kumparan
23 September 2019 11:39

Bertaruh Nyawa dalam Kepungan Asap

LIPSUS, Asap karhutla di Riau
Warga beraktivitas di tengah asap kebakaran hutan dan lahan di Riau. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Nuri Andre Labamba terbangun dari tidurnya. Anak ketiganya, Adelia, mendadak memuntahkan isi perutnya—untuk kali ketiga dalam semalam. Dari kerongkongannya, Adel mengeluarkan dahak kental hijau kekuningan. Bocah tujuh tahun itu mengeluh dadanya sesak dan kepalanya pusing. Ia begitu lemas, sampai-sampai untuk menenggak air putih saja tak mampu. Alhasil, Nuri panik bukan main. Ingatannya melayang ke momen pahit delapan tahun lalu, Januari 2011, kala anak keduanya, Akbar, meninggal karena terpapar asap karhutla (kebakaran hutan dan lahan). Kini, asap yang sama kembali mengepung kediamannya di Rumbai, Pekanbaru, Riau. Nuri takut asap itu kini mengintai nyawa Adel.
Akbar berusia dua tahun ketika asap merenggutnya dari pelukan Nuri. Ia terbaring dalam kondisi koma selama tiga bulan, sebelum akhirnya benar-benar pergi. Selang oksigen yang selama delapan bulan menempel lekat di hidungnya, tak dapat menolongnya. “Hasil MRI menunjukkan paru-paru kanannya rusak berat. Dokter di Jakarta mengatakan itu akibat terpapar asap,” ucap Nuri—lirih, perih. Asap benar-benar jadi petaka dalam hidupnya.
LIPSUS, Bencana Asap Nasional,
Balita bernama Zikra menghirup oksigen dari tabung melalui selang di Riau. Foto: ANTARA/FB Anggoro
Akbar sudah setahun penuh menderita sebelum meninggal. Ia sering batuk-batuk dan kesulitan bernapas sejak usia sembilan bulan. Ia terpapar asap karhutla berbulan-bulan hingga akhirnya kejang-kejang dan sesak napas hebat.
“Maret 2009, saat itu kondisi asap parah. Saya baru saja (selesai) cuti (melahirkan). Karena anak saya (Akbar) tidak ada yang menjaga, saya selalu menitipkan dia di rumah orang tua yang dekat dengan tempat kerja saya,” kata Nuri.
Nuri ialah guru di SDN 003 Rumbai. “Saya berangkat naik motor. Dulu, saya gendong Akbar dengan gendongan bayi. Saya hadapkan wajahnya ke dada saya, dan saya tutup dia dengan bedong. Jadi saya pikir ia tidak langsung menghirup asap,” ujar Nuri, terisak.
Akbar masih tiga bulan saat itu. Malang tak dapat ditolak, perjalanan pulang-pergi 30 menit sehari-hari itu membuat asap terkutuk menyusup ke paru-paru sang bayi.
Akbar menjalani pengobatan rawat jalan di rumah sakit swasta setempat, sebelum masuk ICU dalam kondisi koma, sampai kemudian dirujuk ke RS Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta untuk dirawat intensif. Semua upaya itu tak berhasil. Paru-paru Akbar kadung rusak.
LIPSUS, Bencana Asap Nasional,
Bermain di posko kesehatan di Pekanbaru. Foto: ANTARA/FB Anggoro
Sekarang, ketika melihat kondisi kesehatan Adelia memburuk, Nuri bergegas mengungsi ke posko kesehatan yang difasilitasi Dewan Pengurus Wilayah PKS Provinsi Riau. Posko itu berlokasi 45 menit perjalanan dari rumahnya. Meski posko itu bukannya terletak di zona bebas asap, namun setidaknya terdapat mesin pendingin udara (air conditioner) dan pembersih udara (air purifier) untuk menyaring udara di dalam posko.
Sehari-hari kini, Nuri dan Adel berada di posko yang memberikan pelayanan kesehatan dan makanan itu. Kebetulan Nuri tak harus bekerja karena sekolah tempatnya mengajar meliburkan murid-muridnya selama kabut asap masih menyerbu Riau. Suami Nuri pun ikut mengungsi. Sepulang kerja pada malam hari, ia langsung menuju posko.
LIPSUS, DARURAT ASAP,  Asap karhutla di Riau.
Asap karhutla menyelimuti Pekanbaru. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Kabut asap kembali merajalela di Sumatera dan Kalimantan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan seluas 328 ribu hektare yang tersebar di 5.000 titik di seluruh Indonesia.
Titik api terbanyak berada di lima provinsi, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Di kelima wilayah itu, kualitas udara masuk kategori berbahaya, dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berkisar di angka 200 hingga 300. Padahal, udara dengan kualitas baik berada di kisaran 0-50, sedangkan kualitas sedang di angka 51-100. Sementara di atas 100, udara sudah tak sehat.
Langit di Kumpeh Ilir, Muaro Jambi, sampai berwarna merah pekat pada Sabtu siang (21/9), menandakan indeks pencemaran udara yang gawat di wilayah itu. Langit berubah merah karena sinar matahari tak sampai permukaan tanah akibat terhalang asap karhutla.
Kepala BMKG Jambi Addi Setiadi menyatakan, situasi gawat bisa berkurang bila angin kencang bertiup di Kumpeh Ilir, diikuti guyuran hujan. Masalahnya, kata dia, “Berdasarkan prediksi kami, hujan di Jambi baru akan turun pada pertengahan Oktober.” Betul-betul celaka.
Tak heran, masyarakat—khususnya kelompok rentan seperti anak-anak dan orang lanjut usia—terserang berbagai gangguan kesehatan mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata, iritasi kulit, asma, pusing, batuk berkepanjangan, sampai pneumonia atau radang paru-paru. Paling parah, asap itu menelan korban jiwa seperti yang dulu terjadi pada Akbar, putra Nuri.
LIPSUS, DARURAT ASAP, Rumah Singgah Korban Asap di Pekanbaru, Riau
Warga yang terpapar asap karhutla menghirup oksigen di Rumah Singgah Korban Asap, Pekanbaru. Foto: ANTARA/Rony Muharrman
Kementerian Kesehatan mencatat, sudah lebih dari 100 ribu orang mengalami infeksi saluran pernapasan akut akibat asap karhutla. Sepanjang bulan ini saja, 1-15 September 2019, penderita ISPA di Riau mencapai 15.346 orang. Angka itu menyusul jumlah penderita ISPA di Jambi selama Juli-Agustus yang mencapai 15.047 orang.
Sementara di Sumatera Selatan, sepanjang Maret-September, mereka yang terkena ISPA berjumlah 76.236 orang, dengan penderita terbanyak berasal dari kota Palembang. Di Kalimantan Barat, terdapat 20.890 orang terserang ISPA pada September ini.
Di Riau, dinas kesehatan setempat mendistribusikan lebih dari 1,5 juta masker untuk masyarakat dan membuka posko-posko kesehatan di seluruh kabupaten dan kota. Terdapat 232 puskesmas dan 71 rumah sakit yang juga bertindak sebagai posko kesehatan. Tiap posko menyiapkan satu ruang singgah.
“Ruangan tersebut membantu masyarakat yang sudah tidak kuat lagi dengan suasana udara di luar. Mereka bisa datang ke puskesmas sebagai rumah singgah,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Mimi Yuliani Nazir kepada kumparan, Rabu (18/9).
Sementara Dinas Kesehatan Kota Palangkaraya di Kalimantan Tengah menyiapkan 12 ruangan oksigen untuk warga yang merasa kekurangan udara bersih.
Darurat Asap
Darurat Asap. Infografik: Argy Pradipta/kumparan
Kepungan asap yang amat pekat membuat jarak pandang hanya 1,5 kilometer. Dengan kondisi seperti ini, penglihatan sama terganggunya dengan pernapasan. Kala bernapas sudah cukup sulit, bepergian ke mana-mana pun jadi tak kalah sulit.
Dinas Pendidikan Provinsi Riau pun meliburkan sejumlah sekolah sampai waktu yang belum ditentukan. Saat ini, sekitar 819 ribu murid di Riau tak bersekolah. Disdik Riau menginstruksikan dalam surat resminya agar sekolah meliburkan siswanya apabila Indeks Standar Pencemar Udara berada pada level berbahaya pada angka 200-299 seperti yang terjadi saat ini.
LIPSUS, DARURAT ASAP, Rumah Singgah Korban Asap di Pekanbaru, Riau
Murid SD dipulangkan ke rumah akibat kabut asap di Pekanbaru. Foto: AFP/Wahyudi
“Di Pekanbaru ini, jadwal libur atau tidak itu diinformasikan per hari karena ISPU kan berbeda-beda tiap hari. Kalau ISPU di atas 200, anak-anak diliburkan. Kalau sudah di atas 300, guru juga diliburkan,” kata Kepala Sekolah SMA 1 Pekanbaru Wan Roswita.
Total, berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, terdapat sedikitnya 3,8 juta siswa-siswi di enam provinsi terdampak kabut asap yang terganggu proses belajarnya. Itu belum termasuk mereka yang bersekolah di madrasah atau pesantren.
Aktivitas lain yang terdampak asap adalah penerbangan. Terdapat 11 bandara di Riau, Aceh, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur yang kegiatan operasionalnya terganggu akibat jarak pandang pendek di kisaran 300 meter sampai 2.000 meter saja. Padahal, jarak pandang minimal adalah 3.500 meter.
Jarak pandang yang berbahaya bagi penerbangan itu membuat berbagai maskapai membatalkan penerbangan. Lion Air Group misalnya telah membatalkan lebih dari 100 penerbangan ke Sumatera dan Kalimantan sepanjang September ini.
Video
Untuk menangani asap karhutla yang tahun ini begitu ganas, pemerintah antara lain melakukan water bombing, modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan, dan mengembalikan habitat gambut yang selalu basah atau berair.
Kepala BNPB Doni Monardo menyatakan temuannya bahwa gambut yang terbakar di sejumlah lokasi amat kekurangan air.
“Kodrat gambut itu harus basah. Ketika gambut kering, dia menjadi bahan bakar bahan yang mudah terbakar. Apalagi kalau sudah sekian lama kondisi gambut dibiarkan kering, lalu dibakar. Itu sama dengan menyalakan bahan bakar,” kata Doni.
Mantan Pangdam Pattimura dan Pangdam Siliwangi itu mengatakan, keringnya gambut tak lepas dari buruknya pengelolaan lahan oleh industri perkebunan. Ia menambahkan, pembakaran lahan gambut kerap menjadi awal pembukaan lahan.
“Kalau dilihat secara keseluruhan, (asap) ini 99 persen karena manusia, dan 80 persen lahan yang terbakar itu kelak jadi kebun,” ujar Doni.
Itu sebabnya ia hendak mengembalikan habitat gambut seperti asalnya yang berair. Rawa gambut digenangi air dapat menjadi tempat budi daya ikan gabus yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Dengan demikian ke depannya, harap Doni, masyarakat tak perlu bergantung pada mata pencaharian di perkebunan sawit saja.

Tahun ini aneh karena yang terbakar bukan hanya gambut, tapi juga tanah liat—tanah podsolik merah kuning. Saya 32 tahun di Riau, nggak pernah sebelumnya ada sejarah tanah kuning ikut terbakar. Malah ini sebarannya serentak di 11 kabupaten. Sekali terbakar itu lima-enam titik dalam satu hamparan, kayak mercon. Padahal biasanya ciri-ciri hutan atau kebun terbakar itu dimulai dari satu titik, baru menyebar. Bukannya sekali muncul lalu titik apinya kayak lomba lari.

- Gulat Medali Emas Manurung, Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan