Belajar Adab Bermedsos dari Nasihat Gus Miftah ke Abu Janda

Permadi Arya alias Abu Janda harus berurusan dengan polisi. Sebab ia dilaporkan DPP KNPI ke Bareskrim Polri pada Jumat (28/1). Ia dilaporkan terkait cuitan 'Islam arogan' di akun Twitternya pada 24 Januari 2021.
Kali ini, Abu Janda dipertemukan dengan kader muda Nahdlatul Ulama (NU) Gus Miftah. Dalam kesempatan itu, Gus Miftah ingin mendengar langsung apa maksud Abu Janda menuliskan Islam Arogan dalam komentar terhadap twit dari Ustaz Tengku Zulkarnaen. Pertemuan itu terjadi di podcast Deddy Corbuzier.
Dalam awal obrolan, Abu Janda menjelaskan maksud dari Islam Arogan yakni Islam aliran keras yang menurutnya digunakan oleh Tengku Zulkarnaen. Sayangnya, tulisan itu tidak lengkap disampaikan dalam kolom komentar.
"Yang aku maksud ini adalah aliran Tengku Zul itu Islam yang dari Arab itulah yang Islam aliran Tengku, Islam transnasional yang memang dari Arab," kata Abu Janda.
Gus Miftah menilai, tulisan itu tidak bijak kalaupun penjelasannya ingin mengarah ke salah satu aliran Islam keras. Sebab, komentar itu berdiri sendiri atau pun dikaitkan dengan yang lain tetap menimbulkan polemik.
"Ini sebenarnya kalau seorang Permadi Arya lebih smart ini enggak harus sebesar ini. Kalau begini mau mandiri mau nyambung orang akan susah memahami yang arogan Islam di Indonesia itu adalah Islam. Inilah yang jadi permasalahan," kata Gus Miftah.
Gus Miftah mengatakan, pilihan kata yang tidak tepat membuat orang jadi salah memahami isinya. Abu Janda harusnya bisa memakai kata yang lebih spesifik langsung berkomentar soal aliran Islam yang digunakan Tengku Zulkarnaen dalam tulisannya.
Sehingga orang tak perlu lagi menafsirkan lebih jauh terlebih menilai bahwa yang arogan Islamnya bukan orangnya.
"Saya menganggap seandainya Mas Arya menggunakan konotasinya ke atas model Islam seperti Anda, mungkin orang tidak jadi salah persepsi," tutur dia.
Gus Miftah Nilai Abu Janda Kurang Adab dan Sopan Santun Terhadap Islam
Gus Miftah mengaku telah lama mengamati Abu Janda di akun media sosialnya. Ia menilai, Abu Janda kurang beradab terhadap Islam dan NU.
“Melihat Arya Permadi saya mencatat, kurang adab terhadap Islam apalagi terhadap NU, walaupun sangat hormat kepada Kiai. Kadang-kadang kalau sudah terlalu emosi adabnya berkurang,” kata Gus Miftah.
Gus Miftah menuturkan, ada kalanya seorang itu keras pada orang lain. Namun, harus memperhatikan konteks yang dimaksud terutama menjadi seorang kader NU.
Gus Miftah meminta Permadi Arya memperbaiki gaya komunikasinya terhadap orang lain. Terutama dalam hal sopan santun dan adab berbicara.
"Kurang sopan santun. Di ahlusunnah wal jamaah itu memberikan kontra narasi ke non-ahlusunnah wal jamaah atau orang keras itu boleh tapi tentunya dengan cara baik. Maka kemasannya watawashoubil hakki watawashoubil sobri. Saya berharap ketika seorang Arya memberikan kontra narasi, saya ingin lebih arif lebih beradab sopan santun,” ujar Gus Miftah.
Gus Miftah Kesal Abu Janda Selalu Bawa NU
Gus Miftah marah betul karena apa yang dilakukan Abu Janda selalu dikaitkan dengan NU. Itu harus disikapi dengan bijak oleh Abu Janda dengan memperbaharui diri dengan ilmu dan konsep sebagai warga NU.
"Netizen tahunya Abu Janda itu orang NU dan saya tidak bisa, ow bukan, karena NU di Indonesia itu 49,5% dari populasi. Artinya begitu besar mungkin karena kecintaan beliau. tapi tentunya kecintaan itu harus di-upgrade-lah," kata Gus Miftah.
"Tapi karena beliau mengaku orang NU dan selalu saja ketika beliau ada masalah dikaitkan dengan NU, gimana sih kader NU seperti itu itu kah anak buahnya Gus Yaqut? Kasihan Gus Yaqut," tambah dia.
Gus Miftah Minta Abu Janda Ngaji Lagi, Belajar Lagi
Terakhir, Gus Miftah meminta pria kelahiran Cianjur itu untuk mengaji lagi lebih dalam sehingga tahu betul apa konsep Islam, terlebih Islam Wasatiyah yang dijalankan NU.
"Saya sarankan lebih banyak ngaji lagi. Bila perlu saya saja masih pengin. Beliau (Abu Janda) menyiapkan waktu datang ke kiai NU atau kepada siapa belajar bagaimana Islam Wasatiyah," kata Gus Miftah.
"Memang saya pikir itu. Hari ini saya ingin kalau Anda cinta dengan NU belajar dengan kiai NU yang beneran, sowan. Jangankan sampean, PKI ngaji sama saya aja ada kok. Karena kalau pulang dari tempat saya enggak jadi PKI lagi," sambung Gus Miftah sambil tertawa.
Gus Miftah meminta Abu Janda menjaga nama baik NU. Pasalnya selama ini masyarakat mengenal Abu Janda sebagai orang NU.
“Apalagi di mana-mana orang tahunya beliau ini orang NU bro. Padahal di NU itu memahami konsep wasatiyah moderat,” ucapnya.
Abu Janda Sebut Dirinya Striker di Medsos dan Sampaikan Permohonan Maaf
Dalam warau,Abu Janda menyebut dirinya sebagai seorang striker.
"Aku tuh seorang striker ya, aktivitasku di media sosialku itu adalah aku suka meng counter twit yang provokatif. Jadi itu sebenarnya itu bukan twit mandiri, bukan twit tunggal. Yang ku posting di timeline twit aku yang respons terhadap twit Tengku Zulkarnaen," jelas Abu Janda.
Ia juga memberikan sejumlah klarifikasi dan permohonan maaf.
"Saya sekali lagi terima kasih, maaf sudah ngerepotin, kalo debat itu begitu bang, debat panas kadang otak enggak sinkron sama jempol kan," ujar Abu Janda kepada Gus Miftah dan Deddy.
Abu Janda kembali mengucapkan permintaan maafnya. Karena cuitannya, situasi menjadi panas dan menimbulkan kesalahpahaman.
"Jadi aku di akhir, Gus Kiai maafin telah terjadi kesalahpahaman ini, maafkan aku telah merepotkan dari tanggal 28 Januari," ucap Abu Janda.
Gus Miftah mengatakan, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, dan yang paling mulia adalah manusia yang bersedia untuk introspeksi diri.
