Bak Mukjizat, Anak dan Ibu Kandung Dipertemukan setelah 15 Tahun Berpisah

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ajeng Ayu Salma (19) bertemu ibu kandungnya setelah 15 tahun berpisah. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ajeng Ayu Salma (19) bertemu ibu kandungnya setelah 15 tahun berpisah. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Pancaran kebahagiaan tampak dari mata Ajeng Ayu Salma (19). Ekspresi itu tak bisa ia sembunyikan usai bertemu dengan ibunya yang terpisah selama 15 tahun.

Bagai mukjizat, Ajeng bertemu dengan ibu kandungnya di Yogyakarta setelah belasan tahun dititipkan di Jakarta. Dia juga sempat kabur ke Malang, Jatim.

Ibu Ajeng berinisial D mengatakan, ia menitipkan anaknya kepada temannya di Jakarta pada 2006. Kala itu, ia telah berpisah dengan ayah Ajeng. Ia mengalami kesulitan ekonomi. Ditambah, ia tinggal sendirian di Jakarta.

D mengakui itu adalah pilihan yang sulit. Akan tetapi, hal itu dirasa yang paling terbaik. Temannya yang menjadi orang tua angkat Ajeng berjanji akan mempertemukan dengan anaknya kelak.

“Tahun 2006 saat Ajeng berusia 4 tahun,” ujar D ketika ditemui kumparan di rumahnya di Yogyakarta, Selasa (7/9).

Ajeng Ayu Salma (19) bertemu ibu kandungnya setelah 15 tahun berpisah. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Di awal penitipan Ajeng, ia kerap menelepon temannya untuk menanyakan kabar Ajeng. Akan tetapi, komunikasi itu hilang karena orang tua angkat Ajeng mengganti nomor telepon.

"Saya pikir ke orang tua asuh lebih baik karena saya tidak punya tempat tinggal. Tadinya boleh telepon sebentar misal anaknya lagi apa. Kemudian ganti nomor nggak boleh telepon mungkin takut (Ajeng) diambil lagi," ucapnya.

Pindah ke Blitar, Jatim

Usai tinggal di Jakarta, Ajeng pindah ke Blitar, Jawa Timur, bersama orang tua angkatnya. Saat tinggal di Blitar, ia mengaku pernah mendapatkan perlakuan yang kurang enak dan mengalami kekerasan fisik. Bahkan, ia ingin pergi dari rumah.

"Kelas 4 atau 5 SD mau pergi dari rumah. Tulis di buku diary. Dan aku sempat denger dari saudara aku bukan anak kandung," ujar Ajeng.

Hati Ajeng sempat remuk saat ia tahu dirinya bukan anak kandung. Hal itu ia ketahui saat menemukan dokumen pernyataan hak asuh. Surat itu ia temukan saat sedang membersihkan kamar.

"Itu tahun 2014. Nemu dokumen itu di lemari. Mau nangis nggak bisa cuma diam. Ada foto mama [kandung] memang mirip saya," kenangnya.

Ia sempat curhat ke guru Bimbingan dan Konseling di SMPnya. Guru tersebut berpesan agar Ajeng tak menceritakan masa lalunya kepada orang tua angkat.

"Tapi ternyata habis curhat papa [angkat] datang sekolah dia bilang nemu surat ini di mana bla bla bla, dimarahin. Aku kehilangan jejak [dokumen tersebut]," bebernya.

Ajeng Ayu Salma (19) bertemu ibu kandungnya setelah 15 tahun berpisah. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Saat kelas 1 SMA, ayah angkat Ajeng tidak memperkenankan Ajeng mengambil rapor. Ayahnya menyampaikan Ajeng tidak naik kelas.

"Ayah pulang bilang aku nggak naik kelas, DO (drop out). Aku prestasi banyak piagam banyak, nggak mungkin dikeluarin dengan cara yang nggak normal. Saya lihat rapornya nggak boleh. Laptop dan hape disita (orang tua). Nggak bisa komunikasi dengan teman," imbuhnya.

Kejadian itu membuat ia nekat untuk kabur dari rumah. Beruntung, ia telah mengambil kartu SIM yang ada di ponselnya sebelum disita. Melalui kartu itu, ia menghubungi teman-temannya untuk menumpang.

Dokumen seperti akte kelahiran, ijazah dari SD hingga SMP sudah ia masukkan ke dalam tas. Dengan modal uang Rp 200 ribu, ia kabur ke rumah temannya menggunakan sepeda motor ayah angkatnya. Berita kaburnya Ajeng menghebohkan warga sekitar.

Mencari pekerjaan ke Malang, Jawa Timur

Usai tinggal satu minggu di rumah temannya, Ajeng berniat untuk mencari pekerjaan demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia memutuskan pergi ke Malang, Jawa Timur, dengan sepeda motor.

"Dari teman tadi pamitan ke Malang subuh-subuh. Kalau siang takut papasan teman, jam 03.00 WIB naik [sepeda] motor. Di Malang cari kerja cari kos. Itu tahun 2018 umur 16 tahun," kata Ajeng.

Ia melihat lowongan sebagai pramusaji di pinggir jalan kemudian langsung melamarnya. Awalnya, ia ditolak karena usianya masih 16 tahun. Setelah menceritakan kondisinya, Ajeng diperkenankan untuk bekerja.

"Habis itu sempat kena cacar terus sakit 2 bulan," katanya.

Setelah bekerja menjadi pramusaji, Ajeng mendapatkan pekerjaan sebagai baby sitter dan bekerja di laundry. Dari uang hasil bekerja itu, Ajeng bisa membeli handphone. Dia kemudian membuat akun media sosial untuk memberikan kabar soal dirinya.

Tiba-tiba saja, Ajeng mendapatkan pesan dari seorang yang tak dikenal di Instagram. Orang itu mengatakan tinggal di Bogor, Jabar. Belakangan orang itu merupakan bibinya, dari ayah kandung Ajeng. Bibi A mengatakan Ajeng mirip dengan ponakannya yang hilang.

Dari pesan Instagram itu, ia sempat ragu dengan orang tersebut. Meski begitu, ia dan Bibi A berkomunikasi melalui WhatsApp dan video call. "Video call ada bibi, ada nenek, pasti nangis pertama kali dikenalin saudara dari istri papa yang pertama," ujarnya.

Setiap berkomunikasi dengan Bibi A, Ajeng kerap menanyakan keberadaan ayah kandungnya. Ia selalu mendapatkan jawaban ayahnya sedang kerja. Akan tetapi, hingga akhirnya Bibi A mengatakan hal yang sejujurnya. Ayah kandung Ajeng telah meninggal empat tahun lalu.

"Mereka tidak memberi tahu dari awal karena takut aku nggak balik ke Bogor (tempat nenek dari ayah kandung Ajeng)," ujarnya.

Pada pertengahan 2019, Ajeng pergi ke Bogor untuk menemui keluarga dari ayahnya. Ia dijemput oleh kakak tirinya. Di kota itu, ia melanjutkan pendidikannya dengan sekolah di SMA terbuka.

Belum genap tinggal satu tahun di Bogor, nenek Ajeng meninggal dunia. Dorongan untuk mencari keberadaan ibu kandungnya menguat kembali. Ia kemudian membuat utas di Twitter untuk mencari ibunya.

Ajeng mengaku banyak instansi yang memberikan bantuan seperti KPU Sleman dan Disdukcapil. Hanya saja, hal itu belum membuahkan hasil.

"Sempat putus asa. Dibantu orang banyak di Twitter, Facebook ramai,” ujarnya.

Mukjizat datang

Pada pertengahan 2021, ibu Ajeng tiba-tiba mengetik nama lengkap buah hatinya di Twitter karena rasa rindu. Tak disangka, ia menemukan berita soal Ajeng. Padahal, ia sudah memiliki firasat nama anaknya telah diganti orang tua angkatnya.

"Saya baca berita saat itu masih sedang sakit. Mungkin karena saya berdoa terus. Saya nyari namanya Ajeng iseng siapa tahu ketemu foto dia. Ternyata ada berita ini saya kaget kok kaya gini kisahnya dia," ujar D.

"Saya semalaman nggak tidur. Dibantu teman. Kepala saya sakit jadi tolong bantuin bikin Instagram, Twitter search namanya Ajeng," katanya.

Ajeng Ayu Salma (19) bertemu ibu kandungnya setelah 15 tahun berpisah. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Singkat cerita, D akhirnya bisa menghubungi keluarga Ajeng di Bogor. D menelepon Ajeng pada 29 Agustus 2021. Ajeng kemudian terbang dari Bogor ke Yogyakarta untuk bertemu ibunya.

Dalam pertemuan itu, D menceritakan masa lalunya ke Ajeng. Ia juga meminta Ajeng agar jangan ada dendam dengan orang tua angkatnya. Meski baru bertemu beberapa hari, Ajeng langsung akrab dengan dirinya, termasuk dengan adik-adik tirinya. Setelah menitipkan Ajeng kala itu, D menikah kembali dan diberikan dua anak.

"Alhamdulillah Ajeng nggak marah, mungkin ada sedikit kecewa," bebernya.

D membebaskan Ajeng untuk tinggal dengan dirinya atau di Bogor. Ajeng mengaku akan menyelesaikan sekolahnya di Bogor. Ia belum terpikir akan kuliah di kota mana meski saat ini duduk di kelas 3 SMA.

embed from external kumparan