News
·
18 November 2020 16:50

Batu Meteor yang Jatuh di Rumah Josua Hutagalung di Sumut Dijual Rp 200 Juta

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Batu Meteor yang Jatuh di Rumah Josua Hutagalung di Sumut Dijual Rp 200 Juta (196750)
Batu hitam yang jatuh dari langit saat dipegang Josua Hutagalung dan istrinya, di kediamannya di Kecamatan Kolang, Tapanuli Tengah, Senin (3/8). Foto: ANTARA
Batu meteor yang menghujam atap rumah Josua Hutagalung di Kolang, Tapanuli Selatan, Sumut, pada awal Agustus 2020 dijual. Josua mengatakan, batu tersebut dijual pada 17 Agustus 2020 seharga Rp 200 juta.
ADVERTISEMENT
"Iya sudah dijual Rp 200 juta sama atap sengnya Rp 14 juta (seng bolong bekas kejatuhan meteor)," tegas Josua kepada kumparan, Rabu (18/11).
Pria yang kesehariannya membuat peti mati itu menambahkan, semenjak video batu meteornya diunggah ke Facebook viral, ada seorang WNA yang mengaku anggota meteorid club, Jared, menghubunginya.
"Dia [Jared] katanya anggota meteorid club, koleksi koleksi meteorid dari Bali, pertama yang nelepon istrinya, soalnya istrinya kan kebetulan orang Batak," tandasnya.
Setelah itu, lanjut Josua, Jared datang ke rumahnya lalu membayar secara tunai batu tersebut. Josua mengaku tidak tahu apakah batu tersebut akan dijual kembali ke pihak lain.
Ia memutuskan untuk menjual batu tersebut karena merasa was-was. Selain itu, anaknya juga kerap menggunakan batu meteor ini sebagai mainan, mobil-mobilan.
ADVERTISEMENT
"Nah kan kita nyimpen batunya deg-degan juga di sini, orang-orang bilang mahal katanya, anak saya masih kecil digelindingin buat mobil-mobilan daripada hilang nanti, jual aja," tambahnya.
Batu Meteor yang Jatuh di Rumah Josua Hutagalung di Sumut Dijual Rp 200 Juta (196751)
Benda angkasa berupa batu hitam yang jatuh dari langit ke rumah Josua Hutagalung warga Dusun Sitahan Barat, Desa Satahi Nauli, Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Sabtu (1/8) sore. Foto: Handout via Antaranews
Uang dari penghasilan batu meteor itu ia bagi dengan lima saudaranya. Selain itu, ia juga membagikan sejumlah uang kepada warga di kampungnya dan anak yatim. Ia juga menggunakan uang tersebut untuk menyumbang ke pihak gereja.
"Bangun kuburan orang tua sama kakek, buat renovasi rumah peninggalan orang tua. Sudah enggak ada lagi [sisa]. Saya prinsipnya lebih enak rezeki keringat sendiri soalnya," tambahnya.
Josua mengatakan, batu tersebut tiba-tiba jatuh dari langit kemudian menghantam atap rumahnya pada 1 Agustus sekitar pukul 16.00 WIB.
ADVERTISEMENT
"Pas saya posisi buat peti mati, sudah ada gemuruh di langit, terus jam 16.00 WIB lewat [batu] hantam seng atap rumah," kenangnya.
Semenjak kejadian itu, ia mengaku baru pihak kecamatan saja yang mendatangi rumahnya.