BGN Ungkap 83,6% Pemasok Bahan Baku MBG dari UMKM: Kita Terus Perkuat Verifikasi

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Berkah Dapur MBG bagi Usaha Ayam Potong Karanganyar, Pasok Hingga 2,3 Ton Daging Segar per Hari. Foto: Dok. Bakom RI
zoom-in-whitePerbesar
Berkah Dapur MBG bagi Usaha Ayam Potong Karanganyar, Pasok Hingga 2,3 Ton Daging Segar per Hari. Foto: Dok. Bakom RI

Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat 83,6 persen dari sekitar 80 ribu pemasok bahan baku program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

BGN kini mendorong pengembangan platform marketplace Loka MBG untuk memperkuat verifikasi pemasok sekaligus memastikan asal-usul dan kualitas bahan pangan yang digunakan dalam program tersebut.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, rantai pasok MBG melibatkan berbagai pelaku usaha dan kelompok masyarakat. Selain UMKM, pemasok juga berasal dari koperasi, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), kelompok tani (Poktan), hingga gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang tersebar di 38 provinsi.

"Kami sudah ada 83,6% dari 80.000 pemasok itu adalah UMKM, sisanya adalah koperasi, BUMDes, Poktan, Gapoktan, di 38 provinsi," kata Sudaryono di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta, Jumat (30/10).

Doorstop Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendidasmen) Abdul Mu'ti dan Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono di gedung Kemendikdasmen, Jumat (30/10/2026). Foto: Pradya/kumparan

Meski jumlah pemasok telah mencapai sekitar 80 ribu, Sudaryono mengatakan BGN masih membutuhkan pemasok yang telah melalui proses verifikasi atau verified supplier. Langkah ini diperlukan untuk memastikan bahan pangan yang dipasok memenuhi standar dan memiliki asal-usul yang jelas.

"Jadi sebetulnya keterlibatan dari pemasoknya sudah, hanya memang kita butuh pemasok yang verified supplier namanya, ya. Kami sudah rapat dengan jajaran di Kementerian Dikdasmen terkait SIP-lah ini," ujarnya.

Melalui sistem verifikasi tersebut, BGN ingin menelusuri asal bahan pangan yang dibeli, termasuk proses penyimpanannya sebelum didistribusikan ke dapur MBG.

"Dengan verified supplier tadi kita bisa tahu Pak, supplier itu origin-nya dari mana telurnya? Kemudian ayamnya dari mana? Kemudian ikannya dari mana? Disimpan seperti apa gitu. Jadi ini kita harus memastikan itu," jelasnya.

Sudaryono mencontohkan, verifikasi diperlukan untuk mencegah pembelian bahan pangan yang tidak memenuhi standar kualitas. Salah satu yang ia soroti adalah pembelian daging ayam yang sudah tidak segar karena pemasok mempertimbangkan harga lebih murah.

"Jangan sampai orang beli ayam yang harusnya segar, enggak, dia beli tuh ayam yang disembelih subuh, dia beli sore-sore karena akhir sore makin murah. Karena makin murah maka kondisi ayamnya udah enggak fresh sehingga menyebabkan gangguan kesehatan karena karena emang dia ambil dari bahan-bahan yang tidak standar," tutup Sudaryono.