Begini Penanganan Suspect Corona di RS Rujukan

kumparanNEWSverified-green

comment
18
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tes corona di Bali. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Tes corona di Bali. Foto: Dok. Istimewa

Jumlah pasien yang terjangkit virus corona atau COVID-19 di Indonesia terus bertambah. Hingga Selasa (17/3) pagi, tercatat 134 orang dinyatakan positif terinfeksi virus corona.

Namun, di tengah meluasnya virus corona di Indonesia, kabar buruk datang dari salah seorang warga yang mengaku sebagai pasien suspect virus corona. Melalui akun twitter pribadinya @fmuchtar_, Fachri Muchtar sempat membagikan cerita tak menyenangkan terkait fasilitas salah satu rumah sakit rujukan bagi pasien suspect virus corona.

collection embed figure

Cerita bermula ketika Fachri dinyatakan sebagai pasien suspect corona. Hal itu disampaikan langsung oleh dokter setelah Fachri mengalami beberapa gejala yang merujuk pada penderita virus corona.

"Baru aja semalam gua dinyatakan sama dokter sebagai pasien suspect corona. Gejala yang gua alamin ya demam, batuk, sesak nafas, pilek, sakit tenggorokan sama lemas. FYI (For Your Information) gua lagi karantina mandiri di rumah, setelah sebelumnya di rawat di ruang isolasi IGD," cerita Fachri dalam akun twitter pribadinya yang dikutip kumparan, Selasa (17/3). kumparan sudah mendapat izin untuk mengutip tulisan itu.

X post embed

Kondisi Fachri itu membuat dokter merujuknya untuk dirawat ke rumah sakit rujukan yang jauh lebih layak. Di rumah sakit yang dikeluhkan pelayanannya itu, pada awalnya Fachri tak mengalami pelayanan berbeda dari pasien lainnya yang hendak dirawat di sebuah rumah sakit.

"Jadi gua masuk RS tuh kemaren sore, setelah sakit sesak dan batuk gua enggak kunjung membaik padahal udah minum obat dokter. Akhirnya gua putuskan buat pergi ke RS Rujukan. Sampe sana langsung masuk IGD buat diperiksa, mulai dari ditanya-tanya, cek darah sampe rontgen paru," ujarnya.

Hal ganjil pun mulai dirasakan Fachri ketika ia ditempatkan di salah satu ruang kecil bersama beberapa pasien lainnya. Ruangan yang dinilai Fachri tak layak itu ditempatinya bersama lima pasien di ruang dekontaminasi itu.

"Habis gua rontgen paru, gua dipindahkanlah ke ruang dekontaminasi, itu isinya orang batuk semua. Pokoknya batuk, mau dia terindikasi corona atau enggak digabung di situ. Satu ruangan bisa berisi 4 sampai 5 orang dengan ukuran ruangan yang gua kira paling 2x3 meter," ujar Fachri.

"Di ruangan itu, ada 3 pasien tidur di ranjang pasien dan 2 orang duduk di kursi roda karena enggak muat," sambungnya.

Simulasi penanganan pasien virus corona di RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro. pada Jumat (06/3). Foto: Dok. Pemkab Bojonegoro

Setelah hasil pemeriksaan kesehatan yang menyatakan ia suspect corona, Fachri bersama salah seorang pasiennya dipindahkan ke ruangan isolasi. Status suspect tersebut diberikan dokter kepada Fachri setelah melihat gejala penyakit yang muncul serta berdasarkan riwayat perjalanannya.

"Akhirnya gua dipindahkan ke ruang khusus isolasi pasien COVID-19. Selain gua, ada satu lagi seorang bapak yang juga dipindahkan karena beliau sama kaya gua, pasien suspect COVID-19," beber Fachri.

Alih-alih akan dipindahkan ke ruangan yang lebih layak dari sebelumnya, Fachri kembali ditempatkan yang tak jauh lebih baik dari ruangan dekontaminasi. Di ruangan isolasi itu, ia harus ditempatkan bersama dengan enam orang pasien yang menurutnya tak semuanya memiliki gejala sama sepertinya.

Fahri menuturkan, kondisi semakin diperparah dengan tak seimbangnya jumlah ranjang yang ada dengan jumlah pasien yang saat itu ditangani.

"Ruangan itu cuman ada tiga bed kasur, sedangkan pasiennya ada enam, jadi terpaksa sebagian harus duduk di kursi roda. Gua sendiri duduk di kursi roda dari di ruang dekontaminasi sampe baru dapat kasur tadi pagi," imbuhnya.

kumparan post embed

Seiring berjalannya waktu, dua dari enam pasien dalam ruangan isolasi itu dirujuk ke rumah sakit lain yang memiliki lebih banyak ruang perawatan. Sementara, Fachri bersama tiga orang lainnya memilih untuk menunggu sampai giliran mereka untuk melakukan tes swab.

"Sekitar jam 11 siang kita dites swab oleh tim dokter. Hasil tes swab baru bisa diketahui paling cepat tiga hari. Lama banget enggak tuh? Makanya enggak heran di Mata Najwa Gubernur DKI sama Gubernur Jabar pengen tes mandiri. Soalnya kalau nunggu pusat lama banget," ungkap Fachri.

Singkat cerita setelah tes berakhir, Fachri harus kembali menunggu hasil tesnya selama kurang lebih tiga hari untuk mengetahui apakah ia positif atau negatif terjangkit virus corona. Karantina mandiri pun dilakukannya sembari menunggu pihak rumah sakit mengabarkan hasil pemeriksaannya.

"Setelah tes swab kita semua dianjurkan untuk pulang dan karantina mandiri di rumah sambil nunggu hasil. Kalau positif, ya kita bakal dijemput pake ambulans. Ini juga dilakukan karena jumlah ruang isolasi terbatas, sedangkan jumlah pasien suspect dan positif terus nambah," kata Fachri.

Berangkat dari pengalamannya itu, Fachri pun mengaku sempat bertukar pikiran dengan dokter yang saat itu merawatnya. Dalam percakapan singkat itu, kata Fachri, sang dokter mengakui soal tak siapnya Indonesia dalam menangani corona, hal itu terlihat dari banyaknya angka pasien yang underdiagnosed.

Seorang pria menyemprotkan desinfektan di dalam kantor penukaran mata uang sebagai pencegahan setelah wabah corona di Bangkok, Thailand. Foto: REUTERS / Jorge Silva

Tingginya angka itu tak lain disebabkan karena tak siapnya rumah sakit dalam menangani virus corona.

"Kenapa gua bilang banyak yang underdiagnosed (Jumlah angka official jauh lebih kecil dari jumlah kasus real di lapangan)? ya karena enggak semua orang bisa ngecek dan mau ngecek. Fasilitas kita masih sangat terbatas, bahkan petugas medis yang tangani pasien aja enggak tes swab," katanya.

Tak siapnya Indonesia dalam segi ketersediaan fasilitas untuk menangani lonjakan angka penyebaran corona dipandang Fachri sebagai imbas dari jemawanya Indonesia saat virus tersebut pertama kali menjangkiti warga di Kota Wuhan, China.

Kala itu, Indonesia dinilai menjadi salah satu negara yang tak merasa khawatir dengan mewabahnya corona. Padahal, negara lain dinilainya menanggapi wabah ini dengan serius.

"Pada awal-awal virus ini muncul, kita lebih memilih buat bayar influencer Rp 72 M dan kasih diskon pesawat. Di saat negara lain serius memandang corona, negara ini malah meremehkan. Jangan heran kalau sekarang kita gagap menangani ini. Karena kita enggak siap," tegas Fachri.

collection embed figure

Berbicara potensi virus corona yang menurutnya masih mungkin bertambah penderitanya, dia menilai, dibutuhkan peran lebih dari pemerintah untuk mensosialisasikannya hingga ke masyarakat kelas bawah.

Sosialisasi dinilai penting terutama bagi kelas menengah ke bawah, karena merekalah yang saat ini berdiri di posisi paling rentan. Penilaian paling rentan berdasarkan akses kesehatan yang mayoritas dari mereka sulit memperoleh fasilitas kesehatan terbaik, kondisi permukiman yang buruk pun makin menempatkan mereka pada kelas yang rentan terpapar ancaman virus corona.

"Persoalan tentang corona tidak berhenti di sana. Tapi bagaimana kita mengedukasi masyarakat kelas menengah ke bawah agar sadar dengan isu ini. Karena bagi mereka, kepastian untuk hidup di hari esok lebih menakutkan dibandingkan COVID-19," ujar Fachri.