Manusia Digigit Komodo adalah Berita Besar

Bagi orang yang belum mengenal komodo, gigitan komodo bisa dianggap peristiwa sepele, seperti peristiwa digigit hewan besar lainnya.
Namun bagi yang sudah mendengar keganasan komodo, berita soal manusia yang digigit komodo adalah berita besar.
Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Kepala Taman Nasional Komodo Sudiyono, Jumat (5/5), seperti dilansir Antara. Hal ini terkait dengan kasus serangan komodo kepada turis Singapura, Loh Lee Aik, yang berjalan seorang diri berburu foto komodo. Loh digigit di betis kiri.
Bagi yang sudah mendengar keganasan komodo, berita soal manusia yang digigit komodo adalah berita besar.
Pernyataan Sudiyono tentu tanpa alasan. Sebab komodo, spesies yang diperkirakan hidup sejak 40 juta tahun silam, termasuk hewan ganas. Air liurnya mengandung racun. Bila korban serangan tak segera mendapat pengobatan yang baik, ajal tinggal menunggu waktu. (Baca juga: Turis Asing yang Hilang pada 1974 Kemungkinan Dimakan Komodo)
Efek Gigitan Komodo
Kepala Laboratorium Herpitologi Puslit Biologi LIPI Amir Hamidy mengatakan air liur komodo mengandung banyak jaringan bakteri. βDia juga memiliki kelenjar racun,β terang Amir kepada kumparan, Kamis (4/5).
Penelitian terkait efek gigitan komodo pernah dilakukan oleh sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Dr Bryan Fry dari University of Melbourne pada 2009. Ia mengatakan, komodo yang bernama latin Varanus komodoensis ini memiliki kelenjar racun paling kompleks yang belum pernah terjelaskan. Kelenjar racun itu mirip dengan kelenjar racun pada Megalania, kadal raksasa paling berbisa yang kini telah punah.

"Reptil karnivora besar ini diketahui menggigit mangsa dan melepaskannya, membiarkan mangsanya berdarah sampai mati akibat luka mengerikan yang ditimbulkan. Ini merupakan gabungan senjata mematikan dari gigi dan racun komodo yang berperan dalam kecakapan berburu mereka,β kata Dr Fry sebagaimana dikutip dari ScienceDaily.com.
Jika gigitan komodo tak langsung membunuh sang mangsa atau mangsa tersebut dapat melepaskan dan melarikan diri, umumnya mangsa yang terluka akibat gigitan komodo akan mati dalam waktu satu minggu akibat infeksi.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr Fry menguji efek dari racun komodo yang ternyata setara mengerikannya dengan bisa banyak ular. Racun komodo dapat menyebabkan efek langsung terhadap mangsanya berupa penurunan tekanan darah yang signifikan, serta pelebaran pembuluh darah. Hal ini menimbulkan syok pada mangsanya.
Dr Frey menjelaskan, racun itulah yang menjadi penyebab mangsa komodo tiba-tiba menjadi kaku dan diam secara janggal setelah digigit.
Tak hanya diam kaku, mangsa yang digigit juga akan mengucurkan darah terus-menerus. Racun pada komodo bahkan mampu memperlama proses pendarahan.
Dampak mematikan gigitan komodo selengkapnya bisa dibaca di Efek Menakutkan Gigitan Komodo.

