Balai Konservasi Riau Rawat Bayi Harimau Sakit

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Perawatan Anak Harimau (Foto: Antara/Rony Muharrman)
zoom-in-whitePerbesar
Perawatan Anak Harimau (Foto: Antara/Rony Muharrman)

Jika di Sumut seekor harimau sumatera jantan berusia 2 tahun mati dibunuh setelah masuk perkampungan, di Riau seekor anak harimau dirawat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam karena sakit. Hewan ini sebelumnya dievakuasi dari Kabupaten Bengkalis.

"Kondisi badan harimau sangat lemah, dehidrasi, kurus, dan kelaparan," kata Humas BBKSDA Riau, Dian Indriati, di Pekanbaru, Jumat (26/5), seperti dilansir Antara.

Harimau sumatera itu awalnya ditemukan oleh seorang petani bernama Sadri saat menakik karet di Desa Api Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, pada 25 Mei.

Satwa langka itu sempat diperiksa oleh dokter hewan dari Puskeswan drh Edi Nuryanto. Hasil pemeriksaan menunjukan bayi harimau itu diperkirakan berusia sekitar enam bulan, berkelamin jantan, dan berat badan 14 kilogram.

Ia mengatakan bayi harimau itu tiba di kantor BBKSDA Riau di Pekanbaru pada Jumat dini hari pukul 03.00 WIB.

Karena kondisinya lemah, maka bayi harimau itu ditangani secara intensif dengan cara memberikan infus glukosa, minum susu, injeksi biosalamin dan injeksi antibiotik.

Tindakan selanjutnya ditangani oleh drh Rini dari klinik BBKSDA Riau. "Perkembangan terakhir harimau sudah dapat berdiri, berjalan, buang air kecil, menggerakkan telinga dan mengibaskan ekornya," kata Dian.

Menurut data tahun 2014, hanya tersisa 350 individu harimau sumatera dan merupakan subspesies yang masih tersisa. Dua subspesies lainnya yang pernah ada yaitu harimau jawa dan harimau bali telah dinyatakan punah.