Berebut Kampus Impian, Ada yang Gagal tapi Dapet Kuliah di Luar Negeri
ยทwaktu baca 3 menit

Puluhan ribu cuitan membanjiri media sosial Twitter terkait SNBT hingga menjadi trending topic, usai pengumuman hasil seleksi Ujian Tulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2023 pada Selasa (20/6), pukul 15.00 WIB.
Ada cuitan gembira karena lolos masuk kampus impian, namun ada juga yang mengekspresikan kekecewaannya sebab gagal pada tahap tersebut.
Berdasarkan data yang disampaikan oleh Ketua Umum SNPMB Mochamad Ashari, peserta yang lolos UTBK SNBT tahun ini sebanyak 223.217 dari total pendaftar 803.852 dengan kuota diterima sebanyak 259.635.
Prodi yang paling ketat persaingannya ditempati Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Daya tampung prodi tersebut hanya 27 kursi, tetapi yang daftar mencapai 3.176.
"Prodi ilmu komunikasi Universitas Negeri Jakarta memperoleh nilai keketatan sebesar 0,85 persen. Ini, bisa dikatakan dalam 100 pendaftar hanya satu yang diterima," ujar Ketua Umum SNPMB, Mochamad Ashari, Selasa (20/6).
Perjuangan Mereka demi Masuk Kampus Impian
Setiap murid memiliki cara dan strategi masing-masing dalam mempersiapkan ujian. Difa, siswa SMAN 1 Jakarta, mengaku pernah belajar UTBK selama perjalanan udara di pesawat.
Rela latihan soal sampai tempat bimbelnya tutup juga bukan hal baru baginya, semua itu demi diterima di kampus impian. Namun, seperti murid pada umumnya, ada saat Difa juga merasa kelelahan dan akhirnya tak begitu banyak menghabiskan waktu belajar.
"Ngerjainnya di pesawat dari Banjarmasin ke Jakarta. Kadang try out capek, ada juga yang ngerjain malas-malasan dan ngerjain di detik terakhir malah hasilnya bagus langsung 620, tertinggi waktu itu," ujar Difa.
Kini, Difa dinyatakan diterima di Teknik Industri UPNVJ, pilihan kedua Difa saat UTBK. Meski begitu, ia tetap akan mencoba jalur mandiri demi masuk Universitas Indonesia.
Kisah lain dari Anaka, siswa asal Pekanbaru yang juga atlet wushu dan atlet tembak. Ia dinyatakan lulus UTBK SNBT tahun ini.
Tapi, perjalanan Anaka tak mudah. Sehari-hari ia akan sekolah, latihan atlet sore hingga malam, bimbel, lalu bangun lagi jam 4 subuh untuk belajar.
"Dari SD aku sudah aktif jadi atlet. Karena itu aku udah bisa dengan berjuang, bersaing, dan mengurangi waktu bermain. jadi karena terbiasa dengan pola itu aku tertantang untuk ambil UTBK," ujar Anaka.
Gagal Tes Masuk Kampus Idaman di RI, tapi Dapat di Malaysia
Euforia para mahasiswa yang diterima kampus impian mengingatkan Boexel, mahasiswa angkatan 2020 dari Pekanbaru, pada momen yang dia lalui saat itu. Bedanya, Boexel menerima pengumuman kegagalan.
Boexel tak langsung putus asa, setelah dinyatakan tak lolos syarat SNMPTN dan juga jalur mandiri di kampus UI, ia segera mencari jalan keluar lain. Ia memutuskan untuk hijrah ke Malaysia.
"Setelah research lagi dan konsul bersama salah satu agen pendidikan luar negeri di Pekanbaru, akhirnya pilihanku jatuh ke kampus Taylor's University," ujar Boexel.
Alasannya, jurusan yang dia pilih, yakni bisnis, menawarkan dual 2 ijazah dari 2 kampus, di antaranya Taylor's university dan University of West England di Bristol, UK.
Boexel bilang, dia terus optimistis meneruskan masa depan meski pernah gagal masuk di kampus impian. "Rencana Tuhan gak akan pernah salah," tutupnya.
