Bekas Mata-mata China Ungkap Operasi Rahasia di Tiga Negara

kumparanNEWSverified-green

Ilustrasi kota Sydney, Australia, Selasa (19/11).  Foto: AAP Image / Neil Bennett via Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kota Sydney, Australia, Selasa (19/11). Foto: AAP Image / Neil Bennett via Reuters

Pria bekas mata-mata China mengungkapkan operasi intelijen pemerintah Beijing di Hong Kong, Taiwan, dan Australia. Khawatir nyawanya terancam, pria tersebut mengajukan suaka ke Australia.

Diberitakan Reuters, kasus ini diungkap oleh media Australia, The Age, pada Sabtu (23/11). Pria bernama Wang "William" Liqiang itu mengaku telah memberikan semua informasi operasi rahasia China ke Organisasi Intelijen Keamanan Australia atau ASIO.

Menurut Wang, operasi itu bertujuan untuk mencampuri urusan politik dan keamanan negara lain. Wang yang saat ini tinggal di Sydney dengan istri dan anaknya mengaku terlibat aktif dalam ketiga operasi tersebut.

Polisi berjaga di Tiananmen Foto: REUTERS/Thomas Peter

Dalam operasi di Hong Kong, kata Wang, agen-agen intelijen China menyusup di kampus-kampus dan media untuk menjatuhkan gerakan pro-demokrasi. Wang merekrut agen untuk melakukan serangan siber dan mencari orang-orang yang berpotensi jadi ancaman bagi China.

"Mereka mencari informasi soal aktivis pro-kemerdekaan dan mengungkapkan ke publik data pribadi, orang tua, dan anggota keluarga. Tujuannya adalah untuk membuat pengacau di Hong Kong ketakutan," kata Wang.

Wang juga mengungkapkan kepada ASIO nama-nama petinggi militer China yang terlibat dalam operasi di Hong Kong. Salah satu dari mereka, kata Wang, bahkan ditempatkan sebagai manajer senior salah satu stasiun televisi.

Pada 2015, Wang juga yang mengatur penculikan Lee Boo, pemilik toko buku Causeway Bay. Lee dituduh menyebarkan materi-materi pemberontakan di Hong Kong.

Demonstran membuat tameng dari payung saat protes anti-pemerintah di Universitas China Hong Kong di Sha Tin, Hong Kong, Selasa (12/11/2019). Foto: REUTERS/Shannon Stapleton

Di Taiwan, Wang mengaku menjadi bagian dari operasi penyusupan untuk mengacaukan pemilu Januari mendatang. Dengan paspor palsu Korea Selatan, Wang menggunakan petinggi media untuk mempengaruhi pemilih agar tidak mendukung kandidat yang anti-China.

Selain itu, China juga melakukan serangan siber di media sosial untuk mempengaruhi opini publik Taiwan. "Tugas kami di Taiwan adalah yang paling penting, infiltrasi media, kuil-kuil, dan organisasi akar rumput," kata dia.

Seorang pria memegang bendera Taiwan saat perayaan Hari Nasional Taiwan di depan Istana Kepresidenandi Taipe. Foto: AFP/Sam YEH

Di Australia, Wang mengatakan China melakukan operasi-operasi mata-mata melalui perusahaan energi. Dia mengaku telah bertemu dengan agen intelijen China yang ditugaskan di Australia.

"Dia mengatakan kepada saya bahwa dia berbasis di Canberra. Saya tahu posisinya sangat penting," lanjut Wang.

Laporan soal Wang ini menuai kekhawatiran di Australia. Dalam beberapa tahun terakhir hubungan Australia dan China memang tengah menurun, terutama akibat tuduhan mencampuri urusan dalam negeri.

"Laporan ini sangat meresahkan," kata Menteri Keuangan Australia Josh Frydenberg seraya menambahkan bahwa pemerintah akan menangani kasus ini.

Tiananmen Square, China Foto: Denny Armandhanu/kumparan

Di Taiwan, juru bicara partai berkuasa, Partai Demokrasi Progresif, menyerukan warga untuk menyadari bahwa China mencoba mempengaruhi pikiran mereka jelang pemilu tahun depan.

"Kami menyerukan warga Taiwan untuk menyadari fakta bahwa tentara internet China atau pemerintah China menggunakan sistem demokrasi Taiwan untuk mencampuri demokrasi kita," kata juru bicara partai tersebut, Lee Yen-Jong.

Belum ada komentar dari pemerintah China terkait laporan tersebut.