Beredar Tulisan #DukungKPK- #TangkapNova di Jalanan di Aceh, Ini Kata Pemda
·waktu baca 3 menit

Tagar bertuliskan dukungan terhadap KPK dan tangkap Nova, bertebaran di sejumlah titik lokasi di Banda Aceh. Belum diketahui siapa pelaku dari aksi vandalisme tersebut.
Pantauan kumparan tulisan #DukungKPK dan #TangkapNova itu, tertulis di kawasan flyover Beurawe, Simpang Surabaya, jembatan Pango, hingga ke jembatan kawasan Darussalam, Aceh.
Diketahui tagar tersebut sudah tertulis sejak Kamis (24/6) pagi. Namun, saat kumparan mengecek ke lokasi beberapa tulisan tampak telah dihapus.
Seperti di kawasan jembatan Darussalam, tagar bertuliskan #TangkapNova telah dihapus, namun tulisan dukungan terhadap KPK masih tertulis dengan rapi.
Hingga saat ini belum diketahui siapa pelaku dari aksi vandalisme tersebut. Nova yang dimaksud di tulisan itu diduga mengarah ke Nova Iriansyah yang menjabat gubernur Aceh.
Dikonfirmasi terpisah, Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, juga tidak mengetahui pelaku dari aksi-aksi itu.
“Menurut kami sikap menghakimi seseorang, siapa pun dia itu tidak baik karena berkenaan dengan martabat seseorang,” kata Muhammad saat dikonfirmasi.
Muhammad mengatakan, pihaknya berharap kepada semua pihak tidak memberikan asumsi negatif terhadap penyelidikan yang saat ini tengah dilakukan oleh KPK di Aceh.
“Kita hanya bisa berharap kepada semua pihak, agar tidak melakukan justifikasi apa-apa terhadap asumsi dari penyelidikan yang sedang dilakukan KPK,” ujarnya.
“Kami hanya bisa berharap kita hargai kerja-kerja lembaga penegak hukum tanpa melangkahi proses hukum,” tambahnya.
Untuk diketahui, sejak Senin (21/6) penyelidik KPK telah berada di Aceh. KPK dikabarkan sedang menyelidiki suatu kasus dugaan korupsi di Aceh. Pemeriksaan itu diduga terkait pengadaan Kapal Aceh Hebat dan proyek Multi Years Contract (MYC).
Sejumlah pejabat daerah pun turut diperiksa oleh penyelidik. Salah seorang di antaranya, mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh, Azhari.
Azhari diperiksa di Gedung BPKP Aceh, dalam pemeriksaan itu ia dicecar sejumlah pertanyaan terkait proses perencanaan hingga pengadaan kapal Aceh Hebat.
“Mereka (penyidik KPK) bertanya bagaimana prosesnya, kita jelasin dari sisi perencanaannya. Kalau saya sampai perencanaannya saja ditanya,” kata Azhari kepada wartawan Selasa (22/6).
Proyek Kapal Aceh Hebat
Proyek kapal Aceh Hebat bermula pada Oktober 2019. Ketika itu, Pemprov Aceh memesan 3 unit kapal feri RoRo untuk melayani rute pelayaran di tiga pulau di Aceh, yaitu Singkil-Pulau Banyak, Balohan Sabang-Pelabuhan Ulee Lheue, dan Lintasan Barat ke Pulau Simeulue.
Tiga kapal feri RoRo yang dipesan Pemprov Aceh masing-masing berkapasitas 1.300 GT. Pengerjaan 3 kapal tersebut dilakukan tiga perusahaan berbeda. Ketiga kapal tersebut kemudian diberi nama Aceh Hebat 1, Aceh Hebat 2, dan Aceh Hebat 3
Kapal Aceh Hebat 1 dikerjakan T MOS. Kapal ini akan melayani rute Labuhan Haji – Simeulue atau Kuala Bubon – Simeulue, begitu pula sebaliknya.
Sedangkan kapal Aceh Hebat 2 yang memiliki bobot 1.100 GT dikerjakan PT Adiluhung Saranasegara di Bangkalan. Kapal itu melayani pelayaran dari Singkil ke Pulau Banyak.
Terakhir, kapal Aceh Hebat 3 yang berbobot 600 GT dikerjakan PT Citra Bahari Shipyard di Tegal. Kapal itu akan melayani rute Ulee Lheue ke Balohan.
Kapal Aceh Hebat merupakan hasil dari program pengadaan kapal feri RoRo di bawah Dinas Perhubungan Aceh dengan anggaran Rp 178 miliar. Kapal itu diharapkan bisa meningkatkan konektivitas antar pulau di Aceh.
