hal itu dibutuhkan karena presiden akan mengambil keputusan mengerahkan pasukan dan ketika harus bertempur ada korban nyawa.
Menanggapi itu, Prabowo pun membantah bahwa apa yang disampaikan Anies adalah keliru.
"Jadi semua data yang saudara-saudara sampaikan itu keliru semua. Jadi di mana masalahnya?" ujar Prabowo.
Prabowo juga menilai Anies tak pantas berbicara soal etika.
"Saudara tuh bicara-bicara etik, saya keberatan. Karena Anda desak saya, saya terus terang saja, saya menilai Anda tidak pantas bicara soal etik," ucapnya.
"Saya boleh berpendapat, kan. Saya menilai Anda tidak berhak bicara soal etik. Karena Anda memberi contoh yang tidak baik soal etik. Terima kasih," pungkasnya.
Soal etika ini ramai dibicarakan terkait dengan pendamping Prabowo, Gibran Rakabuming melenggang menjadi cawapres dinilai karena putusan Mahkamah Konstitusi. Anwar Usman -paman Gibran- yang mengabulkan gugatan cawapres boleh di bawah 40 tahun pun sudah diputus melanggar etik. Anwar kini sudah tak lagi menjadi Ketua MK.
